Mohon tunggu...
Suherman Juhari
Suherman Juhari Mohon Tunggu... Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi ?

Suherman merupakan lulusan S-1 dan S2 Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya. Suherman aktif menulis artikel ilmiah, puisi, opini, novel dan lainnya.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Perang Dagang Jangan Khawatir, Perang Saudara Hindari

9 Agustus 2019   15:27 Diperbarui: 9 Agustus 2019   15:31 0 0 0 Mohon Tunggu...

Jika membicarakan mengenai fenomena ekonomi dunia, saat ini yang menjadi pembahasan berbagai ekonom adalah adanya perang dagang yang mempengaruhi stabilitas perekonomian dunia khususnya negara berkembang seperti Indonesia. Senyatanya perang dagang adalah urusan makro pemerintah Indonesia, sehingga masyarakat tidak perlu terlalu khawatir untuk dampak dampaknya. Secara langsung perang dagang hanya akan bergelut dengan kondisi makroekonomi saja, sedangkan secara mikro tidak akan terlalu dirasakan.

Kekhawatiran berlebihan akan perang dagang ini perlu dihentikan sebab ada masalah yang lebih urgent daripada membicarakan perdagangan. Masalah tersebut sudah berlangsung sejak pra-pemilu 2019 hingga saat ini pemilu telah dinyatakan selesai tapi tetap saja masih berlangsung aneka berdebatan. Ibaratnya perang saudara, cebong dan kampret saat ini semakin mendominasi pola pikir masyarakat Indonesia yang mendukung kedua pasangan calon (paslon) presiden dan wakilnya. Perang saudara hanya akan membuat perekonomian lumpuh karena ulah oknum radikal dalam hal politik praktis.

Perseteruan antara pendukung paslon ini harusnya sudah berhenti sejak dinyatakannya pemenang pemilihan umum oleh KPU apalagi kedua paslon sudah saling bertemu dengan sejuk beberapa waktu yang lalu. Meskipun demikian saat ini masih saja terjadi perdebatan yang menjadikan bangsa ini melemah dalam hal persatuan. Tidakkah kita ingat bahwa kemerdekaan bangsa ini bisa direbut karena persatuan para pahlawan dahulu? jika karena 2 tokoh bangsa yang sedang bertarung memperebutkan posisi nomor 1 negeri ini membuat bangsa harus terpecah, apakah kita tidak khawatir? Bagaimana jika Indonesia kembali terjajah, atau lebih buruknya terjadi perang saudara? Karena penjajah akan lebih mudah masuk saat kondisi bangsa sedang tidak stabil.

Narasi ketidakadilan adalah isu yang selalu diangkat oleh masyarakat untuk mempertegas adanya ketidakadilan yang masif di pemilihan umum yang telah usai. Padahal masyarakat tidak betul-betul tahu bahwa bukan ketidaakadilan yang membuat negara bisa hancur, melainkan persatuan yang luntur akan berpotensi membuat negara ini hancur lebur. Ambillah contoh kasus misalnya negara Suriah yang dulunya baik-baik saja tiba-tiba mengenaskan karena terjadi perang saudara yang menyita perhatian dunia. Pihak-pihak dari luar suriah pun turut serta mencampuri perang saudara antara oposisi melawan pemerintahan yang terpilih.

Bukan hanya mematikan perekonomian, melainkan perang saudara di Suriah juga mematikan rakyat yang tidak bersalah. Apa kita semua menghendaki perang saudara? Apakah terlalu ringan rasanya melepas masa depan generasi muda hanya untuk aktor politik praktis yang tidak semuanya bisa dipegang omongannya.

Sebenarnya apa yang hendak dicapai dari perdebatan mengenai kekuasaan bangsa ini? apakah hakikat keadilan itu benar-benar harus dipaksakan meskipun persatuan harus digadaikan dengan perdebatan-perdebatan yang tidak rasional lagi? Perdebatan irasional melebar menjadi perdebatan sara yang menjadikan bangsa ini semakin kelihatan terpecah. Jika Suriah saat ini sedang meratapi perpecahan yang terjadi akibat aktivitas yang "politis" lantas apakah Indonesia harus merasakan hal yang sama ? tidakkah kita lelah untuk saling berdebat ?

Kepada yang terhormat para petinggi cebong dan kampret yang semuanya keras kepala, sudahilah perseteruan ini. Mari membangun bangsa ini dengan membangun persatuan. Semua hal di negeri ini adalah tanggungajwab kita bersama. Jika bangsa ini terpecah lantas siapa lagi yang hendak menyatukannya. Masa depan anak cucu kita terancam hanya karena keinginan kita untuk menjadikan orang yang kita senangi jadi penguasa negeri. Sungguhlah pesta demokrasi kali ini berubah menjadi perebutan kekuasaan yang teramat memilukan. Hanya karena terlalu fanatik dalam memberi dukungan maka narasi peperangan dengan ringan diucapkan.

Negara ini bukan tentang cebong dan kampret lagi, cebong kampret hanyalah narasi politik pemilu yang harus segera diusaikan. Bagi kalian yang merasa cebong atau kampret sebaiknya sudahilah, bangsa ini sudah lelah. Jika kalian masih saja tetap ingin berdebat sebaiknya jangan dipertontonkan di media sosia ataupun dunia nyata. Cukup kalian selesaikan urusan masing-masing secara sadar dan elegan.

Jangan pernah membawa nama Tuhan untuk memulai perpecahan. Karena dalam pemilu ini tidak ada tokoh politik yang benar-benar suci, semua berpotensi tidak jujur. Jadi untuk apa kita repot-repot berdebat ? toh sebetulnya rakyat baik-baik saja, jangan menggiring opini bahwa bangsa ini sedang di ambang kehancuran. Justru bangsa ini akan benar-benar hancur kalau perang saudara sampai terjadi. Lalu mau apalagi? apakah kita tetap ingin membuat sekte cebong dan kampret ini selamanya menjadi minyak dan air yang tak bisa menyatu?

Sudahlah, mari merajut persatuan untuk negeri yang berdaulat dalam hal apapun. Perang dagang saat ini semestinya tidak menjadikan bangsa ini ketakutan, karena kita masih beruntung memiliki orang-oranng hebat yang mau berjuang menstabilkan perekonomian. Perang dagang adalah salah satu ancaman secara makro tapi perang saudara adalah ancaman secara komprehensif di dalam negeri ini.

Akhir kata, dengan sangat hormat kepada para cebong dan kampret agar berhenti mempertontonkan pertengkaran yang tidak perlu. Jika kita semua orang beriman pastinya sudah faham bahwa pengadilan tertinggi itu kelak ada di akhirat. Kalau saja memang betul telah terjadi ketidakadilan dalam negeri ini pasti Tuhan akan menjawabnya dengan adil di hari akhir nanti. Jangan jadikan iman anda lemah hanya untuk eksis di panggung politik praktis, karena sejatinya dalam politik itu tidak ada musuh yang abadi. Dalam politik yang abadi hanya satu, yaitu kepentingan. Mari kita bijak dalam berkata-kata dan hindari memecah belah bangsa Indonesia tercinta. Jadikan pertemuan dua kubu beberapa saat yang lalu sebagai alasan untuk kembali bersatu. Ucapkan selamat tinggal pada cebong dan kampret, selamat datang di Indonesia baru.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x