Mohon tunggu...
Sutomo Paguci
Sutomo Paguci Mohon Tunggu... Pengacara - Advokat

Advokat, berdomisili di Kota Padang, Sumatera Barat | Hobi mendaki gunung | Wajib izin untuk setiap copy atau penayangan ulang artikel saya di blog atau web portal | Video dokumentasi petualangan saya di sini https://www.youtube.com/@sutomopaguci

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Punya Hobi agar Hidup Semarak

24 Februari 2018   08:47 Diperbarui: 24 Februari 2018   08:48 548
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Salah satu penyesalan laki-laki sebelum meninggal adalah, seandainya waktu muda dan kuat aku cukup berpetualang dan bersenang-senang, tidak hanya habiskan waktu untuk bekerja."- Bronnie Ware.

Bronnie Ware adalah penyanyi Australia dan penulis buku Lima Penyesalan Terbesar Ketika Sedang Sekarat (The Top Five Regrets of Dying).

Pada awalnya, hobi bisa saja karena ikut-ikutan kawan, sampai ia meresap dicintai dan mewarnai hidup, selain karena memang dorongan dari dalam, mungkin bakat dan sebagainya.

Dahulu, waktu masih remaja, saya tidak pernah mendaki gunung dan sama sekali tak terpikirkan, sekalipun ada gunung Patah yang butuh dua belas hari untuk mendakinya.

Setelah SMA, di Bengkulu, tahun 1990-an, suatu hari seorang teman bernama Roby Linata mengajak naik gunung Kaba 1.938 mdpl di Kepala Curup, Rejang Lebong. Setelah itu kami sering naik gunung ini secara estafet dari Kota Bengkulu naik truk hingga sampai di Curup.

Setelah tamat SMA, aktivitas naik gunung terus berlanjut, kali ini gunung-gunung sekitar Sumatera Barat khususnya Marapi dan Singgalang. Sama dengan saat SMA, pendakian selalu dilakukan secara berkelompok, tidak pernah sendirian.

Hingga akhirnya tamat kuliah dan mulai sibuk kerja, siang malam. Hobi mendaki gunung pun terbengkalai. Nyaris enam belas tahun vakum mendaki gunung.

Dalam pada itu hobi-hobi lain tetap ditekuni, seperti membaca, menulis, memasak dan lainnya. Tapi hobi-hobi ini konvensional, tidak menguras tenaga dan tidak ekstrim memacu andrenalin seperti halnya naik gunung. Walaupun mengasyikan tapi terasa rutin dan datar.

Sampai suatu hari, beberapa tahun yang lalu, saat dunia pendakian gunung di Indonesia meledak berkat film5 cm(2012), timbul kembali keinginan untuk mendaki gunung.

Tapi peralatan pendakian waktu itu sama sekali sudah tidak ada lagi. Karena itu, sebelum mulai pendakian, saya membeli paket lengkap peralatan pendakian yang meliputi tas carrier, tenda, kantong tidur, kompor khusus pendakian, peralatan survival dan lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun