Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan

Cerpen | Ngantuk, Penyakit Hati, dan Rencana Mudik

1 Juni 2019   15:05 Diperbarui: 1 Juni 2019   15:07 37 1 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Ngantuk, Penyakit Hati, dan Rencana Mudik
Expressive Acrylic Painting With Patti Mollica Lesson 4 Italian Expressive Landscape Painting

Penyakit orang tua itu ya ngantuk setelah kenyang, ngantuk setelah kecapekan, ngantuk setelah dua -- tiga lembar Al Qur'anm dibaca, dan bahkan juga ngantuk di tengah ceramah salat tarawih yang tak lebih 10 menit itu. Ngantuk menjadi penyakit utama, tentu selain yang lain-lain berupa penyakit degeneratif.

Begitulah Bang Brengos berpikir dan heran sendiri atas kondisi tubuhnya. Kalau sekadar menahan lapar dan haus saja sejauh ini tak bermasalah. Tapi kalau harus menahan ngantuk terasa muskil untuk berhasil.

"Diajak ngobrol kok malah ngantuk terus. Jadi bagiamana ini soal mudik, pulang kampung, Bang?" tanya Mak Jumilah.

Itulah obrolan Mak Jumilah dengan Bang Brengos sepulah dari tarawih semalam. Mak Jumilah masih tahan duduk sambil menderas Al Qur'an, sedangkan Bang Brengos sudah terbujur di sofa dengan mata antara setengah tertutup.

"Abang biasa tidur terlalu malam. Itu soalnya. Maka tidurlah lebih cepat. Jadi bangun pun lebih cepat, sudah segar kembali, bukan malah tambah ngantuk. Di mana-mana orang bangun sahur memang ngantuk, tetapi begitu makan-minum ya langsung untuk siap salat Subuh berjamaah di masjid. . . . !" ucap Mak Jumilah setelap kali dilihatnya sang suami tampak repot mengatur kelopak mata supaya terbuka.

"Begitu teorinya. Abang juga tahu. Tapi kelopak mata ini sudah tidak seperti dulu lagi, tidak mudah diajak berkompromi. . . . !"

"Dulu yang mana? Dulu yang tiap ada cewek cakep lewat langsung melirik?"

"Ohh, itu dulu sekali sebelum ketemu Mak. Belakangan kelopak mata tak terpejam sebelum pekerjaan selesai. Bisa sampai pagi kerja lembur di kantor. Walaupun esok paginya harus kembali masuk kerja dan berpuasa Ramadan. Tidak ada lagi urusan melirik, apalagi melotot. . .!" jawab Bang Brengos dengan kelopak mata masih tertutup dengan posisi terduduk, namun tersandar, di sofa panjang ruang tengah. "Mak ingat 'kan?

"Ingat. Abang selalu menunduk bila berjalan. Lantaran tidak melihat ke depan sampai beberapa kali bertabrakan dengan pejalan lain. Lucu sekali. . . . . !"

"Apa yang lucu? Tabrakan dengan lelaki gendut. Perut buncit pula. sampai terpental Abang!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN