Mohon tunggu...
Johanes Krisnomo
Johanes Krisnomo Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Penulis, fotografer, pemerhati lingkungan hidup, teknologi pangan, kesehatan, kimia pangan. Alumnus Kimia ITB dan praktisi di Industri Pangan. https://www.kompasiana.com/stalgijk

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Siklus Anak Cucu Pertanda Menua

8 Juli 2020   00:40 Diperbarui: 8 Juli 2020   07:01 344 67 21 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Siklus Anak Cucu Pertanda Menua
Ayah dan Anak Bermain. Sumber : camurigrande.com

Bahagia, begitu cepat berlalu. Tiba-tiba saja, anak-anak telah dewasa dan punya dunianya masing-masing. Tumbuh bersama anak-anak, ayah-ibu pun semakin menua, silih berganti menghidupi perannya.

Dunianya anak-anak, bermain bersama ayah-ibunya, dan menjadi orang terdekat dan utama yang memengaruhi jalan hidup di kemudian hari.

Dikarenakan harus mempertahankan kelangsungan hidup, tak jarang ayah harus merantau, atau bisa mungkin ibu-nya pun jarang di rumah karena bekerja, dan bahagia sejati anak perlahan pudar.  

Bersyukurlah, bagi ayah-ibu yang beruntung mendampingi anak-anaknya di usia emas, bermain dan becanda, menikmati tangis-tangis manja di masa pertumbuhannya.

Saat-saat indah membahagiakan, berganti rupa dan merubah diri bentuknya, menjadi suatu keharusan untuk menyiapkan masa depan anak, sekolah dan kesehatannya. Hingga akhirnya, anak-anak yang telah dewasa itu menemukan jodohnya, dan membentuk keluarga baru.

Polosnya hati anak-anak, bahagianya berbeda ketika anak-anak telah dewasa dan mampu melawan pendapat ayah-ibunya. Tak juga negatif, ketika anak mempertahankan jati-dirinya. Tak juga salah, karena beda pandang terhadap situasi di era kekinian.

Begitulah tumbuh kembang anak, terkadang ada perasaan tak dihargai, ketika anak tak menuruti apa kata ayah-ibunya. Biarkanlah mereka hidup di dunianya, orangtua hanya mengarahkan agar tak salah jalan.

Ingatan indahnya di saat anak-anak, bermain bersama dan becanda. Tak lagi ada, ketika mereka-mereka tengah berjuang, sibuk sana-sini menyiapkan masa depannya.

Jeda waktu, ketika  anak-anak telah memulai kehidupan barunya, berkeluarga, dan siklusnya berulang.

Anak-anak itu, hingga menua pun tetap disebut anak, karena garis keturunan langsung ayah-ibunya. Habis gelap terbitlah terang. Anak-anak telah memberikan anak-anak baru, atau cucu bagi kakek-neneknya.

Kakek, Nenek dan Cucu Bermain. Sumber : www.freepik.com
Kakek, Nenek dan Cucu Bermain. Sumber : www.freepik.com
Nostalgia kembali nyata. Cucu-cucunya yang merupakan anak dari anak-anaknya, ada kemiripan wajah dan perilaku dengan anak-anaknya ketika se-umur-an.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x