Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis - Dosen

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Konsultan di DSS Consulting sekaligus Edukator Dana Pensiun. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 31 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bcaaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sudah Saatnya Kamu Bersanding, Kenapa?

3 Maret 2021   07:12 Diperbarui: 3 Maret 2021   07:29 82 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sudah Saatnya Kamu Bersanding, Kenapa?
Sumber: TBM Lentera Pustaka

Sudah saatnya kamu bersanding. Apalagi di saat pandemi Covid-19. Kenapa?

Hampir semua orang pacaran. Ingin bersanding hingga ke pelaminan. Seperti semua mahasiswa pun ingin bersanding dengan ijazah pada akhirnya. Bersanding itu berarti "berjajar atau berdampingan". Atau duduk bersebelahan. Jadi, bersanding seperti dekat bila dilihat secara fisik. Secara kasat mata semata. Tapi belum tentu secara moral, secara hati nurani.

Di era digital kini, pun banyak orang duduk bersebelahan. Secara fisik dekat. Tapi sayang, satu sama lainnya justru sibuk bermain gawai. Mereka berdampingan tapi tidak saling bicara, tidak saling menyapa. Karena asyik dengan gawainya. Terlalu asyik dengan dirinya sendiri.

Bersanding atau berdampingan itu hanya simbol. Dekat belum tentu menyatu. Fisiknya dekat tapi hatinya jauh. Maka bersanding bukan soal fisik. Tapi urusan moral. Seperti dunia itu fisik. Tapi akhirat itu moral. Bekerja mencari uang itu fisik. Tapi mau berbagi kepada anak yatim itu moral. Agar tercipta "keseimbangan". Bersanding agar seimbang; dunia dan akhirat. Seimang fisik dan moral. Tidak hanya bertepuk sebelah tangan. Enak di diri sendiri. Tapi orang lain tetap menderita.

Bersanding pun harus ada di taman bacaan. Esensi taman bacaan tidak hanya soal buku atau anak. Tapi hadirnya orang dewasa untuk mendampingi anak-anak yang membaca sangat penting. Sebuah komitmen dan konsistensi. Karena hidup pun tidak melulu soal "ke atas" tapi "ke samping". Agar seimbang.

Bersanding itu sangat manusiawi. Untuk menjaga keseimbangan.

Setiap orang pasti punya hak tapi juga punya kewajiban. Ada gembira pun ada sedih. Ada kaya ada miskin. Ada saat mencari, ada saat untuk memberi. Maka siapa pun, bila berani membenci maka harus berani pula memuji. Agar terjadi keseimbangan. Jadi lebih objektif, tidak melulu subjektif.

Sang Khalik menyuruh manusia hidup seimbang. 

Setiap perkartaan harus diikuti perbuatan. Setiap niat harus dilengkapi dengan eksekusi. Sungguh, kelebihan yang dimiliki manusia itu dikasih Allah untuk menutupi kekurangannya. Karena Allah mau manusia hidup seimbang. Lalu, mengapa kita belum mau "bersanding"?

Lahir harus bersanding dengan batin, begitu ajarannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN