Mohon tunggu...
Syahrul Chelsky
Syahrul Chelsky Mohon Tunggu... Tokoh Fiksi

Orang Absurd.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Sepuluh Tahun Setelah Pergi ke Warung

11 Juni 2019   06:48 Diperbarui: 11 Juni 2019   21:05 0 62 14 Mohon Tunggu...
Cerpen | Sepuluh Tahun Setelah Pergi ke Warung
Ilustrasi: www.peakpx.com

Sebagai seorang laki-laki yang miskin saya tidak punya pilihan lain selain meninggalkannya. Sejak kecil dia dan keluarganya sudah terlalu baik dengan saya dan ibu saya. Pikiran-pikiran semacam balas budi selalu berenang di kepala saya. Meski pada dasarnya saya juga mencintainya, tapi apa yang dapat saya tawarkan untuk membahagiakannya? Jawabannya: tidak ada.

Saya sering merasa bersalah tiap kali menatap matanya yang layu ketika ia memandang kepada sepasang kekasih yang sedang menikmati waktu berdua, tertawa gembira, hingga bertukar hadiah dalam merayakan ulang tahun hubungan (mungkin). Entah pacaran atau perkawinan. Saya lupa bertanya dan saya memang tidak ingin tahu urusan orang. Yang jelas mereka pasti dua orang yang menjadi pasangan.

Dia orang yang baik. Malah terlalu baik bagi saya. Bahkan sejak kecil, sejak kami masih duduk di sekolah dasar ketika dia membantu saya untuk membayar uang sekolah karena uang saya habis di toko mainan Bang Jawir yang cakap merayu bocah-bocah tolol macam saya. Gara-gara dia, uang sekolah saya habis buat dibelikan mobil-mobilan tamiya. Bang Jawir yang bangsat itu.

***

Hari ini dia sudah menunggu saya, berdiri di dekat jembatan sambil memetiki bunga-bunga yang saya tidak tahu milik siapa.

"Selamat siang," katanya, "cuacanya sedang panas."

Saya mengangguk, "Kamu tidak malu punya kekasih seperti saya?" tanya saya di sebuah siang yang terik, saya memang sering mengajaknya bertemu di jembatan ujung kampung ini. Hampir setiap sebulan sekali. Saya benar-benar tidak romantis. Lebih parah, saya jarang ada untuknya.

"Kenapa harus merasa malu?"

"Karena saya orang susah."

"Bagi saya hartamu tidak penting. Selama kamu selalu berada di sisi saya, itu lebih dari cukup," dia membalas dengan jari-jarinya memegangi kelopak-kelopak bunga. Seolah-olah ingin melakukan perhitungan rahasia dengan alam, apakah saya cukup layak untuk dicintai atau tidak.

"Sudah sepuluh tahun. Kamu tidak bosan dengan saya? Saya benar-benar tidak memiliki sisi romantis seperti laki-laki lain."

"Apa ada sesuatu yang membuatmu ragu pada saya?"

Pertanyaannya membuat saya bungkam sejenak. Saya pandangi aliran air sungai yang ada di bawah kami. Tapi saya tak menemukan kalimat yang tepat untuk pergi tanpa menyakiti perasaannya.

"Tidak. Tidak ada yang salah dengan air yang mengalir," jawab saya.

"Apa maksud kamu?" Dia bingung.

"Bukan apa-apa. Saya cinta kamu. Tapi saya harus pergi ke warung untuk membeli rokok."

"Sekarang?"

"Iya."

"Saya ikut kamu."

"Jangan. Kamu di sini saja. Saya cuma sebentar," ucap saya.

Sejak siang hari di jembatan itu saya sudah tidak pernah berjumpa dia lagi. Sehabis membeli rokok saya langsung berangkat ke tempat yang jauh di bagian utara, meninggalkan perempuan itu, meninggalkan kampung. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3