Mohon tunggu...
Subejo PhD
Subejo PhD Mohon Tunggu... Akademisi dan Peneliti

Dosen dan Peneliti Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Post-Truth Era: Mempertanyakan Eksistensi Kepakaran

25 Mei 2019   18:30 Diperbarui: 12 Juni 2019   08:54 0 15 2 Mohon Tunggu...
Post-Truth Era: Mempertanyakan Eksistensi Kepakaran
Ilustrasi (KOMPAS/DIDIE SW)

Buku yang berjudul Matinya Kepakaran (The Death of Expertise) karya Tom Nichols nampaknya menjadi salah satu puncak kegelisahan atas meredupnya kepakaran seiring menyeruaknya berbagai alternatif informasi di ruang-ruang publik dengan pemanfaatan berbagai aplikasi internet pada post truth era.

Banyak persoalan yang ingin diketahui oleh publik yang sesungguhnya domainnya para pakar, namun pada era informasi saat ini bisa dijawab dengan sangat cepat oleh berbagai layanan informasi dan aplikasi internet baik dengan sumber yang jelas maupun anonim.

Sering jawaban orang awam yang sok tahu dan provokatif atau pesohor yang menyesatkan namun banyak pengikutnya justru lebih dipercaya dibanding pandangan pakar. Hal ini mengkhawatirkan dan membahayakan jika menyangkut isu-isu sensitif yang memiilki risiko konflik sosial yang tinggi.

Pesan moral dari Tom Nichols adalah pentingnya bagi semua orang untuk mencari dan memperoleh informasi dari sumber yang tepat demi kebaikan dirinya sendiri dan orang lain.

Para pakar mestinya tidak hanya asyik dengan dirinya dan dunianya sendiri, mereka memiliki tanggung jawab moral dalam mendidik dan mencerdaskan masyarakat, membangun demokrasi, dan membantu publik membuat keputusan tepat.

Kepakaran dan Media Baru
Dalam konteks Indonesia, pada beberapa dekade pembangunan nasional sebelum munculnya era media baru, birokrasi, kaum intelektual dan jurnalis melalui media mainstreamnya menjadi sumber informasi yang dipercaya dan diakui kebenarannya.

Namun pada beberapa tahun terakhir, berbagai hal yang menyangkut minat dan kepentingan publik mewarnai media-media sosial dan aplikasi internet. Informasi yang dianggap benar bukan lagi monopoli dari birokrat, kaum intelektual dan jurnalis.

Berbagai isu dan informasi membanjir di media sosial dan secara leluasa dapat dicari oleh publik. Dengan kepiawaian mempersuasi serta sering dengan memanipulasi emosi publik maka bermunculan figur publik baru yang seolah-olah sangat menguasai bidang tertentu meskipun tidak memiliki track record akademik yang jelas.

Namun demikian memang ada individu dengan otodidak belajar dapat memiliki kemampuan setara dengan pakar yang formal. Namun jumlah orang yang seperti itu tentu tidak banyak dan tidak bisa dilakukan semua orang.

Potensi perkembangan internet yang bisa menjangkau publik tanpa hambatan waktu, tempat dan situasi sebenarnya juga merupakan potensi penting bagi kepakaran untuk berkontribusi mewarnai diskusi publik atas problematika kehidupan dan kepentingan masyarakat.

Holmes (2012) melihat semakin masifnya cyber-community yang memungkinkan arus informasi mengalir dengan pola one to one, one to many, many to one dan many to many. Setiap orang memiliki kesempatan menjadi produsen sekaligus konsumen informasi. Meskipun tanpa atribut kepakaran, semua orang bisa membuat pernyataan dan jika mampu mempersuasi publik dapat menjadi viral.

Urgensi Keterlibatan Pakar
Minimnya kehadiran  pakar dalam ruang-ruang publik media baru menyebabkan isi dan arus informasi semakin tidak terkontrol. Publik akan menganggap suatu informasi baru sebagai sebuah kebenaran jika secara masif terus menerus diterima dan akan lebih dramatik jika dikaitkan dengan isu-isu menyangkut SARA yang sangat potensial untuk mempengaruhi suasana emosionalnya.

Informasi yang sumir bahkan hoaks namun disebarkan dan diendorse para pesohor baru yang banyak pengikutnya juga akan mempengaruhi psikologis publik sehingga bisa dianggap sebagai kebenaran tanpa perlu cross check pada pakar kompeten.

Kini saatnya bagi para pakar untuk lebih sering tampil dan memanfaatkan media baru sehingga gagasan-gasannya bisa kembali mewarnai keingintahuan dan minat publik. Akan menjadi kesalahan pakar jika membiarkan ruang-ruang publik terus menerus dijejali dengan hal-hal yang bisa menyesatkan publik sendiri.

Ketika isu dan keterlibatan pakar mewarnai wacana di media sosial akan menjadi pesaing kuat bagi wacana yang tidak logis dan tidak berdasarkan pada fakta empiris.

Diperlukan adaptasi dari kepakaran sehingga tidak kaku, formal dan instruktif. Cara pengemasan ide-ide kepakaran dengan menyesuaikan dinamika media sosial dan fleksibilitas tinggi akan menjadi pertimbangan penting bagi publik dalam memahami dan menilai isu-isu strategis yang berkembang. Ketika logika publik bisa menerima dengan baik, maka ide-ide kepakaran akan menjadi ide yang diikuti dan dibenarkan publik.

Sejalan dengan gagasan Tom Nichols, juga urgen untuk membangkitkan kembali kolaborasi antara para pakar dengan jurnalis profesional. Pada masa lalu para jurnalis profesional yang sangat kompeten merupakan jembatan untuk mendiseminakan berbagai hal kepakaran yang menyangkut isu-isu kehidupan dan kepentingan publik melalui berbagai karya jurnalistiknya.