Mohon tunggu...
syarifah yaumhafila
syarifah yaumhafila Mohon Tunggu... Mahasiswa - mahasiswi

hi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Fandom K-pop: Bukan Hanya Mendukung Idol tetapi Cara Baru Mendukung Aktivisme Sosial maupun Politik

14 Juni 2021   19:30 Diperbarui: 15 Juni 2021   07:45 631
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dalam dua dekade terakhir ini budaya Korea mengalami perkembangan yang sangat pesat di dunia, fenomena ini disebut Korean Wave atau bisa juga disebut Hallyu. perkembangan budaya yang pesat ini sudah mampu menyaingi tren-tren barat seperti filmnya, drama serta musiknya. Yang mendukung penyebaran luas budaya korea didunia ini ialah dikarenakan mulai banyak orang internasional tertarik dengan musik pop yang berasal dari korea selatan atau yang biasa dikenal sebagai K-pop. Korean-pop atau disingkat K-pop akhir-akhir ini menarik banyak perhatian dari kalangan publik didunia.

Namun yang ingin saya bahas disini bukanlah mengenai apa itu K-pop tetapi fokus akan pengaruh Fans atau Fandom para penggemar K-pop yang bisa dibilang dapat menjadi kekuatan baru dalam mendukung banyak aktivisme politik serta sosial melalui Sosial Media. fans kpop atau fandom Kpop adalah sekumpulan/sekelompok orang yang mendukung atau menggemari K-pop. 

Para fans Kpop biasa memberikan dukungan kepada idol mereka seperti membeli album, atau segala merchandise official yang dikeluarkan perusahaan yang menaungi idol mereka, lalu ad acara lain juga yang untuk mendukung idol seperti menonton musik video yang dikeluarkan idol mereka, lalu mendukung comeback segala aktivitas atau scadule baru idol mereka di berbagai platform sosial media seperti twitter, dll. 

Kekuatan dukungan para fans Kpop untuk idol mereka sangat luar biasa seperti saat comeback BTS, BTS mendominasi trending topic worldwide di twitter dengan hashtag mereka. Namun belakamgan ini kekuatan fans Kpop di sosial media ini digunakan fans bukan hanya untuk mendukung idol mereka namun juga bisa digunakan untuk mendukung sejumlah aktivisme sosial serta politik.

Fans K-pop yang semakin lama semakin bertambah banyak di seluruh penjuru dunia ini menunjukan eksistensinya di sosial media sebagai sumber kekuatan baru dalam mendukung akivisme-aktivisme sosial serta politik seperti penggalangan dana, petisi serta menaikan hashtag beberapa isu-isu yang terjadi di dunia. Dampak yang diberikan dari dukungan ini tidak bisa dipandang remeh, dengan menggunakan kekuatan sosial media para fans k-pop bisa menyebarkan informasi serta kesadaran terhadap banyak kalangan pengguna sosial media karena dapat membuat trending isu tersebut.

Pada tahun 2020, para Kpopers (sebutan fans K-pop) indonesia menyebarkan kesadaran akan isu pembakaran hutan di Papua dengan manaikan hashtag #SavePapuaForest untuk mendapatkan banyak perhatian dari public. Bukan hanya hal itu para Kpopers juga mengumpulkan dana untuk pelestarian hutan di Papua, seperti yang dilakukan salah satu fandom K-pop, Nctzen (nama fandom penggemar NCT, salah satu boygrup asal Korea selatan) di Indonesia menggalang dana pada november 2020 lalu.

Bukan hanya isu mengenai perubahan iklim, para fans Kpop juga menunjukan dukungan meraka terhadap Gerakan #BlackLivesMatter, saat itu banyak akun-akun fans k-pop diseluruh dunia yang berkerja sama untuk tidak menaikan hashtag idol mereka agar hashtag BLM tetap menjadi trending topic. Selain itu fandom dari salah satu boyband korea selatan BTS yang disebut ‘ARMY’ berhasil melakukan penggalangan dana yang nominalnya sama dengan yang dikumpulkan idolnya senilai US$1 juta untuk membantu Gerakan BLM (IDN TIMES)

Selain itu fandom Kpop juga merambah ke isu politik, pada 20 juni 2020 para pengguna tiktok serta fan k-pop di twitter berhasil menyabotase kampanye pilpres Presiden AS Donald Trump di Tulsa, Oklahoma. Caranya mereka memesan tiket (tiketnya dibagikan secara gratis) untuk menghadiri kampanye Trump, tim kampanye Trump gembira dengan jumlah pendaftar online yang melebihi kapasitas. 

Brad Parscale, manejer kampanye Trump cukup percaya diri meng-tweet jumlah yang akan hadir di acara Trump mencapai 1 juta orang. Namun semua itu ternyata hanya kebohongan, karena mereka (fan K-pop) hanya memesannya namun tidak mengikuti kampanye tersebut. Kampanye itu hanya di datangi oleh 6.200 orang jauh dari jumlah yang dibayangkan oleh tim kampanye Trump.

Menurut saya kekuatan fandom K-pop ini sudah tidak bisa dipandang remeh, fandom k-pop bisa dibilang sangat berpengaruh di sosial media. Belum lagi pada zaman milenial ini kebanyakan informasi dan segala macam isu serta menjadi platform mendiskusikan suatu isu ini dilakukan di sosial media, oleh karena itu kekuatan fandom K-pop bisa menjadi cara baru dalam menaikan suatu isu agar banyak orang lebih sadar dan tahu akan isu-isu yang terjadi di dunia. Kalangan-kalangan muda biasa dilihat tidak peduli akan isu-isu sosial seperti perubahan iklim dan sebagainya namun dengan adanya fandom K-pop yang mayoritas diisi oleh kaum milenial seperti gen Z bisa dapat memberikan banyak manfaat sebagai penerus dunia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun