Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan & Penulis

Konsultan di DSS Consulting, Pengajar Pendidikan Bahasa Indonesia & Edukator Dana Pensiun. Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak. Pendiri TBM Lentera Pustaka. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Sekjen IKA FBS UNJ (2013-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis & Editor dari 25 buku. Buku yang telah cetak ulang adalah JURNALISTIK TERAPAN & "Kompetensi Menulis Kreatif", Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis". Pendiri & Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Gn. Salak Bogor. Owner & Education Specialist GEMA DIDAKTIKA, Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA, Pengurus Asosiasi DPLK Indonesia (2003-Now). Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Saya Harus Mengaku Salah

10 September 2017   17:21 Diperbarui: 10 September 2017   17:43 0 0 0 Mohon Tunggu...
Saya Harus Mengaku Salah
Dok.pribadi

Saya harus mengaku salah. Karena waktu kuliah sudah tiba. Tapi buku "Menulis Ilmiah" yang sudah dipersiapkan tetap belum kelar juga. Penerbit udah nungguin, Tapi lagi-lagi, naskahnya belum tuntas. Baru 70% dan gak mungkin dipaksain untuk dicetak. Harus mengaku salah. Karena buku yang harusnya rampung dan sudah cetak, nyatanya gak bisa terealisasi.

Namanya manusia, pengen begini pengen begitu wajar saja. Tapi kalo gak bisa direalisasikan. Pasti ada yang salah di diri kita. Dan suatu kali, kita perlu "mengakui salah". Itu sudah cukup.

Manusia emang dilengkapi kelebihan bahkan kehebatan. Tapi di sisi yang lain juga melekat ketidakmampuan dan kelemahan. Itu pasti, karena gak ada manusia yang sempurna. Cuma sekarang, gak banyak orang yang mau "mengaku salah". Sehingga lupa untuk terus "berbenah diri".

Beruntunglah, mereka-mereka yang "mengaku benar", "mengaku baik". Mungkin mereka sudah selelsai dengan dirinya sendiri. Hingga telah paripurna, sudah menjadi sempurna. Alhamdulillah.

Agak wajar kalo akhirnya, banyak dari kita yang sibuk mencari aib orang lain. Gak mampu lagi melihat kebenaran yang dilakukan orang lain. Sulit untuk introspeksi diri. Hingga terlupa untuk melihat aib dan kekurangan diri sendiri.

Mengaku salah. Itu terjadi pada diri saya. Karena gak mampu menyelesaikan buku "Menulis Ilmiah" yang harusnya sudah selesai. Dan saya, gak mau cari kambing hitam. Tapi hanya bisa "mengaku salah". Itu sudah cukup. Berikutnya, "berbenah diri" agar naskah buku itu bisa saya selesaikan.

Mengaku salah, memang gak banyak orang yang "mau" melakukannya.

Lihat saja, KPK merasa benar. DPR juga merasa paling benar. Wajar jadinya kisruh. Sekarang ini, emang banyak kayka begitu. Saling mengaku benar, tanpa ada yang mau mengaku salah. Kenapa bisa begitu?

Sukar "mengaku salah" karena gak bisa menerima kenyataan bahwa kita salah. Takut malu. Hingga akhirnya sulit mengaku salah. Lalu mulai cari argumen dan cara untuk menutupinya. Gak heran, kita pun terus berusaha membenarkan diri terus-menerus.

Sulit "mengaku salah" juga bisa terjadi karena kita gak mau menerima "kebenaran" orang lain. Kita gak rela kalo orang lain benar, apalagi orang yang kita gak suka, orang yang kita benci. Wajar, kita jadi lupa bahwa kita itu ada di dunia untuk "membela kebenaran" bukan "membela diri". Kadang di kasih embel-embel, demi harga diri demi gengsi.

Sukar "mengaku salah" karena kita takut orang tahu bahwa kita salah. Lalu kita dianggap jelek, jadi takut malu. Apalagi zaman begini, gak sedikit orang yang "nungguin orang lain" berbuat salah. Biar gampang untuk menyerang, biar punya "pintu masuk" untuk menjatuhkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2