Mohon tunggu...
Sutanto Wijaya
Sutanto Wijaya Mohon Tunggu... Freelancer - Certified Professional Coach (CPC), Freelance Writer

Certified Professional Coach (CPC), Freelance Writer

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Kita (Tidak) Butuh Influencer

22 Agustus 2020   15:17 Diperbarui: 22 Agustus 2020   15:21 173
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kita hidup di abad influencer. Yang aktif di internet dan media sosial pasti tahu istilah ini. Apa atau siapa sih yang dimaksud influencer ini? Menurut wired.com, influencer adalah seseorang atau sesuatu hal yang memiliki power untuk mempengaruhi buying habit atau tindakan orang lain dengan cara membuat content di media sosial.

Gampangnya begini, influencer adalah individu atau institusi yang punya kemampuan untuk membuat content yang bisa mempengaruhi prilaku orang banyak, termasuk prilaku untuk membeli sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak dibutuhkan.

Definisi di atas memang dipersempit untuk influencer di zaman internet. Sebenarnya jauh sebelum zaman internet mendunia seperti sekarang sudah ada "influencer". Hitler yang kemampuannya mempengaruhi orang lain sampai memicu perang dunia yang memakan korban jutaan orang. Mother Teresa yang menjadi teladan dunia dalam hal melayani mereka yang tidak mendapatkan perhatian di masyarakat. Dan masih banyak lagi.

Memang dua figur yang menjadi contoh di atas sangat kontras dan hal inilah yang menjadi alasan mengapa penulis menggunakan tanda kurung pada kata 'tidak' di judul tulisan. Apakah kita butuh influencer? Tergantung. Kalau para influencer ini bisa mempengaruhi orang banyak untuk hal-hal yang baik dan positif, tentunya semakin banyak figur seperti ini akan semakin baik untuk masyarakat. Tapi kalau sebaliknya? Jawabannya jelas tidak.

Tidak bisa dipungkiri manusia sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah masyarakat sebenarnya secara langsung atau tidak langsung, sadar atau tidak sadar saling mempengaruhi. Dan sepertinya ada kecenderungan dari satu individu untuk mengikuti prilaku individu yang lain, meskipun tidak selalu.

Kembali lagi, selama interaksi antara influencer dan influencee (orang yang dipengaruhi) tidak menyebabkan sesuatu hal yang negatif, sebenarnya tidak ada masalah. Akan menjadi masalah kalau pengaruh yang datang dari influencer membuat influencee melakukan tindakan-tindakan negatif. Tindakan negatif ini bisa berkisar dari hal-hal kecil seperti prilaku belanja berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau kemampuan, sampai ke tindakan anarkis yang bisa mengganggu kehidupan masyarakat luas.      

Untuk menghindari dampak negatif seperti ini, setiap individu perlu melakukan introspeksi diri. Apakah selama ini pikiran dan prilaku saya sangat mudah dipengaruhi orang lain? Apakah hanya karena seorang individu sangat terkenal, sukses dan terhormat saya harus mengikuti segala hasil pemikirannya dan tindakan-tindakannya? Dan kalau saya melihat secara jujur dan obyektif, sikap dan tindakan individu tersebut positif atau negatif?

Sebagai contoh, seberapa tinggi pun kita mengidolakan figur tertentu, kalau individu tersebut memiliki sikap yang tidak baik dan melakukan tindakan yang tidak benar, kita wajib untuk tidak melakukan hal yang sama. Kita wajib untuk tidak menjadi blind followers atau pengikut yang secara total dan emosional mendukung sang "idola" tanpa berpikir secara obyektif apakah figur tersebut layak untuk menjadi teladan dan didukung.

Kata idolize atau mengidolakan dalam Bahasa Inggris definisinya adalah mengagumi, menghormati atau mencintai secara berlebihan. Kita tahu bahwa sesuatu yang sifatnya berlebihan tidak akan mendatangkan hasil yang baik. Kita boleh belajar dan mengambil inspirasi dari siapapun, tapi mengidolakan seseorang secara fanatik rasanya kurang bijak.  

Menurut penulis, setiap indvidu perlu belajar untuk berpikir kritis dan memiliki pemikiran yang terbuka. Kita juga perlu belajar untuk menggali pengetahuan akan diri sendiri atau self-awareness. Dengan demikian kita bisa menjadi pribadi yang otentik dan tidak mudah dipengaruhi oleh pihak lain, terutama untuk hal-hal yang bersifat negatif. Yang bisa menjadi pegangan pribadi yang otentik adalah prinsip dan kebenaran universal yang berlaku untuk semua orang tanpa terkecuali.

Kalau harus ada influencer di dunia ini, jadilah influencer untuk diri Anda diri sendiri. Tugas dari kita semua adalah mempengaruhi diri sendiri setiap hari untuk bisa menjadi individu yang lebih baik. Hanya kita sendiri yang mengenal paling baik dan tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Ungkapan "be yourself" mungkin sudah klise karena begitu sering dilontarkan. Tetapi fakta bahwa ungkapan tersebut sering diucapkan adalah karena ada unsur kebenarannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun