Mohon tunggu...
Suci Handayani Harjono
Suci Handayani Harjono Mohon Tunggu...

Ibu dengan 3 anak, suka menulis, sesekali meneliti dan fasilitasi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tradisi Jawa yang Dilakukan Jelang Bulan Puasa

4 Juni 2016   14:31 Diperbarui: 4 Juni 2016   17:34 0 5 5 Mohon Tunggu...
Tradisi Jawa yang Dilakukan Jelang Bulan Puasa
sumber foto : soloraya.com

Bulan puasa tinggal menghitung hari, kalau tidak ada perubahan, akan dimulai hari Senin tanggal 6 Juni 2016 nanti. 

Bagi kami, orang Jawa, terutama umat muslim, bulan puasa menjadi bulan yang sangat dinantikan, tidak hanya karena berkesempatan istimewa untuk menjalani ibadah puasa, tetapi juga mengikuti rangkaian tradisi Jawa yang melekat sampai sekarang.

Sebelum  memasuki bulan puasa, kami masyarakat Jawa biasanya sudah sibuk, repot menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut bulan ramadhan. Dan sampai sekarang, meskipun jaman sudah berubah, tehnologi semakin maju, tetapi kami, orang Jawa masih kental dengan berbagai tradisi .

Beberapa tradisi orang jawa  yang mengiringi pelaksanaan ibadah di bulan ramadhan adalah sebagai berikut:

Tradisi yang satu ini butuh persiapan yang tidak cukup lama karena ada beberapa kegiatan yang dilakukan. Nyadran terdiri dari serangkaian kegiatan seperti besik kuburan (membersihkan kuburan), ziarah kubur dan kondangan atau kenduri atau kenduren.

Biasanya dilakukan di hari kesepuluh bulan Rajab atau saat datangnya bulan Sya’ban. Meskipun tidak harus tepat harinya, tetapi orang Jawa biasanya mengambil hari tersebut.

Ritual nyadran dimulai dengan datang ke kuburan untuk besik-besik atau membersihkan kuburan baik dari rumput liar, kotoran daun kering  atau ranting kering. Jaman dahulu, di desa, kami biasa datang bersamaan, biasanya orangtua dan  anak-anaknya diajak untuk ikut membersihkan kuburan. Bisa kuburan nenek/kakek, saudara atau leluhur lainnya. Kami biasa membawa gathul (sejenis cangkul tapi hanya seukuran sabit) untuk mencabuti rumput, dan sapu lidi. Saat membersihkan kuburan, kami tidak sendirian,  karena hampir semua warga desa yang mempunyai leluhur di kuburan akan datang dan ikutbesik-besik.

Kemudian kami akan nyekar/ziarah kubur , menaburkan bunga dan mendoakan arwah nenek moyang  yang telah tiada.

Nah, biasaanya 2 atau 3 hari kemudian(tergantung kesepakatan tetua dusun ), setelah bersih-bersih kuburan, kami warga sedesa akan melakukan ritual selanjutnya yaitu kenduri atau kenduren di areal kuburan tersebut. Saat kecil, akan dipilih tempat diantara kuburan yang cukup lapang untuk di tata alas tikar yang bisa menampung warga dusun . Karena hampir semua warga dusun, tua muda, besar kecil akan datang dan ikut kenduren. Tetapi saat kecil dulu, saya juga mengalami tidak lagi kenduren di areal kuburan tetapi pernah di areal sumur agung (di desa biasanya ada sumber air yang airnya menjadi andalan warga saat kemarau). Tetapi  saya juga pernah mengalami ikut kenduren  di rumah salah satu warga desa . Intinya pilihan tempat untuk kenduren terserah warga desa tersebut.

Menu yang dibawa untuk kenduren biasanya nasi gurih (nasi yang dimasak dengan santan kental) yang ditaburi kacang kedelai goreng, dengan lauk ayam, tempe, sayur Lombok ijo (jangan Lombok ijo), perkedel, kering tempe, mie goreng,  telur rebus, dilengkapi dengan rempeyek kedelai. Tak lupa ada makanan kecil yang menjadi makanan khas kami yaitu apem(kue dari campuran tepung beras, santan yang dimasak dengan di sangan).

Semua makanan di letakkan di atas tampah kecil, atau di tenongan (tempat nasi  terbuat dari bambu)  nasinya di buat kerucut atau tumpeng kemudian diatas nasi di tancapi cabe dan bawang putih yang ditusuk sodho atau ditusuk lidi

Setiap rumah akan membawa satu buah nasi kenduren lengkap dengan lauk-pauknya. Kemudian semua makanan tersebut akan diletakkan di tengah-tengah warga yang duduk bersila. Selepas pak Kyai atau mbah Modin mengucapkan doa yang diamini oleh warga, kami semau langsung menyerbu makanan yang tersedia. Biasanya kami tidak mengambil makanan yang dibawa sendiri, tetapi memilih mengambil makanan yang di bawa tetangga. Dan begitulah, semua yang hadir makan bersama menikmati berkah yang ada sambil tak luap mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa.

Dudgeran sendiri  ada yang melaksanakan tetapi ada juga yang tidak. Dugderan sendiri seperti pasar malam, jadi ada pedagang yang menjual beberap  jenis barang dagangan  yang dibutuhkan warga. Kalau di  desa  kami dulu (klaten) jarang ada dugderan menjelan puasa, biasanya malah sesudah puasa atau saat harai raya Idul fitri selama beberapa hari.  Kalau di Semarang,  tradisi Dugderan  dilakukan seminggu sebelum ibadah puasa dimulai.

Tradisi tersebut, menurut kabar, sudah dilakyukan sejak tahun 1881, sangat lama, Dan sampai sekarang sebagian tempat masih melakukan tradisi tersebut.

Biasanya diujung hari terakhir dugderan masjid agung akan menambuh bedug dengan kencang ‘du..dug…dug..” sebagai tanda bulan puasa telah tiba.

Kalau tradisi yang satu ini memang jarang dilewatkan .Rasanya tidak ada yang menolak untuk ikut padusan menjelang bulan puasa. Padusan dalam bahasa jawa berarti adus atau mandi.  Sebenarnya makna dibalik padusan tersebut untuk membersihkan diri sebelum menjalankan ibadah puasa. Membersihakn diri dari hal-hal, perbuatan yang tidak baik sehingga saat menjalai puasa dalam jiwa yang suci, bersih dan murni. Tetapi dalam perkembangannya orang-orang melihat padusan  itu dilakukan dengan cara adus/mandi sehingga bdan menjadi bersih kembali. Makanya tidak heran jika sehari menjelang  bulan puasa, hampit tidak ada kolam renang, sungai, danau, embung, tempat arena permainan air yang sepi dari pengunjung.

Saat saat kecil, tradisi padusan sangat dinanti, dan kami biasanya sudah menyiapakn diri jauh sebelumnya , merencanakan mau padusan ke umbul/kolam tertentu.

Itulah tiga tradisi orang Jawa menjelang bulan puasa yang sampai sekarang masih dilakukan. Itulah cara sederhana kami untuk  nguri-nguri /melestarikan budaya jawa.**

_Solo, 4 Juni 2016_