Mohon tunggu...
Kang Sugita
Kang Sugita Mohon Tunggu...

seorang bapak guru di pelosok gunungkidul

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sendang Banyurip

9 Juli 2012   02:58 Diperbarui: 25 Juni 2015   03:09 300 0 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sendang Banyurip
13418020981130951787

Berada di sudut lekukan perbukitan yang membingkai Kabupaten Gunungkidul di sisi barat laut, yang pada masa kecil saya masuk kecamatan Patuk, namun sekrang masuk kecamatan Gedangsari, di desa Serut; sendang Banyurip adalah salah satu tempat yang banyak memberi kesan pada masa kecil saya. Dikatakan "SENDANG" karena di tempat ini terdapat mata air yang sepanjang tahun tak pernah kering, sehingga menjadi andalan warga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya; baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun mengairi lahan pertaniannya. Menurut penuturan para tetua, demi menghindarkan dusun Banyurip dari kebanjiran, oleh tokoh desa setempat sumber air ini ditutup dengan GONG besar. Saya tidak yakin sepenuhnya, namun memang dialiran air dari sumber ini muncul KARAT, yang menunjukkan adanya unsur logam pada mata air tersebut. Lokasi sendang ini berada di tanah kas desa (sering disebut tanah O-O, oro-oro, ladang penggembalaan) termasuk wilayah dusun Serut. Di sisi selatannya terdapat perkampungan yang disebut Asem Gedhe dan Dhongmanglu, nama-nama yang di dasarkan dengan keberadaan pohon asam jawa yang lumayan besar. Dari sumber ini, air mengalir ke barat masuk dusun Banyurip yang termasuk satu dusun terselatan dari Kabupaten Klaten. Pada masa kecil saya, di lokasi ini terdapat tiga batang pohon mangga yang sangat besar, yang sayangnya beberapa tahun lalu pohon yang terbesar telah roboh, sementara pohon terkecilnya ditebang. Jadi tinggal tersisa satu pohon mangga. Selain itu ada dua pohon asam besar (satu pohon juga sudah mati), pohon GEBEL. Pohon mangga yang terbesar, pada masa kecil saya, bersama teman-teman berusaha mengukur lingkar batangnya. Perlu anda ketahui, untuk mengeliling pangkal batang pohon mangga ini memerlukan 10 anak dengan kedua tangan terentang dan hanya beradu ujung jari. Jika rata-rata panjang rentangan tangan satu anak 125 cm, berarti setidaknya lingkar batang pohon mangga ini 12,5 m. [caption id="attachment_193209" align="alignnone" width="400" caption="sebatang pohon randu ditanam untuk menggantikan pohon mangga besar yang tumbang beberapa tahun lalu"][/caption] [caption id="attachment_193211" align="alignnone" width="300" caption="salah satu pohon asam yang tersisa, melalui pohon asam ini kami dulu memanjat untuk mencapai cabang pohon mangga besar"]

13418024131059890673
13418024131059890673
[/caption] Dengan cabang terrendah sekitar 10 meter dari tanah, sangat sulit untuk memanjat pohon ini melalui batangnya, kecuali dengan peralatan lengkap. Namun kami biasa memanjatn pohon mangga besar ini pada saat berbuah atau ingin mengambil sarang burung yang ada di atas, melalui batang pohon asam yang berdiri 10 meter di sebelahnya. Setelah memanjat ohon asam sampai puncaknya, kemudian berdiri tegak dan meraih cabang pohon mangga yang melintang di atasnya (hanya beberapa orang yang berani melakukan, saya tidak termasuk di antaranya), kemudia mengikuti cabang yang ada. [caption id="attachment_193212" align="alignnone" width="300" caption="cungkup, tempat juru kunci melaksanakan prosesi syiriknya bersama para pengikutnya"]
13418025601513737563
13418025601513737563
[/caption] Setahun sekali, pada hari SENIN KLIWON bulan Juni atau Juli di tempat ini diadakan SADRANAN (di tempat lain di Gunungkidul sebutananya RASULAN). Tahun ini diadakan pada SENIN KLIWON, 25 Juni 2012 yang lalu.  Warga sekitar dari berbagai dusun, termasuk dari wilayah Klaten berkumpul di tempat ini dengan membawa makanan dalam wadah TENONG atau bakul, setelah di adakan do'a oleh sesepuh desa (Modin) kemudian sebagian bari makanan yang dibawa disisihkan untuk dibagikan kepada pengunjung yang hadir. Biasanya untuk memeriahkan acara, disajikan "JATHILAN", dan pada malam harinya di Kalurahan Serut diadakan pergelaran Wayang kulit, dengan cerita BRUBUH ALENGKA, sedang di dusun Banyurip diadakan TAYUB. Satu hal yang sangat di sayangkan, malam hari seblum upacara SADRANAN diadakan, di tempat ini sudah ramai dengan warga yang berdatangan dengan perilaku SYIRIKnya. Mereka mengadakan ritual dengan niatnya masing-masing dengan berbagai sesajian. Sungguh sangat disayangkan para pemimpin di wilayah ini kurang serius menghilangkan buadaya syirik yang berkembang, atau bahkan berusaha melestarikannya karena keuntungan ekonomis yang mereka peroleh. Meski Islam sebagai agama mayoritas warga, namun pada kenyataannya yang menjalankan ajaran agamanya (sholat) adalah minoritas. Hingga saat ini, jika warga sekitar punya hajat, mereka masih saja memngadakan sesaji di tempat ini. Bahkan para generasi muda yang semula diharapkan mulai meninggalkan budaya syirik inipun kelihatannya banyak yang tidak sanggup melawan, bahkan ikut-ikutan hanyut dalam arus syirik tersebut. Pada masa kecil saya dulu, kami sering merampas sesaji yang dibawa ke tempat ini sebelum sampai di tujuan. Jika yang membawa sesaji anak kecil bersama sesepuh yang akan membacakan mantra persembahan berjalan di depannya, maka kami dari balik semak mendadak merebut barang-barang sesajian berupa makanan dan buah-buahan. Dahulu kami bermaksud supaya ritual mengantar sesajian itu terhenti, namun upaya kami kelihatanya kurang berhasil. Itu adalah sisi negatif dari tempat ini. Sisi lainnya, pada masa kecil saya, tempat ini adalah ladang penggembalaan favorit kami. Sambil menggembalakan ternak, sapi atau kambing, kami biasa mencari ikan atau udang di aliran sungai di  Sendang ini. Kami tidak pernah membawa pulang ikan atau udang yang berhasil kami tangkap, sebab biasanya langsung dibakar dan dimakan disana, meski tanpa bumbu apapun. Itulah kenangan masa kecil saya di Sendang Banyurip, sebuah sendang yang airnya mengalir sepanjang tahun.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x