Mohon tunggu...
Sucen
Sucen Mohon Tunggu... Hidup itu sederhana, putuskan dan jangan pernah menyesalinya.

Masa depan bukan Tahun depan, Bulan depan, bahkan minggu depan masa depan adalah hari ini. Manfaatkan hari ini dengan baik maka itulah masa depanmu.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Embung Digawe, Ketiga Garing Rendeng Melep-melep

9 Juli 2019   09:47 Diperbarui: 9 Juli 2019   17:06 0 1 1 Mohon Tunggu...
Embung Digawe, Ketiga Garing Rendeng Melep-melep
20190709-141550-5d2466d00d823069f368a5e4.jpg

Sektor Pertanian menjadi penopang hidup warga Brebes pada umumnya. Tak heran jika diperlukan infrastruktur seperti embung, aliran sungai yang lancar, dan sumber mata air yang tersedia dengan baik, termasuk tata kelola hulu hilir aliran air yang dimanfaatkan untuk kepentingan lahan pertanian.

Embung atau cekungan penampung (retention basin) adalah cekungan yang digunakan untuk mengatur dan menampung suplai aliran air hujan serta untuk meningkatkan kualitas air di badan air yang terkait (sungai, danau). Embung menampung air hujan di musim hujan dan lalu digunakan petani untuk mengairi lahan di musim kemarau.

Tampak rupanya embung dibangun dimana-mana, tak sedikit anggaran yang digelontorkan Pemerintah dalam hal ini sumber anggaran APBD I Provinsi yang berjumlah Milyaran Rupiah. Menurut Pusat Data dan Tata Ruang Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Brebes ada 28 embung, namun dari embung yang ada saat musim kemarau kondisinya kering, hanya akan penuh pada musim penghujan. Sebaran embung per  kecamatan sebagai berikut :7 di Kecamatan Bulakamba, 7 di Kecamatan Larangan, 5 di Kecamatan Jatibarang, 2 di Kecamatan Ketanggungan, 1 di Kecamatan Sirampog, dan 7 di Kecamatan Songgom. ini berita gembira karena diharapkan dengan adanya embung masalah petani ketika menghadapi musim kemarau tidak lagi kesulitan jika hendak mengairi sawahnya. serta sebagai serapan dan menahan air sumur warga agar terhindar dari kekurangan air bersih.

Namun pada kenyataanya hal ini berbanding terbalik dengan kenyataanya bahwa infrastruktur yang dibangun belum menjawab kesulitan warga tani pasalnya embung yang dibangun ketika kemarau tak mampu menampung atau menahan air bahkan kering, dan saat musim hujan datang air meluap penuh. ini miris apa yang salah, tentu segala sesuatu sudah diperhitungkan apa dan bagaimanya.

Penulis berharap ada evaluasi dan perhatian dengan kejadian ini karena sumber daya petani ada di sistem pengairan. bisa dibayangkan musim kemarau baru beberapa bulan tanah sudah kering bahkan para petani rela membuat sumur pantek.

Sumur pantek adalah sumur atau sumber air yang diperoleh dengan cara pengeboran manual. Sumur bor dengan metode pantek dilakukan secara manual oleh 3 orang atau lebih. Karena dikerjakan oleh tenaga orang, maka kedalaman sumur pantek hanya berkisar antara 0-40 meter, berbeda dengan sumur bor yang menggunakan metode mesin otomatis yang bisa mencapai kedalaman ratusan meter. Kelebihan sumur pantek adalah biayanya yang relatif murah dibandingkan sumur bor otomatis dan sumur bor semi otomatis.

Dengan menggunakan kedalaman standar 6-7 meter tersebut, air sudah bisa mengalir. Namun derasnya air yang mengalir tergantung dari sumber air di mana pengeboran dilakukan. Kalau yang beruntung, hanya dengan kedalaman sumur 7 meter saja, air sudah dapat mengalir dengan baik dan deras. Tapi buat yang kurang beruntung, maka terpaksa dilakukan pengeboran lebih dalam.

demi untuk kelangsungan hidup tanaman yang jika dibiarkan para petani bisa mengalami gagal panen. jika demikian maka petani akan mengalami kerugian.