Mohon tunggu...
Syahirul Alim
Syahirul Alim Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Lepas, Penceramah, dan Akademisi

Penulis lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik-Agama, Tinggal di Tangerang Selatan

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Sosok "Jaenudin Nachiro" dalam Puisi Fadli Zon

6 Desember 2018   13:08 Diperbarui: 7 Desember 2018   05:08 6302
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mereka tentu saja sedang menarik simpati kalangan Islam yang memang mayoritas, bahkan sepertinya kedua kandidat saling klaim dukungan mayoritas yang berasal dari berbagai basis masyarakat muslim.

Kedua kandidat memang sepertinya sedang jor-joran mencari dukungan dari suara umat Islam, sehingga bagaimanapun caranya, jika itu dapat mendongkrak elektabilitas sudah tentu dilakukan.

Suara masyarakat muslim memang tak bisa diabaikan, ditengah polarisasi keagamaan yang belakangan semakin menguat. Itulah kenapa, soal kegiatan Reuni 212 di Monas yang tampak sepi dari pemberitaan media juga membuat kandidat capres nomor urut 2 Prabowo Subianto berang dan memarahi para wartawan. 

Reuni 212 tentu saja memiliki makna politik bagi Prabowo, karena dengan jumlah pesertanya yang lebih dari 10 juta orang, dapat diklaim sebagai suara umat Islam yang mendongkrak elektabilitas dirinya dalam Pilpres mendatang.

Dengan pemberitaan media, Prabowo jelas diuntungkan, karena hampir seluruh peserta Reuni 212 adalah mereka yang menolak Jokowi kembali menang dalam pemilu tahun depan.

Berebut suara mayoritas umat muslim itu merupakan sebuah kenyataan politik, bahkan seperti tak bisa ditawar-tawar.

Asumsi saya, terjadi polarisasi yang sedemikian tajam diantara umat Islam, terutama dalam hal perbedaan ideologis yang kemudian terpecah kedalam dua kubu politik yang saling berlawanan. 

Kedua kubu tampak saling serang, bahkan tak jarang dikooptasi oleh ideologi keagamaannya masing-masing yang jika disederhanakan mungkin tak berlebihan jika disebut sebagai ajang "pertarungan ideologis" antara Islamisme dan Nasionalisme.

Kubu pertama sepertinya terus menyebarkan paham bahwa Islam yang seharusnya mampu menjadi pemenang dalam seluruh kontestasi politik atau minimal yang duduk dalam pusat-pusat kekuasaan adalah mereka yang secara formal mendukung gerakan Islam. 

Yang disebutkan kedua, mungkin mereka yang berideologi nasionalis, atau mereka tak secara formal mengedepankan agama sebagai ideologi, walaupun kenyataannya tetap sebagai seorang muslim yang baik dengan mengamalkan ajaran Islam secara substantif dengan tidak mengedepankan nilai-nilai simbolik. 

Penyederhanaan ini memang tak dapat sempurna menggambarkan perbedaan ideologis yang berkembang di setiap kubu politik, namun sekadar penyederhanaan yang bersifat simplistik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun