Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Edukator Dana Pensiun. Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 34 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor serta penasehat Forum TBM Kab. Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

5 Kebiasaan Pekerja sebagai Bukti Tidak Sadar Masa Pensiun

10 Desember 2020   08:28 Diperbarui: 27 April 2021   06:33 694 7 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
5 kebiasaan buruk pekerja tidak sadar pensiun (Sumber: Pribadi)

Kenapa seorang pekerja perlu mempersiapkan masa pensiunnya? Karena tidak satupun pekerja yang akan bekerja terus-menerus. Cepat atau lambat, siapapun pasti akan tiba di masa pensiun.

Tidak ada seorang pun yang bekerja seumur hidup. Maka sadar pensiun merupakan perencanaan hari tua atau masa pensiun yang harus dimiliki perkerja. Umumnya, pekerja memasuki pensiun di usia 55 tahun. Maka bekerja seberapa lama pun, tidak ada jaminan seorang pekerja akan sejahtera di masa pensiun.

Adalah fakta, banyak pekerja tidak sadar pensiun. Mereka yang saat masih bekerja tidak mempersiapkan masa pensiunnya. Lalu terkaget-kaget saat masa pensiun tiba. Katanya, belum lama bekerja kok sudah pensiun saja. Maka wajar, hasil survei menyebut 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap untuk pensiun.

Konsekuensinya kini, 7 dari 10 pensiunan di Indonesia mengalam masalah keuangan. Pensiunan yang tidak mampu menikmati hari tuanya, Hingga akhirnya "terpaksa" tetap bekerja lagi. Atau harus bergantung kepada anak-anaknya. Masa pensiun yang sulit dan tidak bisa dihindari lagi. Akibat tidak sadar masa pensiun dan tidak mau mempersiapkannya saat masih bekerja. Sayang, bila semuanya nanti sudah terlambat.

Cita-citanya, adalah ingin jalan-jalan dan liburan saat pensiun. Atau menikmati hari tua sambil menulis buku dan sesekali menggendong cucu. Tentu, sulit jadi kenyataan.

Bila seorang pekerja tidak sadar akan pentingnya masa pensiun. Tidak peduli pada hari tua. Dan hanya berorientasi pada masa bekerja semata. Maka pensiun sejahtera pun jadi "jauh panggang dari api".

Sejahtera di masa pensiun yang hanya sebatas "dambaan" tanpa bisa jadi "kenyataan". Semua itu terjadi karena pekerja tidak mau mempersiapkan masa pensiun dengan baik. Kebanyakan dari pekerja tidak mempersiapkan "apa yang harus dilakukan" untuk meraih masa pensiun yang sejahtera.

Baca: Kerja Puluhan Tahun tapi Tidak Siap Pensiun, Kenapa?

Bersiap untuk pensiun adalah sebuah kecerdasan emosional. Bukan semata-mata materi atau intelektual. Dalam emotional intelligence "why it can matter more than IQ" ditegaskan bahwa, "Orang dengan keterampilan emosional yang berkembang baik lebih cenderung menjadi puas dan efektif dalam hidup.

Mereka mampu menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka sendiri. Namun tanpa emosional yang dikendalikan, mereka akan mengalami pertempuran batin yang melemahkan kemampuan mereka dalam bekerja dan kesadaran yang jernih."

Maka mempersiapkan masa pensiun pun, membutuhkan kecerdasan emosional seorang pekerja. Bahwa hidup bukan hanya saat bekerja tapi juga berlanjut hingga masa pensiun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan