Mohon tunggu...
Stephen Sihombing
Stephen Sihombing Mohon Tunggu... mengabdi bagi kemanusian dengan keteladanan Yesus

mengembangkan narasi iman bagi kebahagiaan umat http://sgrsihombing.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ya Allah, Pulihkanlah Kami yang Rapuh

24 Mei 2020   06:39 Diperbarui: 24 Mei 2020   07:47 87 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ya Allah, Pulihkanlah Kami yang Rapuh
www.freepik.com

Khotbah dalam rangka ibadah Minggu Asia bersama  Christian Conference of Asia

Bacaan Alkitab Yoel 1: 1-12

Saudara yang dikasihi Allah,
Yoel (Yahwe adalah Tuhan) memperingatkan bahwa wabah belalang yang menyebabkan kehancuran hasil pertanian dan kelaparan merupakan cara Tuhan menghukum bangsa Israel  yang hidup dalam ketidaktaatan; hidup dalam penyembahan berhala. Wabah belalang yang mereka hadapi bukan masalah biasa, tetapi sebuah peringatan Tuhan agar bangsa Israel bertobat dari dosa mereka.

Kawanan belalang yang datang bergelombang: belalang pengerip, belalang pindahan, belalang pelompat, dan belalang pelahap, hendaknya menjadikan mereka sadar dan menceritakan peristiwa itu kepada generasi-generasi berikutnya sebagai pembelajaran rohani yang mendisiplinkan mereka hidup dalam ketaatan mutlak kepada Allah.

Yoel menyebutkan bencana itu sebagai hari Tuhan seperti disebut dalam 1: 15 Wahai, hari itu! Sungguh, hari TUHAN sudah dekat, datangnya sebagai pemusnahan dari Yang Mahakuasa. Bencana yang menyulitkan semua orang mulai dari petani, tukang kebun anggur, imam, keluarga-keluarga bahkan mereka yang suka berpesta. Ritus ibadah berhenti (1:9) sebab tidak adanya korban sajian (tepung yang terbaik, Imamat 2: 1)  dan korban curahan (satu setengah liter air anggur, Bilangan 15:7).

Mereka tidak dapat lagi bergembira. Hidup mereka menjadi tidak normal. Mereka meratap sebab bencana yang tidak pernah mereka bayangkan sama sekali. Kesenangan mereka berubah menjadi tangisan. Yang harus mereka lakukan ialah: bertobat seperti dikatakan dalam  2:12-13  TUHAN berkata, "Tetapi sekarang ini, kembalilah kepada-Ku dengan sepenuh hati, sambil berpuasa, meratap dan menangis.  Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu." Berpalinglah kepada TUHAN Allahmu. Ia panjang sabar dan penyayang murah hati dan penuh kasihan. Senang mengampuni dan tak suka menjalankan hukuman.

Saudara yang dikasihi Tuhan,
Hari ini bersama gereja-gereja se-Asia yang tergabung dalam lembaga Christian Conference of Asia (CCA: 100 denominasi gereja, dibentuk tahun 1957, di Parapat, Sumatera Utara) merayakan Minggu Asia dalam keprihatinan dan doa: "Ya Allah Pulihkanlah Kami yang Rapuh". Gereja-gereja di Asia, termasuk jemaat GPIB Bethesda diajak untuk berdoa bagi keselamatan dunia akibat ancaman virus corona. Menurut data terbaru penyebaran virus Corona  di Indonesia hingga Sabtu (23/5/2020) pukul 12.00 WIB, terdapat 21.745 kasus positif yang terkonfirmasi, dengan 5.249 pasien COVID-19 (24,1 persen) sembuh, sedangkan 1.351 orang meninggal (6,2 persen). Di seluruh dunia, total terdapat 5.326.230 kasus positif virus Corona. (https://tirto.id/update-corona-indonesia-23-mei-2020-data-covid-19-dunia-terbaru-fCeP).

Pemerintah telah mengeluarkan protokol kesehatan untuk kita mencuci tangan, memakai masker jika keluar rumah, menjaga jarak dengan menghindari kerumunan dan melarang orang melakukan mudik guna mencegah penyebaran virus corona. Pemerintah berharap warga masyarakat dapat bertindak disiplin mengikuti protokol kesehatan agar secara bertahap terjadi penurunan kasus dan dibukanya kembali kantor, sekolah, aktivitas ekonomi dan rumah-rumah ibadah.

Pandemi corona ini menimpa semua orang tanpa terkecuali. Kita tidak hanya berharap pada kedisplinan dan kepandaian manusia dalam menemukan antivirus, tetapi juga pada penyerahan diri kepada Allah dalam doa dan pertobatan. Ternyata manusia tidak berdaya di hadapan virus yang berbahaya, yirus yang berukuran 125 nanometer, yang jelas tidak dapat dilihat mata telanjang.

Mengapa muncul virus corona? Apakah semacam siklus berkala untuk keseimbangan alam? Ataukah sebuah peringatan Allah tentang perilaku manusia yang merusak alam dan tidak menghormati kekudusan Allah?  Tidakkah kita juga diingatkan betapa kerja kita bukan segala-galanya. Beban kerja kita dengan segala kesibukannya ternyata dapat dihentikan. Kesenangan manusia pun tidak untuk selama-lamanya. Tuhan dapat menghancurkan semua agenda manusia agar kita berpaling pada Allah, bertobat dan hidup dalam pertolongan Tuhan.

Dalam surat Roma, Rasul Paulus mengingatkan jemaat Tuhan untuk memperhatikan kemurahan Tuhan dan juga kekerasanNya. Jika tidak hidup benar, maka murka Allah akan datang. Kita akan dipotong dari pokok Anggur yang benar! (Roma 11:22  Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga).

Surat Yakobus mengingatkan bahwa hidup kita ini fana; sementara. Hidup kita ini seperti uap (atau asap, BIS) yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (4:14). Kita hanya bisa berencana, namun kita tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi hari yang akan datang. Karena itu kita perlu mengandalkan Tuhan. Berdoa dan berharap kepada Tuhan: Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu. (4:15).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN