Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan & Penulis

Konsultan di DSS Consulting, Pengajar Pendidikan Bahasa Indonesia & Edukator Dana Pensiun. Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak. Pendiri TBM Lentera Pustaka. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Sekjen IKA FBS UNJ (2013-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis & Editor dari 25 buku. Buku yang telah cetak ulang adalah JURNALISTIK TERAPAN & "Kompetensi Menulis Kreatif", Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis". Pendiri & Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Gn. Salak Bogor. Owner & Education Specialist GEMA DIDAKTIKA, Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA, Pengurus Asosiasi DPLK Indonesia (2003-Now). Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

PTN Eks-IKIP Paling Diminati, Pendidikan Bukan "Anak Tiri"

15 Juli 2019   22:41 Diperbarui: 15 Juli 2019   23:02 0 2 0 Mohon Tunggu...
PTN Eks-IKIP Paling Diminati, Pendidikan Bukan "Anak Tiri"
ikip-harian-terbit-4-small-edit12-5d2ca3a40d8230322e6c8372.jpg

Dulu, siapa orang yang tidak mengenal IKIP?

IKIP atau Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan adalah perguruan tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan akademik untuk mencetak para guru dan tenaga kependidikan; spesialis di bidang ilmu pendidikan. 

Maka dulu, IKIP, baik negeri maupun swasta, sering disebut LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) sebagai kawah candradimuka untuk mendidik mahasiswa sebagai tenaga kependidikan. 

Sekalipun kala itu, sebagian orang menganggap IKIP sebagai perguruan tinggi "kelas dua", kalah dibandingkan universitas pada umumnya. Justru mahasiswa IKIP tergolong paripurna. Karena hanya di IKIP, mahasiswa diajarkan ilmu murni sesuai disiplinnya plus ilmu pendidikan. Bolehlah, lulusan IKIP disebut orang pintar yang bisa mengajar. Sementara di kampus lain, hanya bisa mencetak orang pintar; yang belum tentu bisa mengajar.

Namun kini IKIP telah tiada. Karena di era 1999-an, hampir semua IKIP Negeri di Indonesia "dipaksa" berubah menjadi Universitas, seperti IKIP Jakarta berganti nama menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ). 

Tujuannya, agar PTN eks IKIP diharapkan mampu "bersaing" dengan universitas lain. Namun pada saat yang sama, konversi IKIP ke Universtas pun bisa dianggap "menghilangkan" jati diri kependidikan yang selama ini dimilikinya. Karena PTN eks IKIP, orientasinya berubah. Tidak hanya melulu mencetak calon guru dan pendidik saja. Tapi bisa bergerak bebas untuk membuka program studi yang non-kependidikan, persis seperti universitas lainnya.

Sebagai alumni IKIP Jakarta, saya tertarik untuk mengangkat persoalan IKIP kembali. Karena tidak disangka. Sesuai hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2019, ternyata 7 dari 10 PTN paling diminati bidang Soshum tahun ini adalah PTN Eks IKIP (UPI, Unes, UNJ, UNY, UNM, UNS, UNP), sedangkan 3 lainnya non-IKIP (UNS, UB, Unpad). 

Ini fakta, PTN eks IKIP mendominasi bidang Soshum SBMPTN 2019. Itu artinya, minat masyarakat untuk masuk ke universitas eks IKIP tergolong sangat tinggi. Karena di PTN eks IKIP, mahasiswa lebih punya pilihan untuk mendalami program studi kependidikan atau nonkependidikan. Tentu, alasan lainnya karena mungkin karena biaya masuk dan uang kuliah yang relatif lebih murah dibandingkan dengan perguruan tinggi lain.

Tulisan ini, tentu bukan untuk "menyesali" perubahan IKIP menjadi Universitas.

Tapi jauh lebih penting, untuk mengingatkan PTN eks IKIP bahwa tradisi akademik dan kualitas pembelajaran model IKIP tetap relevan dan sangat diminati masyarakat. Itu berarti, PTN eks IKIP harus terus memperkuat aspek pedagogi sebagai ciri pembeda untuk program studi kependidikan, di samping mengoptimalkan kualitas lulusan pada program studi non-kependidikan. 

Tingginya minat masyarakat untuk memilih PTN eks IKIP, setidaknya memberi dua makna: 1) PTN kependidikan bukanlah "anak tiri" dan 2) kualitas PTN eks IKIP makin meningkat. Tren ini, tentu, menjadi "pekerjaan rumah" bagi PTN eks IKIP untuk terus berkreasi dan membangun tradisi akademis yang lebih substansial. Ketimbang persoalan ecek-ecek yang dapat merusak reputasi kampus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2