Mohon tunggu...
FITRIA SURYAUTAMI
FITRIA SURYAUTAMI Mohon Tunggu... Penulis - Unas/communication/18

SERENYMORA

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Tekno

Keruntuhan Media Masa di Era 4.0

8 Mei 2021   12:24 Diperbarui: 8 Mei 2021   12:27 118
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Istilah era 4.0 tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita, era yang sangat menekankan pada digitalisasi. Semua informasi bisa didapat dengan mudah dari Smartphone yang anda genggam. media cetak dan elektronik pun nampaknya sudah tidak terllalu menarik bagi masyarakat terutama yangtinggal dibagian kota. tidak hanya itu, saat inipengambilan atau pertukaran data juga bisa mudah dilakukan dari internet. 

Namun tentunya dibalik kemajuan sebuah teknologi, akan selalu adanya kemunduran di suatu bidang. seperti misalnya media televisi. beberapa waktu lalu Ketua Komisi Asosiasi Televisi Indonesia ANTV mengatakan bahwa ada 40%anak muda saat ini tidak lagi menonton televisi melalui tv, tetapi lewat gadget yang mereka gunakan. pada tahun 2016 prioritas pertelevisian di Indonesia bersama kementrian informasi dan KPI bersatu dalam memberikan evaluasi-evaluasi terhadap dunia pertelevisian.

Ada beberapa faktor dari keruntuhan media masa, diantaranya :

1. Media sosial yang bersifat dua arah sementara pada media cetak dan elektronik hanya satu arah.

2. Informasi yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja

3.  Aktivitas masyarakat semakin tinggi dan mengharuskan untuk mencari sebuah media yang cepat dan efisien.

4. Konten di media sosial jauh lebi beragam dari pada media cetak dan elektronik.

5. Semua masyarakat bisa menjadi jurnalis.

6. biaya kuota semakin murah, perangkat dan teknologi semakin murah pula.

Adapun pertumbuhan iklan surat kabar jauh lebih buruk. Data Nielsen menunjukkan belanja iklan surat kabar di Kuartal II 2015 mencapai Rp8,23 triliun. Jumlah ini menunjukkan penurunan 4 persen dibanding Kuartal II 2014 yang mencapai Rp8,59 triliun.

Situasi untuk industri media cetak memang lebih berat dengan adanya penyebab kedua. Yakni adanya migrasi pola baca sebagian masyarakat dari media cetak ke media online (internet). Penetrasi internet yang semakin dalam di kehidupan masyarakat Indonesia membuat keberadaan surat kabar semakin banyak ditinggalkan. "Ini membuat tiras penjualan surat kabar di Indonesia terus menurun," ujar mantan Sekjen AJI Indonesia tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun