Mohon tunggu...
Stephen G. Walangare
Stephen G. Walangare Mohon Tunggu... -
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Kunang-kunang kebenaran di langit malam.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Penatalayanan yang Berpusatkan Injil

17 Agustus 2018   23:17 Diperbarui: 26 Agustus 2018   04:53 524
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ada begitu banyak gambaran yang dipakai untuk sebuah gereja. Misalnya, kita digambarkan sebagai umat perjanjian, kawanan domba, dan masih banyak lagi. Beberapa gambaran yang dipakai Alkitab untuk gereja, menekankan bahwa setiap kita bukan hanya memiliki kesatuan di dalam Tuhan, tetapi kita juga harus saling berpartisipasi dan saling memberi kontribusi serta saling melayani satu dengan yang lain. Itu semua hanya bisa terjadi kalau kita sadar bahwa apapun yang kita miliki ternyata bukan milik kita. Apapun yang kita miliki adalah pemberian dari Allah. Bukan supaya kita miliki sendiri, tetapi supaya kita usahakan, dan supaya kita atur untuk melayani orang lain. Itulah yang disebut penatalayanan, bukan kepemilikan (Mat. 25:14-30).

Perumpamaan ini termasuk perumpamaan yang sangat menarik karena dua hal. Pertama, perumpamaan ini adalah yang paling panjang dalam Injil Matius. Hal ini memperlihatkan nilai penting perumpamaan tentang talenta bagi Matius. Kedua, perumpamaan ini juga termasuk salah satu yang paling terkenal. Siapa yang tidak pernah mendengarkan nasihat untuk menggunakan talenta kita bagi kemuliaan Allah?

Analisa konteks

Sama seperti dalam menafsirkan teks-teks lain, salah satu prosedur penting dalam menafsirkan sebuah perumpamaan adalah memperhatikan konteksnya. Pengabaian terhadap analisa konteks dapat menyebabkan kekeliruan penafsiran. Kita perlu mengetahui terlebih dahulu siapa pendengar dari perumpamaan ini, kepada siapa perumpamaan ini ditujukan, dalam situasi seperti apa perumpamaan tersebut disampaikan, dan topik apa yang sedang dibicarakan. Dengan kata lain, upaya kita untuk menceraikan sebuah perumpamaan dari konteksnya hanya akan membuat kita makin sulit untuk memahaminya.

Matius 24:1-3 memberi petunjuk eksplisit bahwa semua pengajaran Tuhan Yesus di pasal 24 dan 25 ditujukan kepada murid-murid Tuhan Yesus. Secara khusus, semua itu diajarkan dalam kaitan dengan akhir zaman. Murid-murid diperintahkan untuk mewaspadai tanda-tanda akhir zaman (24:4-44) dan mempersiapkan diri dalam segala waktu (24:45-25:13). Tuhan Yesus dapat datang setiap saat seperti pencuri. Karena itu, murid-murid harus waspada dan menunggu, supaya tidak tertinggal seperti lima gadis bodoh (25:1-13).

Yang menarik menurut saya di dalam perumpamaan ini adalah karena perumpamaan sebelumnya membahas tentang lima gadis yang bijaksana dan lima gadis yang bodoh. Sebagian orang menafsirkan perumpamaan ini dengan cara menyimpulkan bahwa tugas kita hanya menantikan kedatangan Tuhan Yesus. Menanti dan menanti. Menunggu, menunggu, dan menunggu. Apakah menantikan kedatangan Tuhan Yesus berarti hanya berdiam diri saja? Tentu saja tidak! Ternyata, perumpamaan tentang talenta mengajarkan sesuatu yang berbeda. Kata sambung "sebab" di 25:14 menyiratkan hubungan yang erat antara 25:1-13 dan 25:14-30. Maksudnya, "berjaga-jaga" di ayat 13 menuntut lebih daripada sekadar kewaspadaan dan penantian. Dengan kata lain, menunggu di sini bukan menunggu secara pasif dan hanya berdiam diri. Poin inilah yang ingin ditegaskan dalam perumpamaan tentang talenta. Kita harus bekerja sampai Sang Tuan kita kembali. Menantikan kedatangan Tuhan harus dilakukan secara aktif dengan menggunakan talenta yang sudah Tuhan percayakan kepada kita.

Kita mungkin pernah mendengar beberapa aliran dalam kekristenan yang begitu menekankan tentang kedatangan Tuhan Yesus. Mereka menyuruh semua pengikutnya untuk keluar dari pekerjaannya masing-masing dan menjual semua harta benda mereka. Mereka semua tinggal di dalam satu tempat dan menantikan Tuhan Yesus datang kembali. Konsep semacam ini pasti mengandung banyak kesesatan. Tidak ada orang yang tahu kapan Yesus datang kembali.

Relasi antara tuan dan penatalayan

Istilah "penatalayan" (steward) merujuk pada seseorang yang dipercayai oleh tuannya untuk mengurus sesuatu, entah itu anggota keluarga, segala urusan dalam keluarga tersebut, atau di tempat lain seperti istana. Walaupun tugas spesifik yang diemban seorang penatalayan sangat variatif, tetapi relasi dengan tuannya tetap sama: penatalayan bukanlah pemilik. Dia tidak bebas menggunakan apa yang dipercayakan kepadanya. Seorang penatalayan wajib memberikan pertanggungjawaban kepada tuannya.

Walaupun sebutan "hamba-hamba" (25:14, dari kata dasar "doulos") bisa merujuk pada "budak", perumpamaan tentang talenta di 25:14-30 tampaknya lebih menceritakan tentang relasi seorang penatalayan dan tuannya daripada seorang budak dan tuannya (kontra NRSV/NASB "slaves"). Kata "doulos" artinya tidak terbatas pada "budak". Kata ini memiliki arti yang cukup beragam. Sesuai konteksnya, kata "doulos" di sini tidaklah tepat jika diartiken menjadi seorang budak. Jumlah yang dipercayakan terlalu besar untuk ukuran seorang budak. Satu talenta sama dengan enam ribu dinar. Satu dinar adalah upah kerja orang dalam satu hari. Dengan demikian, satu talenta adalah upah kerja orang dalam enam ribu hari tanpa dihitung hari Sabat. Dalam satu tahun, mereka kurang lebih bekerja sekitar 300 hari. Maka, satu talenta adalah upah orang bekerja selama sekitar 20 tahun.

Saya tidak mau menduga berapa nilai rupiah dari jumlah keseluruhan uang tersebut. Hal ini akan membawa kita pada penafsiran anakronistis. Perbedaan nilai mata uang di zaman kita dengan di zaman kuno seharusnya menjaga kita untuk tidak asal menafsirkan upah satu hari di dalam perumpamaan ini dengan cara membandingkannya dengan upah rata-rata pegawai masa kini. Poin yang hendak disampaikan tetap tidak berubah: enam ribu dinar sudah termasuk ukuran jumlah yang sangat besar dari total upah seseorang. Hal ini sangat tidak mungkin dipercayakan tuannya kepada seorang budak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun