Mohon tunggu...
Stefiani
Stefiani Mohon Tunggu... Apoteker - A mindful writer, traveler, long life learner

Writer • Traveler • Mindfulness •

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sebuah Seni Kehidupan di Era Pandemi

7 Oktober 2022   15:27 Diperbarui: 7 Oktober 2022   15:34 193
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Awal pandemi Corona, tahun 2020. Saat itu, pemerintah mengadakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) untuk membatasi mobilitas masyarakat demi mencegah penularan virus Corona. Kantor-kantor mulai menerapkan WFH (Work From Home) untuk karyawannya. 

Masyarakat yang saat itu khawatir dengan adanya virus ini pun juga mulai mengurangi aktivitas keluar rumah. Aktivitas keluar rumah kala itu disarankan hanya untuk yang benar-benar urgent saja. Beberapa tempat memulai lockdown internal. Termasuk kota tempatku bekerja saat itu.

Awal-awal WFH, rasanya happy. Ya, lebih fleksibel kerja aja rasanya. Bisa bangun tidur lebih siang dibanding jam bangun kalau harus masuk kantor, bisa lebih nyaman mengatur posisi duduk sewaktu kerja, termasuk juga bisa lebih fleksibel mengatur jam selesai kerja. Namun setelah beberapa waktu berlalu, aku yang ekstrovert ini mulai merasa bosen WFH. 

Mulai merindukan giliran jadwal WFO (Work From Office) kantorku yang tiap seminggu dua kali, karena saat itulah kesempatanku bisa "melihat dunia luar”. Alias berjumpa dengan temen-temen kantor, bisa melihat tembok gedung selain tembok kamarku, maupun ganti suasana. Gak sepaneng hanya di dalam kamar aja. Aku pun juga rindu dine in di luar kos-an, rindu makanan di luar kos.

Namun, aku paham betul risikonya. Bila dine in di restoran, lebih rawan terpapar virus Corona dibandingkan bila makan di kos-an aja. Tapi, rasanya suntuk karena makanan di kos ya itu-itu aja. Jenuh karena menu makanannya tidak sevariatif kalau makan di luar.  Akhirnya, untuk menjembatani keinginan dan kerinduan makan di luar, Gojek menjadi jalan ninjaku.

Pesan makanan online via Gojek alias Gofood, sangat menjadi solusiku kala itu. Aku bisa menikmati makanan restoran favoritku, tapi di lokasi yang aman (alias kamar kos), yang minim penularan virus. Gojek juga banyak ngasih promo diskon Gofood, jadi ibarat paket komplit banget untukku yang rindu jajan ini.

Banyak berita soal dampak wabah ini. Salah satunya adalah berkurangnya pendapatan orang yang menggantungkan penghasilannya dari jalanan, misal tukang ojek. Karena jumlah orang yang berpergian menjadi sedikit selama pandemi, otomatis pemasukan mereka menjadi turun drastis. Hal ini sempat menjadi salah satu keprihatinanku. Karenanya, sewaktu aku Gofood, sebisa mungkin pesen makanan dobel untukku dan sekaligus juga untuk driver Gojek yang nganter. Dari hal-hal yang kecil seperti ini, aku juga ingin ikut meringankan beban orang lain.

“Pak, yang ini buat bapak aja, ya.”

“Wah, beneran ini neng? Syukurlah, makasih atuh neng. Saya belum makan dari tadi.”, ucap seorang driver waktu itu sambil menerima bungkusan makanan yang kusodorkan.

Sungguh, hatiku rasanya menjadi hangat mendengar ucapan bapak ini. Senang ya, bisa berbagi rejeki pada orang lain. Hal sederhana yang bisa membuatku tersenyum dalam menghadapi hari-hari di tengah pandemi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun