Akhmad Sujadi
Akhmad Sujadi Wiraswasta

Entepreneur

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Artikel Utama

Ganjil Genap Tol Trans Jawa Musim Lebaran

9 Mei 2019   07:24 Diperbarui: 9 Mei 2019   08:32 402 3 1
Ganjil Genap Tol Trans Jawa Musim Lebaran
Sampah berserakan di antara kemacetan di arah keluar pintu tol Pejagan, di H-2 Lebaran, Jawa Tengah, 4 Juli 2016. Hal tersebut dikarenakan rendahnya kesadaran pemudik untuk menjaga kebersihan. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

Pemerintah telah berhasil merampungkan sebagian besar jalan tol Trans Jawa. Masyarakat pemilik mobil pribadi cukup senang dengan hadirnya jalan tol yang mengubungkan Merak, Banten ke Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka sudah ancang-ancang pada lebaran 2019 ini akan pulang kampung bersama keluarga dengan mobil pribadi.

Hadirnya jalan tol Trans Jawa telah mendekatkan jarak karena kendaraan dapat dipacu dengan kecepatan tinggi tanpa hambatan lampu merah, mobil dari jalur berlawanan dan pengendara tidak terganggu sepeda motor, dan aneka kegitan di jalan raya Pantura yang selama ini menjadi andalan pemudik menuju Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY.

Hadirnya jalan tol Trans Jawa telah mempersingkat waktu tempuh kendaraan. Pada hari-hari normal, di mana jumlah kendaraan tidak terlalu banyak, kehadiran jalan tol Trans Jawa sangat terasa mempersingkat waktu. Perjalanan dari Purbalingga-Jakarta sebelumnya bisa lebih dari 10 jam, kini bisa dipersingkat cukup 8 jam saja.



 

Penampakan jalan tol Trans Jawa (foto: Pasangmata)
Penampakan jalan tol Trans Jawa (foto: Pasangmata)
Perjalanan yang beberapa tahun lalu terasa jauh, dengan hadirnya jalan tol akan terasa singkat. Jalan tol Trans Jawa telah menggoda masyarakat untuk pulang kampung menggunakan kendaraan pribadi, sehingga diperkirakan pengguna jalan tol Trans Jawa bakal meningkat, sangat tinggi.

Pemerintah sebagai penanggung jawab arus mudik lebaran sudah mengantisipasi dengan merancang pengaturan arus lalu lintas di jalan tol Trans Jawa. Rencananya pemerintah akan menerapkan kebijakan ganjil genap pada lintas Jakarta-Brebes untuk mengatur arus kendaraan agar kapasitas yang terbatas ini bisa digunakan secara efektif dalam berlalu lintas.

Penerapan ganjil genap yang semula diterapkan hanya di ibu kota, kini akan meluas, merembet ke jalan tol Trans Jawa. Menjadi momok bagi masyarakat karena kebijakan ini diambil setelah pemerintah berhasil membangun jalan tol. Suatu kebijakan yang secara nalar berbanding terbalik dengan rasa bangga membangun jalan tol Trans Jawa. Seharusnya hadirnya jalan tol akan memberikan keamanan, kemudahan dan kelancaran bagi masyarakat.

Pemberlakuan ganjil genap di jalan tol Trans Jawa memberikan image bukan hanya kontroversi atas manfaat jalan bebas hambatan ini, namun juga membatasi masyarakat dalam mengakses jalan berbayar ini. Dalam benak sebagian masyarakat mereka akan heran ketika untuk pertama kali mereka melawati jalan tol untuk menikmati hasil pembangunan nasional.

Masyarakat tentu bukan semua berpenghasilan tinggi, untuk menggunakan kendaraan pribadi, mereka berpatungan agar bisa pulang kampung, terlebih ingin mencicipi jalan tol. Mereka bukan hanya dari Jawa, namun sebagain dari mereka juga dari Sumatera yang sebagainya juga sudah terbangun jalan tol Trans Sumatera.

Pemerjalan jalan tol dari Sumatera, tentu belum tentu ketika tiba di lintas jalan tol Jakarta-Brebes pas dengan kendaraan yang mereka gunakan. Untuk memberikan rasa keadilan, bagi pemerjalan dari Sumatera bisa diberi stiker khusus, boleh melewati ganjil genap selama arus mudik dan arus balik. Memberikan kesempatan kepada saudara-saudara kita yang mudik dari luarJawa harus menjadi prioritas. Stiker bebas ganjil genap bisa didapatkan di pintu masuk tol tempat kebijakan.

Pemberlakuan ganjil genap akan berdampak pada waktu keberangkatan para pemudik untuk memperhitungkan tiba di tujuan. Mereka ingin selama di jalan tol juga tidak macet. Mereka ingin perjalananya lancar, tidak terlalu lama di perjalanan namun cepat sampai tiba di tujuan. Semua orang berpikiran sama, sehingga pemikiran mereka akan tmpek blek ketika di ranah nyata mereka menghadapi kemacetan. Karena itulah, perlu diatur dengan kebijakan tepat, salah satu idenya ganjil genap.

Sudah bertahun-tahun, pemudik rata-rata orang Jawa, atau orang-orang yang tinggal di Jawa sebutan untuk warga Jawa Tengah dan Jawa Timur dan bekerja di Jakarta dan kota-kota lain di luar Jawa dan setiap setahun sekali mereka pulang kampung sangat Hari Raya Idul Fitri.

Kebiasaan berlebaran sangat identik dengan orang Jawa sebagai suku terbesar di negeri ini. Orang Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak merantau di ibu kota Jakarta serta kota lainnya. Jakarta lebih banyak dihuni sebagian besar Jawa, termasuk saya meskipun kos untuk bekerja.

Karena lebaran identik dengan kepulangan warga Jawa Tengah dan Jawa Timur, sudah menjadi bahasa umum kalau pulang kampung ke Jawa, meskipun mereka sama-sama tinggal di Pulau Jawa. 

Melihat kenyataan tersebut, maka mudik lebaran mayoritas menuju pulau Jawa, tak heran bila pemerintah juga memberlakukan kebijakan ganjil genap pada lintas Jakarta-Brebes. Hal ini menunjukkan mereka yang akan keluar di tol Brexit kendaraan akan makin bekurang setelah pintu tol ini. Setelah keluar tol Brexit, mereka ada yang menuju Brebes, Tegal dan kota-kota lain di sekitarnya.

Kemudian setelahnya, mereka akan keluar tol Pemalang untuk menuju Purbalingga, Banjarnegara, Purwokerto, dan Cilacap. Pengaturan ganjil genap di jalan tol merupakan antisipasi pemerintah atas prediksi membludaknya pemudik pengguna mobil pribadi pasca selesainya jalan tol Trans jawa.

Ada beberapa pemicu prediksi meningkatnya kendaraan pribadi saat mudik lebaran. Pertama masayrakat ingin mencoba jalan tol Trans Jawa. Kedua kenaikan harga tiket pesawat udara akan memicu pemudik menggunakan kendaraan pribadi, utamanya untuk penerbangan Jakarta-Semarang, Jakarta-Jogyakarta, Jakarta-Solo dan Jakarta-Surabaya. Dengan membawa kendaraan pribadi jatuh per orangnya akan lebih murah karena 1 kendaraan bisa mengangkut keluarga antara 4 hingga 8 orang.

Kebijakan ganjil genap meruapakan upaya pemerintah agar masyarakat dapat berlebaran di kampung halaman dengan aman, selamat dan lancar. Kisah tragis tiga tahun silam di mana pintu tol Brexit dituding menjadi biang kemacetan dan meninggalnya beberapa pemudik di jalan tol menjadi pelajaran dan pemerintah tidak ingin mengulang peristiwa masa lalu terulang kembali.

Jalan tol Trans Jawa telah hadir. Kendaraan pun makin bertambah terus tak terbendung. Setiap kali pabrik mobil dan motor mengeluarkan model baru. Belum selesai setahun, mobil miliknya telah tergilas model baru. Meskipun demikian mobil baru tetap laku, sementara mobil jadul tetap mengaspal. 

Hal tersebut yang menjadi pemicu tidak seimbang antara ketersediaan jalan dan laju pertumbuhan mobil pribadi. Pemerintah belum memilih menghentikan pruduksi mobil, namun masih mencoba mengatur kendaraanya di jalan raya. Semoga kebijakan ganjil genap bisa menjadi obat mujarab mencegah kemacetan saat lebaran. ***