Mohon tunggu...
Sunardy Syahid
Sunardy Syahid Mohon Tunggu... Wiraswasta - Keterangan Profil

Amati, Tiru, Modifikasi

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Aku di Kota Pala

8 Agustus 2015   01:40 Diperbarui: 8 Agustus 2015   01:55 326
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Saat ban pesawat yang saya tumpangi berhenti berputar dan lampu seat belt telah dipadamkan saya langsung mengucapkan Alhamdulillah Rabbil alamin, artinya saya telah tiba dengan selamat, maklum bandara Torea yang merupakan tujuan kedatangan saya ini dikenal sebagai salah satu bandara extrim ditanah air. Bagaimana tidak... bandara ini terletak diketinggian sekitar 145 diatas permukaan laut dengan ukuran landasan pacu 3,415 m × 66 m dan hanya bisa didarati oleh pesawat Type Dash atau ATR 72-500, kedua ujung landasannya jurang, dan salah satu sisinya lautan.  

Setelah pintu pesawat dibuka saya dan penumpang lainnya bergegas untuk menuruni tangga pesawat menuju ruang kedatangan dengan berjalan kaki, dalam perjalanan menuju ruang kedatangan saya melihat disekeliling area bandara nampak pemandangan yang begitu indah hamparan laut dan bukit-bukit yang dihiasi oleh pepohonan hijau serta bangunan bandara yang cukup unik dengan ciri khas Papua-nya.

 

Saat menunggu diruang pengambilan bagasi seseorang yang berpenampilan agak sangar dan berkumis tebal menghampiri Pace.. taksi kah?   rupanya diruang pengambilan bagasi di bandara Torea ini orang dengan bebasnya dapat keluar masuk tanpa penjagaan petugas bandara tidak seperti bandara lainnya, bapak berkumis itu menawarkan jasa untuk mengantar saya ke kota. Berapa om ?? ah 350 ribu saja pace, jawab bapak itu. Ok om deal... tunggu sa pu bagasi dulu ya om ucapku.

Akhirnya dengan diantar bapak berkumis tebal, saya pun meninggalkan bandara Torea menuju kota Fakfak. Jarak bandara Torea ke pusat kota Fakfak hanya sekitar 7,5 KM kata bapak berkumis itu hehehehe... namanya Om Edy walaupun bertampang sangar dan berkumis tebal Om Edy ternyata orangnya ramah. Fakfak ini terletak di lereng bukit dekat laut dan jalannya sempit dan tidak ada yang datar kalau bukan tanjakan yaa turunan jadi harus hati hati bawa mobilnya soalnya kalau tidak hati hati mobil bisa masuk jurang atau nyenggol kendaraan lain.. itu kata Om edy juga. 

Satu-satunya jalan yang datar di fakfak ini ada di daerah jalan baru dekat pasar tumburuni sampai pelabuhan, hasil reklamasi pantai yang dibuat pemerintah. Nah kalau di jalan baru itu digunakan anak muda untuk nongkrong karena pemandangannya indah dipinggir pantai dan bisa melihat kota fakfak dari bawah apalagi kalau malam hari kita bisa liat lampu lampu rumah warga diatas bukit seperti kota di Brazil.  Oh kah ...memang Om edy pernah ke Brazil ? tanya saya penasaran, hehehe belum !!!   jawab Om Edy sambil cengengesan. 

 

 Tak terasa karena asik mendengar cerita dari Om Edy sampailah saya di kota Fakfak, ternyata betul apa yang diceritakan oleh om Edy, disepanjang jalan belum pernah sekalipun saya mendapati jalan yang datar kecuali jalan antara pasar dan pelabuhan yang dinamakan oleh orang jalan baru tepatnya di jln Dr. Salasa Namudat. 

Sesampainya dikota saya diajak keliling kota oleh Om Edy biar tau jalan jalan di kota katanya, sepanjang jalan cukup banyak pedagang kaki lima, warung makan, kios, toko yang sebagian besar berasal dari Makassar, Jawa dan etnis Tionghoa.

Ada yang unik di Kota Fakfak karena banyak sekali pangkalan ojek yang kelihatannya tertib dan teratur, menurut Om Edy Ojek di Fakfak tarifnya diatur oleh PERDA yaitu Rp. 5.000 untuk dalam kota, ada tiga kelompok Ojek yaitu kelompok ojek Helem Hijau, Kuning dan Orange yang tergabung dalam 2 wadah yaitu Kelompok Ojek Bersatu Mandiri dan Hijau Mandiri. 

Selain Pedagang, tukang ojek sebagian besar penduduk fakfak berprofesi sebagai PNS, Nelayan, pencari telur ikan terbang juga dan petani.

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun