Johanes Krisnomo
Johanes Krisnomo Penulis

Penulis, fotografer, pemerhati lingkungan hidup, teknologi pangan, kesehatan, kimia pangan. Alumnus Kimia ITB dan praktisi di Industri Pangan. https://www.kompasiana.com/stalgijk

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Penulis Ibarat Koki Masak

16 April 2019   23:08 Diperbarui: 20 April 2019   15:55 350 53 29
Penulis Ibarat Koki Masak
Ilustrasi Persiapan Masak Bahan Tulisan. Sumber : https://www.pexels.com

Lezat, berlaku selain untuk masakan, juga tulisan. Simaklah beberapa tulisan yang tertuang di media, renyah dan lezatnya pasti berbeda satu dan lainnya. Sepadan koki masak, penulis pun harus melalui tahap-tahap penyiapan dan pemasakan bahan-bahan. Tak terbatas panjang-pendeknya laman, tulisan yang baik akan nyaman disantap.

Dimulai dari maksud, apakah sebuah tulisan akan dikonsumsi untuk diri sendiri atau dibagikan. Selain curhatan yang biasa ditulis di buku harian, pastinya bila ingin dibagikan haruslah menyangkut kemanfaatan orang banyak.

Seringkali, seingat-ingatnya sering terjadi kasus keracunan makanan di beberapa daerah, saat pesta dengan jumlah besar porsi masakan. Jarang terjadi, keracunan makanan pada skala rumah tangga.

Ide tulisan telah terangkai di benak, pembaca dipastikan tertarik penyebabnya. Lagipula, masalahnya menyangkut kesehatan diri yang perlu diwaspadai.

Perjuangan dimulai, mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan, seputar kejadian kasus-kasus keracunan makanan. Setelahnya, dibaca ulang dan dipelajari kasusnya.

Mungkin saja bagi penulis lainnya akan berbeda topik, tergantung minat, pengalaman dan latar belakangnya. Sesuai pengalaman diri, sebagai praktisi di industri makanan, dan juga berbekal pendidikan ilmu pangan, tepatlah tema keracunan makanan ditentukan.

Bahan-bahan tulisan yang berkaitan langsung tema, disiapkan di laman lembar konsep, dengan cara dituliskan kembali atau diringkas sebagai pokok-pokok materi dengan kalimat sendiri. Ibaratnya, menaruh di meja dapur, bahan-bahan yang akan dimasak.

Pikirkan, dan olahlah bahan-bahan tulisan, pesan yang ingin disampaikan pada pembaca adalah kecukupan panas saat proses memasak, bila kurang panas maka bakteri racun makanan akan tumbuh.

Setelah masak pun, bila penyimpanan dan penyajiannya tak sesuai, bakteri pun akan muncul kembali. Itulah alasan mengapa diperlukan keahlian khusus masak dalam jumlah besar atau pesta-pesta.

Lengkap sudah, tulisan yang akan dicipta, bahan-bahan tulisan telah tersedia di meja laman monitor. Tujuan dan sasaran yang ingin disampaikan kepada pembaca telah jelas.

Pandai-pandailah memulai, ceriakan hati agar mampu membuat diksi-diksi menarik. Tulislah paragraf awal yang meyakinkan pembaca, dengan sasaran dan manfaat yang jelas.

Bayangkan, penulis ibarat koki yang sedang membuat masakkan, dengan bahan-bahan tulisan tertata di meja dapur. Bebas saja urutan mana yang akan ditulis dulu, sesuai selera penulis.

Selain itu, hasil tulisan harus bertautan dan mengalir renyah. Rasakan hasil masakan, apakah kurang gula, kurang garam atau kurang penyedap, selayak kita membuat koreksi atau edit tulisan setengah jadi yang kurang lezat. Yakinkan hingga tulisan layak tayang.

Pengalaman menulis adalah bukti, sebuah tulisan menjadi baik dan layak, serta menarik, pastinya memerlukan waktu. Tak ada cara instan untuk menjadi penulis hebat, tanpa daya juang dan melalui proses berkelanjutan. Berlatih dan terus berlatih menulis adalah kunci utamanya.

Bandung, 16 April 2019

Link :  SuhuAman Inspirasi Proses Memasak Tulisan di Kompasiana.