Mohon tunggu...
Stefani Sifra Putri
Stefani Sifra Putri Mohon Tunggu... Mahasiswi

Halo

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Memahami Post Power Syndrome pada Lansia

8 April 2021   10:54 Diperbarui: 8 April 2021   10:59 49 2 0 Mohon Tunggu...

Menjalani  masa  tua  dengan  bahagia  dan  sejahtera,  merupakan  dambaan  semua  orang. Keadaan  seperti  ini  hanya  dapat  dicapai  oleh  seseorang apabila  orang  tersebut  merasa  sehat secara  fisik,  mental  dan  sosial,  merasa  dibutuhkan,  merasa  dicintai,  mempunyai  harga diri  serta dapat berpartisipasi dalam kehidupan (Idris, Y. dkk.2004). Namun dalam kenyataannya post power syndrome banyak dialami oleh mereka yang baru saja menjalani masa pensiun. Pensiun sering kali dianggap sebagai kenyataan tidak menyenangkan sehingga menjelang masanya tiba sebagian orang sudah merasa cemas karena tidak memiliki gambaran kehidupan yang akan dihadapi di masa depan. Individu  yang tidak mampu beradaptasi dengan masa pensiun akan merasa kehilangan, stress, minder, tidak bahagia, dan berisiko mengalami post power syndrome.

Post power syndrome adalah gejala yang terjadi di mana penderita hidup dalam bayang-bayang masa lalunya (karir, kecantikannya, ketampanannya, kecerdasannya, dan lain-lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini (Kartono, 1997). Post power syndrome bukan sebatas kekuasaan atau pekerjaan saja, melainkan dikonotasikan sebagai sosok yang tadinya aktif, banyak kegiatan, mendadak kehilangan semua sehingga timbul ketidaknyamanan. Orang yang mengalami post power syndrome adalah orang-orang yang tidak bisa menerima perubahan yang terjadi, dan perubahan itu terkait dengan kehilangan aktivitas, hilangnya jabatan atau kekuasaan, hilangnya harta, dan sebagainya.

Dalam kondisi ini ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan dan menjadi kebutuhan lansia yang mengalami post power syndrome, yaitu :

1. Hubungan dengan Tuhan

Setiap orang beriman percaya akan kekuatan yang maha besar di luar kemampuan manusia. Kekuatan itu dalam agama disebut Tuhan Yang Maha Esa. Hampir semua pensiunan tidak siap menghadapi perubahan dan mengalami post power syndrome maka diperlukan penguatan spritual. Berdoa dan meminta pertolongan Tuhan adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ketika seseorang berdoa maka akan timbul ketenangan hati, kelegaan, dan rasa aman karena telah mencurahkan perasaan dan kekhawatirannya pada Sang Pencipta. Selain itu akan muncul pemahaman dalam dirinya bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah titipan Tuhan Yang Maha Esa.

2. Dukungan sosial

Dukungan sosial adalah informasi atau umpan balik dari orang lain yang menunjukkan bahwa seseorang dicintai dan diperhatikan, dihargai, dan dihormati, dan dilibatkan dalam jaringan komunikasi dan kewajiban yang timbal balik (King, 2012 : 226). Dalam kondisi post power syndrome lansia sangat membutuhkan dukungan sosial terutama dari keluarga. Keluarga  memiliki peranan paling penting untuk membantu lansia mengatasi masalah psikologis yang dialaminya. Keluarga harus  mempunyai  pengetahuan tentang post power syndrome terlebih dahulu agar  dapat  melakukan perawatan serta  pembinaan  pada  lansia. Selain itu keluarga juga harus mengerti kondisi lansia yang saat ini sangat sensitif dan mudah tersinggung sehingga harus menjaga sikap dan perkataan, meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita lansia, memastikan kebutuhannya lansia terpenuhi, melibatkan lansia dalam menentukan keputusan keluarga agar lansia merasa dihargai, dan memfasilitasi lansia untuk melakukan aktivitas positif yang disukainya.

3. Aktivitas positif

Salah satu penyebab post power syndrome adalah hilangkan aktivitas yang menjadi rutinitas lansia. Keluarga perlu membantu dan memanfasilitasi lansia untuk produktif dengan melakukan aktivitas positif yang disukai seperti olahraga, berkebun, memelihara hewan, masak, dan lain-lain. Ketika lansia memiliki aktivitas baru  maka perlahan-lahan ia bisa beradaptasi dengan kehidupannya saat ini dan menjadi lansia tangguh. Lansia tangguh adalah seseorang atau kelompok lansia yang tetap sehat (baik fisik, sosial dan mental), mandiri, aktif, dan produktif. Seseorang dapat dikatakan sebagai lansia tangguh jika mencapai optimalisasi masa tuanya secara berkualitas dengan rasa aman yang didukung lingkungan nyaman (Bkkbn, 2017).  

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x