Mohon tunggu...
Dudih Sutrisman
Dudih Sutrisman Mohon Tunggu... Pegiat Bidang Pendidikan, Sosial, Politik, Budaya, dan Sejarah

Cogito Ergo Sum

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Analisis Pernyataan Ridwan Saidi mengenai Tarumanagara dan Situs Batujaya

21 Februari 2020   13:51 Diperbarui: 21 Februari 2020   13:56 126 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Analisis Pernyataan Ridwan Saidi mengenai Tarumanagara dan Situs Batujaya
Wilayah TarumanagaraSumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Tarumanagara 

Belum usai permasalahan mengenai pernyataannya tentang Galuh, Ridwan Saidi kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial mengenai salah satu kerajaan yang pernah ada di Jawa Barat, yakni Kerajaan Tarumanagara pada video "GEGEER Akhirnya Terungkap Rahasia Dibalik Sejarah Situs Batu Jaya, dan Kebohongan Sejarah" yang diunggah oleh kanal Youtube Macan Idealis pada 16 Februari 2020 malam.

Beberapa waktu lalu, memang Ridwan Saidi sempat menyinggung bahwa Tarumanagara itu fiktif, tidak pernah ada. Saat itu, berbagai komentar yang menyatakan rasa keberatan datang dari berbagai kalangan dan tokoh masyarakat Sunda. Entah apa motivasinya, Babeh Ridwan kembali mengeluarkan pernyataan yang sama kembali.

Kerajaan Tarumanagara didirikan oleh Rajadirajaguru atau Maharesi Jayasingawarman yang berasal dari Calankayana, India. Rajadirajaguru yang tiba di Jawa Barat bersama para pengikutnya sekitar tahun 348 M, kemudian beliau menetap di tepi sungai Citarum (wilayah Kerajaan Salakanagara). Kelak, beliau kemudian menikah dengan salah satu putri Raja Salakanagara, Dewawarman VIII.

Wilayah tempat Rajadirajaguru tinggal itu kemudian menjadi negara dengan nama Tarumanagara dan Rajadirajaguru menjadi Raja Tarumanagara bergelar Jayasingawarman Gurudarmapurusa sejak tahun 358.

Dalam perkembangannya, Tarumanagara menjadi lebih maju daripada Salakanagara. Peradaban Tarumanagara terus mengalami perkembangan, bahkan kepercayaan atau agama masyarakat Sunda yang kita kenal dengan nama Sunda Wiwitan muncul pertama kali saat masa Kerajaan Tarumanagara.

Tarumanagara mencapai puncak kejayaannya saat pemerintahan Maharaja Purnawarman, kekuasaannya membentang dari Teluk Lada Pandeglang, Banten hingga Purbalingga, Jawa Tengah.

Pada masa pemerintahannya beliau banyak melakukan pembangunan wilayahnya, merevitalisasi sungai-sungai, membangun kanal-kanal sehingga transportasi dan proses distribusi hasil bumi dari daerah pedalaman bisa lebih cepat dengan menggunakan jalur air via kanal-kanal tersebut.

Bukti mengenai kejayaan era Purnawarman itu tercantum pada Prasasti Tugu, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Cidanghiyang (Munjul), Prasasti Ciaruteun, Prasasti Jambu dll. Seluruh prasasti itu semuanya menuliskan nama Raja Purnawarman dan peristiwa apa yang terjadi saat prasasti tersebut dibuat.

Uniknya, lagi-lagi Babeh Ridwan dengan blak-blakan menyebutkan bahwa arkeolog salah menafsirkan isi dari prasasti itu, dia malah menyebutkan bahwa Tarumanagara itu tidak ada, dan Purnawarman itu adalah Raja Khmer (Kamboja) yang meninggal pada pertengahan abad ke-13 saat diserang Kerajaan Siam.

Hal ini jelas menggelitik, sebab setelah ditelusuri didapatkan data bahwa Raja Kekaisaran Khmer terakhir yang berkuasa saat penyerangan Siam bernama Ponhea Yat yang bergelar Raja Barom Reachea II bukan Purnawarman seperti yang diyakini Babeh Ridwan.

Selain prasasti-prasasti yang penulis sebutkan diatas, terdapat juga bukti tertulis berupa sumber sejarah China, diantaranya berita dari Dinasti Sui yang menyebutkan bahwa ada utusan dari To-lo-mo datang ke negeri China pada tahun 528 M dan 535 M (Masa pemerintahan Raja Chandrawarman dan Raja Suryawarman).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN