Gayahidup Pilihan

Ketika Cemburumu Hilang, Apa yang Terjadi?

14 Februari 2018   16:57 Diperbarui: 14 Februari 2018   16:59 500 0 0
Ketika Cemburumu Hilang, Apa yang Terjadi?
stockphotos.ro

"Selamat Hari Valentine", kata banyak orang hari ini 14 Februari, baik tua dan muda semuanya mengucapkan ini dengan bangga, untungnya budaya impor ini tak begitu laku di negeri kita yang sudah kaya dengan budaya dan adat istiadatnya, namun sayangnya saudara kita di belahan bumi lain dengan suka cita menyambut hari ini, apalagi muda mudi, tak banyak yang membeli cokelat dan diberikan kepada seseorang yang ia kagumi, ia menganggap bahwa Hari Ini adalah hari penuh kasih sayang sehingga harus menunjukkannya dengan sebatang cokelat. Tahukah ia sejarah Valentine tersebut? 

Di eropa sana muda mudi merayakan Valentine dengan menunggu masuknya hari Valentine hingga tengah malam dan melakukan hubungan suami istri saat hari telah berganti menjadi hari Valentine, belum lagi dari nama Valentine yang di ambil dari seorang uskup atau pendeta kristen yang di hukum mati, lalu kini dengan tidak bersalahnya kita mengatakan "Selamat Valentine...", sambil menyodorkan sebatang cokelat, luar biasa sekali. "Atau itu hanya trik agar produk cokelat menjadi laku sehingga dijadikan ia simbol dari perasaan cinta tersebut, sehingga perusahaan cokelat jadi laku keras", begitulah Detektif Conan menganalisanya.

Seolah-olah "cinta" adalah barang laku yang tak pernah kadaluarsa untuk buming di Indonesia, seperti lagu-lagu yang paling banyak diminati dan dibuat oleh penyair adalah lagu cinta, dan yang baru-baru ini yang menggemparkan kita adalah 'Cinta Dilan', dengan logika berpikirnya yang unik menjadikan gombalannya di lirik banyak muda mudi.

Cinta adalah segalanya, cinta adalah anugerah yang tak terkira dan cinta adalah nikmat dan energi yang menguatkan, begitulah muda mudi kita menafsirkannya. Walaupun Valentine tidak begitu nampak oleh kita, namun budayanya sudah banyak dipraktekkan oleh muda mudi. Kisah cinta muda mudi yang banyak digambarkan saat ini adalah penggambaran bahwa muda mudi itu harus gini loh, kamu itu harus gini, kamu harus punya pacar, dan banyak doktrin-doktrin yang ditanamkan olehnya, yang padahal itu tak seharusnya dikerjakan oleh muda mudi.

Zaman memang sangat berubah, jika kita menilik ke zaman ayah dan ibu kita tak akan kita dapati keadaan muda mudi seperti saat sekarang ini, dulu pantang sekali jika seorang abang membiarkan adik perempuannya di goda laki-laki lain, bahkan ada yang sampai membunuh karena mempertaruhkan kehormatan adik perempuannya, ia disidang dan dipenjara selama 15 tahun, tapi tersenyum, dalam hatinya ia bangga karena ia melakukan itu karena mempertahankan kehormatan adik perempuannya, tak masalah ia dipenjara hingga 15 tahun yang penting ia tak menyesal hingga akhir hayatnya. 

Di suatu tempat pernah juga ada seorang ibu sedang memandikan anak gadisnya, usai anak itu dimandikan ia keluarkan pisau dari sarungnya dan ia bunuh anaknya, saat ditanya kenapa sang anak dibunuh, si ibu menjawab "ia telah menjalin hubungan dengan teman laki-lakinya" ,daripada menahan malu lebih baik anak itu tidak ada saja. Dan juga yang sangat 'pantang' orang dulu adalah ketika ada pemuda yang lalu lalang di rumah seorang gadis yang padahal tak ada urusannya disana, maka orang-orang akan datang mengeroyoknya, karena seolah ia telah mencemarkan nama baik keluarga si gadis.

Dan kini akibat film-film barat yang mengumbar-umbar nafsu membuat budaya kita yang hebat itu terkikis habis, orang tua tak peduli lagi jika anaknya berpacaran, padahal ia tahu di berita banyak anak yang hamil tanpa suami, orang tua tak peduli lagi jika anaknya dibawa oleh teman laki-laki anaknya, padahal ia tak tahu kemana dan apa yang dilakukannya saat mereka berdua-duaan, seorang abang tak memiliki rasa cemburu lagi ketika adiknya digoda oleh laki-laki lain, iya 'cemburu', itulah yang hilang dari manusia saat ini. 

Sang suami tak tersinggung jika istrinya dipegang oleh orang lain, si istri tak merasa bersalah mengizinkan laki-laki lain masuk kerumah tanpa ada suami di rumah. Dan kini 'cemburu' itu telah musnah dari manusia. Jika ia cemburu saat adiknya diganggu maka orang-orang akan bersorak "dasar kolot, baper dan tidak gaul, kid zaman now, bro", maka matilah cemburu tersebut. 

Cemburu hanya boleh jika pacarmu diganggu orang, maka hingga wajah lebam dan berdarahpun ia mempertahankan cintanya, harga dirinya diinjak-injak saat pacarnya diganggu dan darahnya mendidih disebabkan pacarnya, sungguh cemburu yang tak pada tempatnya. Dimana harga dirimu saat adikmu dibawa boncek oleh laki-laki yang tak kau kenal, dimana harga dirimu saat anakmu berdua-duaan dengan laki-laki asing yang ia tak pasti akan menjadi menantumu. Jika perkara sudah tak bisa di ubah, nasi sudah menjadi bubur dan itu sudah terjadi, maka anak yang hamil terpaksa dinikahkan dengan yang menghamilinya. Baru penyesalan timbul, baru darah itu mendidih dan baru harga dirimu merasa diinjak-injak.

Letakkan cinta itu pada tempatnya, cinta muda mudi hanya bayangan semu dan fatamorgana, memang ada masa dimana gelora 'suka' itu muncul, tapi jangan sampai dilepas semaunya, karena kau tak bisa mengendalikannya, maka disana peran orang tua dan masyarakat menguatkan muda mudinya, bahwa itu adalah perkara yang tidak benar, merusak diri dan merusak masyarakat, maka yang burukpun akan tertolak dan bencana tak jadi turun.

Seorang bijak pernah berkata, "cinta yang sebenarnya adalah cintamu dimasa-masa senja", yakni disaat-saat kita tua nanti, saat kita menerimanya apa adanya dan tak menilik kekurangan si kekasih walau ia telah renta, sedangkan apa yang dicandukan muda mudi sekarang tak lebih itu adalah 'nafsu' bukan cinta.

Cemburu, jangan sampai ia hilang hari diri seorang manusia, cemburu seorang pemuda saat pacarnya diganggu adalah cemburu yang tak pada tempatnya. Cemburu seorang abang saat adiknya diganggu orang, cemburu seorang ayah saat anaknya pergi bersama laki-laki tak dikenal, dan jika cemburu kepada keluarganya sendiri sudah hilang, bagaimana dengan cemburu kepada agamanya, bagaimana sikapnya saat agamanya di injak-injak? Bagaimana saat Rasulnya dihina? Bagaimana saat Al Qur'annya diolok-olokkan?
semuanya adalah karena cemburu, harga diri bangkit karena cemburu, darah mendidih karena cemburu, dan kehormatan tetap berdiri karena cemburu.

Lalu bagaimana dengan cemburumu? Apakah ia sudah berdiri diposisi yang benar?

Sumber :
Buya Hamka, Ghirah Cemburu Kerena Allah