Mohon tunggu...
Leonora Suzan M Litaay
Leonora Suzan M Litaay Mohon Tunggu...

0,036% berdarah londo kw 2 yang impatience | amateur writer / photographer\r\n(contact me : susanlitaayakun@gmail.com |\r\ninstagram : leonmarth

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Selai Cokelat

15 Januari 2015   09:00 Diperbarui: 17 Juni 2015   13:06 27 0 0 Mohon Tunggu...

O, akal sehat jaman ini !

Bagaimana mesti kusebut kamu?


Kalau lelaki kenapa seperti kuwe lapu?


Kalau perempuan, kenapa tidak keibuan?


dan kalau banci, kenapa tidak punya keuletan?

Penggalan orasi Rendra yang kala itu menurutnya sebagai introespeksi budaya, sekilas kuat mengalihkan kepenatan gue dengan ornamen-ornamen enggak penting seminggu belakangan. Belum lagi tugas kuliah seabrek, sastra yang mencengangkan, semacam menjunjung asa di tembok kamar retak. Hmmmm 3 hari lagi ayah menikah.  Gue akan bergelar anak tiri tante Ling.  Seperti tertampar, gue bahkan tidak tahu nama panjang calon ibu baru gue, bukan hanya itu, sebagian unsur kehidupannya, seperti latar belakang pendidikan, pekerjaannya , padahal hampir dua minggu sekali kami bertemu.  Ibunda, Rossy kangen, besok setelah praktikum Kriptografi, Rossy jenguk ya.  Alarm ipod belum sempat ke-reset lagi ke jam 8.00 lalu 8.20 dan seterusnya, berulang per 20 menit. Ah kenapa gue selalu lupa merubah juga level volumenya sih. Ayah sudah ke kantor belum ya? Sepertinya udah, agak aman untuk berlalu dari selimut cokelat kesayangan gue, kado ulang tahun lalu.  " Bi, rotinya dua susun aja ya, yang dipanggang, saya bawa. yang mau dimakan habis ini tiga lapis, banyakin selai cokelatnya ya.. " Gue berujar setengah teriak dari kamar mandi.

Derap langkah dipercepat, hujan kian deras. Bunda, maafin Rossy hanya 10 menit di depan pusara, nanti kita lanjut lagi ya. Akhirnya sampe juga, serta merta skuter matic futuristik silver gue gas, dan berlalu dari Kompleks Ereveld Kalibenteng. Saat lampu merah, dari balik plastik yang tergantung di dekat setir, tiga botol selai cokelat Geheimnis agak amburadul posisinya, hmm tidak masalah sih selama tidak retak aja.  Di perjalanan, gue sambil mikir arti dari tulisan di prasasti “ter eerbiedige nagedachtenis aan de vele ongenoemoen die hun leven offerden en niet rusten op deerevelden" bahwa yang dibangun tersebut menjadi tempat yang layak bagi para pahlawan yang mungkin tidak mendapat tempat di  pemakaman pahlawan. Buat gue, bunda, wanita berdarah China Jerman berwajah setengah Slovakia dengan pipi merah jambu ini lebih dari seorang Srikandi. Berkharisma namun penuh dengan selera humor yang tinggi, bunda suka menggunakan logat Singlish (Singapore English) yang kedengaran lucu tapi menyentil, misalnya Rossy, you sit sit lazy like that, boh chiak png, ah ('Rossy, duduk kok males begitu, seperti orang kurang makan nasi?'). Bunda, Rossy kangen...banget !!

Hujan semakin deras, gue berbelok ke arah simpang lima, di depan toko oleh-oleh Berkah, memarkirkan skuter dan mencari mantel polkadot ungu tua yang agak norak. Hampir sebulan hujan di Semarang seakan dalam posisi klimaks, bergiat memuntahkan seluruh isi perut awan-awan seakan sudah lama tak bersenggama. "Lu, gue nggak praktikum, kejebak hujan deras nih, ta meeting buat Classical Event dichange ke salah satu cafe Simpang lima aja ya".  Lima menit berlalu, Lulu membalas chat Whatsapp gue. " Emangnya kenapa Ros, harus di Cafe? tapi asyikk juga tuh, kami jam 3an meluncur ya." "Sip, biar gue nggak muter balik rumah lagi, nggak masalah gue belain nungguin kalian sampe jam 3 sambil berteduh disini, ntar nama Cafenya gue info ya.. gue traktir dahh."gue ngetik sambil agak gemetaran.  Hampir setengah jam, hujan akhirnya sedikit mereda, kesempatan gue buat keliling nyari Cafe yang asyikk buat nongki. "Lulu Calling" tulisan di layar handphone. Dasar nih anak, nggak sabaran banget, belum juga gue nemu cafe. "Ayah calling" .. Lu, bentar dihold dulu ya, bokap nelpon, sek yoooo!." "Iyooo,.." Lulu setengah teriak . "Ros, jam 7 nanti kamu di rumah ya nak, kita mau finally fitting beberapa baju, tapi berdua aja. Tante Ling tadi udh fitting duluan, sekarang lagi on the way ke Yogya jemput orang tua dan dua adiknya. " "Baik yah, tante Ling kapan balik sini?" tanya gue penasaran. "Besok subuh udah balik dari Yogya lagi kok.. segera pulang ya.. hati-hati. " ujar ayah. "Iya yah, jam 6 juga Rossy udah di rumah.. " Gue mengakhiri pembicaraan.

Cafe La Franci sedikit eksklusif dari luaran gedungnya dan berkelas, walaupun hanya berlantai satu. Menurut gue enggak ada salahnya mencoba masuk dan memesan segelas chocolate hangat, sembari men-scranning list harga buat mencocoklogikan dengan isi dompet dan porsi kami berlima nanti. Jam segini, cafe bergaya temporari modern nan menawan masih terlihat agak sepi. Gue memang jarang cuci mata di lokasi simpang lima ini, karena baru hampir 10 bulan gue di Semarang. Saat gue dinyatakan diterima sebagai mahasiswa  Fakultas Teknik Program Studi Sistem Komputer Universitas Diponegoro, akhirnya ayah langsung menyetujui hal ini. Sesuai dengan keinginannya agar gue enggak kuliah di Jakarta, baginya 16 tahun sudah cukup untuk gue lahir dan menempuh pendidikn dasar di ibukota, alangkah lebih nyaman bagi beliau jika gue bisa kuliah di daerah Jawa Tengah, karena sebagian besar keluarga almarhumah ibu masih disini. Tidak lama setelah penerimaan, ayah memutuskan mengontrak sebuah rumah yang cukup dekat dengan kampus lalu menyusul ke Semarang. Hal ini juga yang mengawali perjumpaan ayah dengan tante Ling. Menurut cerita beliau, kesan pertama saat mereka berdua duduk bersampingan di dalam pesawat tujuan Jakarta Semarang saat itu, tak terlupakan. Senyum ramah tante Ling disertai ucapan terima kasih karena ayah berhasil 'menyelamatkan' syalnya yang tersangkut di celah safety belt membuka pembicaraan selanjutnya dan terus berlanjut hampir lima bulan meskipun secara jarak jauh. Setelah itu ayah memutuskan untuk melamar Tante Ling bulan lalu. Ayah memang tipe pemilih namun serius. Seorang suami dan ayah yang bijak, setia dan hampir tanpa cela buat gue.

Hampir setiap weekend, kami bertiga, sekeluarga memiliki unforgetable quality time. Terakhir kalinya liburan penuh 'petualangan gue' adalah empat tahun lalu. Saat  itu bunda hampir dua bulan menjalani opname dan dilanjutkan dengan terapi di rumah selama hampir 8 bulan. Awal Februari, ketika kondisi bunda sangat membaik,  kami bertiga berlibur ke Perancis. Gue inget betul hari kedua kami disana, saat teman SMA bunda dan ayah yang berdomisili di Perancis, mengajak reunian sekaligus makan siang di sebuah Restaurant yang terletak di jantung kota Paris. Akibat pembicaraan mereka yang gak connect, gue minta ijin bunda untuk berkeliling tak jauh dari lokasi restaurant, dan bunda mengijinkan asalkan tidak lebih dari setengah jam, itupun setelah isteri om Roy berusaha meyakinkan bunda kalau lokasi ini sangat aman. Namn entah angin apa membuat gue iseng memberhentikan bus yang rutenya menurut gue enggak jauh-jauh dari pusat kota. Perkiraan gue meleset jauh. Singkat cerita, dengan perdebatan sangat tidak jelas di dalam bus, dan dengan uang 40 euro yang gue bawa, gue membayar karcis, dan diturunkan di sebuah taman Tuileries tempat jejeran museum lukisan pelukis ternama.  Gue sangat berharap ada orang yang bisa gue ajak berdialog dengan bahsa Inggris terbata-bata ala anak 14 tahun. Gue putus asa, rata-rata orang Perancis kurang mampu berbahasa Inggris bahkan marah jika diajak berkomunikasi dengan bahasa internasional ini.. Huh!

"Excuse me, does anybody speak English?' terdengar suara bapak-bapak bertanya di dekat kursi " tempat gue duduk.  "Hah?" gue refleks berdiri. "Hei, Sir, yes." langkah senangnya, akhirnya gue menemukan sesorang yang juga bisa berbahasa Inggris.  "Y..yes. Can you help me?" tanyanya agak panik. " Can you? can you help me?" tanya gue balik.  "What?" tanya bapak itu agak bingung. "Can you help me pak, eh sir?" gue mengulang pertanyaan penuh harapan. " That's why what i just ask you. I need help. I'm lost !" Bapak berwajah agakAsia itu menjelaskan.  " Yeah me too.. lost." Gue menjawab sambil menyalami tangannya.  "Iam Rossy!!" "Eh. Karl..!" balasnya makin bingung. "Listen i'm lost, Karl " Ujar gue. "That's why i was going to say." kata Karl. "Oh wow, please sit down. Kita berdua geng, sesama lost you know.!" komentar gue senang banget. Sambil duduk, gue menjelaskan kronologis ketersesatan gue dengan agak terbata-bata. "Which restaurant?" tanya Karl masih bingung. " I don't know. I get on the bus and 20 minutes later, I'm here. I just remember that the cafe is on one way road with the blue colour dominan." Gue menjelaskan dengan percaya diri. "That's even worst. It's a good thing that you didn't get one more bus because can get more lost. If i were you, I'll walk back  following the bus way that you get one." Karl menjelaskan sangat detail tanpa gue pahami. Memang agak complicated kondisi gue saat itu buat mencerna penjelasan panjangnya. Gue makin putus asa sampai terdengar suara bunda. Ya, thanks God, itu suara bunda. "Rossy... Ros, kesini nak, kami mencarimu. Untung mantel shocking pinkmu menjadi identitas unikmu diantara keramaian ini." Belum selesai bunda berbicara, gue segera berlari menghampiri bunda dan seisi mobil sedan milik om Roy. Sayup-sayup terdengar " Hei ,but what about me? I'm lost!!" teriak Karl gusar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x