Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Tips Menjaga Kebugaran di Usia Paruh Baya

14 Maret 2018   10:56 Diperbarui: 14 Maret 2018   11:01 640 2 2
Tips Menjaga Kebugaran di Usia Paruh Baya
Mengikuti Color Run (dokpri)

Dulu, saat saya bekerja dengan domisili yang sama, saya dengan leluasa dapat menjadi anggota sebuah pusat kebugaran (gym centre). Saya dapat menuju pusat kebugaran 3-4 kali dalam satu minggu paska pulang kerja.

Di pusat kebugaran, saya dapat memanfaatkan semua fasilitas yang ada, seperti treadmill, sepeda statis, sit-up, bahkan peralatan angkat beban yang dapat membentuk otot lengan, dada, punggung maupun paha.

Kini, setelah saya sering ditugaskan keluar kota, menjadi anggota pusat kebugaran adalah sebuah kerugian, karena tidak di semua kota terdapat cabang dari pusat kebugaran tersebut.

Fun Walk

Saya mulai berpikir mencari alternatif kegiatan olahraga guna tetap menjaga kebugaran tubuh. Ide muncul saat saya membaca baliho raksasa di jalan yang menawarkan acara Fun Walk. Saya segera mendaftarkan diri dan mengikuti acara pada hari H yang ditentukan. Saya masih ingat lokasinya di Serpong. Berjalan sejauh 5 kilometer mengitari perumahan Summarecon Serpong.

Berdasar ide ini saya mulai melakukan olahraga jalan kaki tiap akhir pekan dengan rute mengelilingi perumahan tempat saya tinggal. Tidak bisa pada hari kerja karena saya memerlukan cukup waktu untuk menuju ke kantor. Kalau dipaksakan waktunya terlalu pagi dan jalanan masih gelap. Selain jalan kaki sendiri, saya juga rajin mengikuti acara Fun Walk yang ada.

Lama kelamaan acara Fun Walk sirna, digantikan oleh acara Fun Run. Meski banyak teman yang mengingatkan bahayanya berlari pada usia saya yang sudah diatas setengah abad ini, saya tetap mencoba. Prinsipnya saya berlari semampunya hingga mencapai garis akhir (finish) dan tidak berambisi menjadi juara.

Diawali dengan lari gembira 5 kilometer, 7 kilometer, 8 kilometer dan rekor paling jauh 10 kilometer. Saya selalu memilih lari dengan lintasan datar, bukan off-road atau trail atau halang-rintang yang medannya berat dan licin. Hal ini mengingat usia saya, karena bila jatuh dan cidera, akan membahayakan diri sendiri.

Lama kelamaan komunitas pelari (runner) makin banyak, dan acara lari makin menjadi gaya hidup. Jarakpun makin bertambah dari 10 kilometer menjadi setengah marathon (HM - Half Marathon) kira-kira 21 kilometer lebih, hingga FM (Full Marathon) 42 kilometer lebih.

Banyak teman di komunitas pelari minta saya meningkatkan jarak, tetapi saya tetap menyadari usia dan kemampuan. Maka bila ada tawaran acara HM dan FM, saya selalu menolak ajakan tersebut dengan halus.

Bersama komunitas runner (dokpri)
Bersama komunitas runner (dokpri)
Sepeda

Selain komunitas pelari, sebagian teman ada yang menjadikan olahraga bersepeda sebagai gaya hidup. Banyak pula acara Fun Bike atau Gowes digelar, meski belum sebanyak Fun Run.

Saya belum mencoba bersepeda mengingat posisi kerja saya yang masih sering berpindah tempat. Akan sangat merepotkan bila tiap pindah kota harus membawa sepeda. Itulah sebabnya untuk sementara tawaran bersepeda masih saya abaikan. Meski saya tertarik karena menurut artikel yang saya baca, olahraga bersepeda lebih sesuai bagi usia saya, ketimbang lari yang lebih beresiko.

Olahraga senantiasa menjadi prioritas utama bagi kehidupan saya, selain untuk menjaga kebugaran juga untuk menjaga agar berat tubuh tidak bertambah terus, mengingat hobby saya sebagai penggiat kuliner.

Lari santai dan jalan kaki cepat masih terus saya lakukan, di kota manapun saya ditugaskan. Jadi bila bepergian ke luar kota, sepatu olahraga, kaos dan celana pendek tidak boleh ketinggalan. 

Mens sana in corpore sano, pada badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat.