Mohon tunggu...
Supiyandi
Supiyandi Mohon Tunggu... Freelancer - IG: @supiyandi771

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Pemasaran Karet Alam dan Permasalahannya di Sumatera Selatan

16 Juli 2019   06:29 Diperbarui: 16 Juli 2019   06:38 660
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kebun Karet Di Desa Karta Dewa Kabupaten Pali Sumatera Selatan. Foto Oleh Supiyandi Supiyandi

Cukapara merupakan bahan pembeku yang paling mudah didapat di pasaran. Penggunaan bahan pembeku tawas dan pupuk TSP juga masih banyak dilakukan oleh petani. Sebagian besar petani di wilayah Kabupaten PALI menggunakan pembeku cuka para yang dicampur dengan tawas. 

Selain itu terdapat juga bahan pembeku lain yang juga tidak direkomendasikan antara lain, gadung, dan air cucian tempe. Penggunaan bahan pembeku yang tidak direkomendasikan seperti tawas, pupuk TSP, dan gadung pada karet alam, dapat menyebabkan mutukaret menjadi rendah dikarenakan nilai plastisitas karet, baik plastisitas awal (Po) maupun plastisitas retensi indeks (PRI) akan turun di bawah standar SIR 20 (Purbaya, et al., 2011).

Sebaliknya, bahan pembeku yang direkomendasikan seperti asam semut (formic acid) dan Deorub masih jarang digunakan petani. Petani hanya menggunakan Deorub atau asam semut apabila mendapat bantuan pembeku dari pemerintah daerah setempat. Hal ini dikarenakan bahan pembeku Deorub dan asam semut sulit diperoleh petani di pasaran.

Harga Karet Alam di Tingkat Petani Produsen

Sesuai dengan mutu karet alam yang dihasilkan oleh petani produsen, harga beli yang diberikan oleh pedagang perantara atas karet yang dihasilkan petani secara rill adalah rendah. 

Hasil analisa data dari Gapkindo menunjukkan harga karet murni di Crumb Rubber per September 2018 adalah Rp17.000,- per kilogram. Namun disampaikan rata-rata harga ditingkatan petani harga karet alam adalah Rp6.500,-sampai Rp7.500,- per kilogram.

Harga yang rendah ini memotivasi petani untuk menggunkan cara yang tidak baik untuk menambhkan berat karet yang dihasilkan demi meningkatkan pendapatan mereka. Akhirnya petani terjebak dalam pola yang tidak baik ini yang berimplikasi pada harga yang rendah karena kualitas karet yang dihasilkan rendah.

Rata-rata penerimaan petani karet di Provinsi Sumatera Selatan berkisar  Rp7.020.00,-/ha/tahun sampai Rp7.560.00,-/ha/tahun. Data ini berdasarkan pada kemampuan produksi rata-rata karet alam di Indonesia sebesar 1.080 Kg /ha/tahun.

 Sama seperti keterkaitan antara mutu dengan harga, mutu karet yang dihasilkan petani juga berhubungan sangat nyata dengan penerimaan petani. Hal ini berarti perubahan mutu akan diikuti oleh perubahan penerimaan petani dari hasil penjualan karet alam yang dihasilkan.

Tataniaga Karet Alam

Keberhasilan lembaga pemasaran pertanian dalam mendistribusikan komoditas dari petani produsen ke konsumen akhir salah satunya dapat ditunjukkan oleh marjin pemasaran yang serendah-rendahnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun