Mohon tunggu...
Sukasmo Kasmo
Sukasmo Kasmo Mohon Tunggu...

Seorang anak desa yang terdampar di pesisir utara , adoh ratu cedak banyu

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Sang Guru

17 November 2014   06:46 Diperbarui: 17 Juni 2015   17:38 0 0 0 Mohon Tunggu...

Keberhasilan proses pendidikan tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sang guru. Guru merupakan pelaku utama di sekolah formal maupun non-formal untuk membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berkepribadian yang baik, memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, sehat jasmani maupun rohani serta memiliki tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Sosok sang guru adalah orang yang dapat dipercaya dan diteladani oleh seluruh siswanya serta lingkungannya. Guru juga disebut sebagai pendidik. Menurut Poerwadarminta dalam kamus bahasa Indonesia, pendidikan berarti orang yang mendidik, dengan kata lain pendidik adalah orang yang meakukan kegiatan dalam bidang pendidikan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak kalangan yang mulai meragukan kapabilitas dan kredibilitas guru. Perannya sebagai pengajar dan pendidik mulai dipertanyakan. Misinya sebagai pencetak generasi yang unggul, terampil, dan bermoral, belum sepenuhnya terwujud. Para pelajar kita justru semakin menjauh dari kondisi ideal seperti yang diharapkan. Yang lebih memprihatinkan, para pelajar itu mulai kehilangan kepekaan moral, terbius dalam atmosfer zaman yang serba gemerlap, tersihir oleh kehidupan yang memburu selera dan kemanjaan nafsu, terjebak ke dalam sikap hidup instan. Tawuran antar pelajar merajalela, pesta ”pil setan” menyeruak, pergaulan bebas makin mencuat ke permukaan.Melihat fennomena saat ini , sudah dapat dipastikan bahwa dimasa yang akan dating tidak ada jaminan Indonesia bisa lebih baik. Banyak sekolah meraih kesuksesan semu dan menanam potensi kegagalan bangsa. Segala cara dilakukan untuk meraih kesuksesan sesaat. Contohnya pelaksanaan Ujian Nasional, banyak yang gagal karena sekolah tidak berhasil membangun karakter siswa untuk menjadi siswa yang disiplin, percaya diri, berbudi pekerti serta berakhlak mulia. Kegagalan di masa yang akan datang adalah andil pendidikan pada saat ini dan rusaknya karakter bangsa saat ini adalah buah dari masa lalu. Departemen Pendidikan Indonesia dalam Renstra 2010-2014, memasukkan pembangunan karakter sebagai salah satu misinya. Memang tidak mudah untuk mengubah keadaan, tetapi paling tidak kita dudukkan pendidikan sebagai pilar pembentuk karakter bangsa. (http://metronews.fajar.co.id/read/95036/19/pendidikan-membentuk-karakter-bangsa). Pembangunan karakter bangsa di sekolah dilakukan melalui kegiatan-kegiatan eksrakurikuler yang salah satunya adalah kepramukaan, sejalan dengan rencana strategis tahun 2009-2014 lebih menekankan pada pelaksanaan fungsi pokok Gerakan Pramuka sebagai Lembaga Pendidikan Kader Bangsa. Tetapi dalam pelaksanaannya di sekolah terdapat beberapa kendala, antara lain karena sifat nya sukarela maka kepramukaan hanya diikuti segelintir siswa saja, atau kalaupun ada sekolah yang mewajibkan kegiatan tersebut maka hasil nya tidak juga maksimal, artinya hanya kuantitas nya saja yang besar. Keteladanan sudah menjadi semacam harga mati bagi semua profesi, terlebih profesi guru. Sementara itu, keteladanan identik dengan sifat seorang pemimpin yang baik. Kouszer &Pousner dalam the leadership challenge menjelaskan riset mengenai karakter pemimpin yang dikagumi oleh para pengikutnya ( orang yang dipimpinnya). Berikut ini lima karakteristik pemimpin yang paling dikagumi : 1) jujur, 2) berorientasi kemasa depan, 3) komitmen, 4) membangkitkan semangat, 5) cerdas.