Mohon tunggu...
Sri Rumani
Sri Rumani Mohon Tunggu... Pustakawan - Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Cleaning Service" yang Peduli Orang Lain

17 Desember 2018   12:22 Diperbarui: 18 Desember 2018   17:59 231
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Jangan pernah meremehkan dan memandang rendah orang lain karena pekerjaannya, pakaian,  setiap orang mempunyai "garis tangan" yang berbeda.Kita tidak pernah dapat memilih dilahirkan dari orang tua golongan mana dan dari kelas sosial seperti apa, yang menentukan dan mengetahui derajad sesorang mulia atau terhina hanyalah Sang Pencipta Alloh SWT. 

Terhina dihadapan manusia bisa jadi mulia di hadapanNya, sehingga meremehkan orang lain berarti meremehkan dirinya sendiri. Tidak mesti juga orang yang "terhormat", terpandang, mulia, hebat menurut penilaian kita, ternyata di hadapanNya sangat terhina.

Semua orang itu pada prinsipnya sama dihadapanNya, yang membedakan hanyalah nilai taqwanya (menjauhi larangan dan melaksanakan perintahNya). Jadi bukan berdasarkan derajat, pangkat, gelar, kedudukan dan kekuasaan. Diakui dalam kehidupan saat ini, ada kelas-kelas sosial dimana ada etika,  tatanan sosial, dan norma hukum yang harus ditaati, agar ada harmonisasi dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa. Tanpa norma hukum, kehidupan menjadi tidak tertib, orang seenaknya dalam bertindak, bersikap, dan bertingkah laku.

Suatu saat saya antri untuk membeli tiket KA tujuan Jakarta, harga tiket KA dalam rangka Natal dan Tahun Baru (Nataru) ada kenaikan, maka tidak ada salahnya memanfaatkan fasilitas diskon sebesar 20 persen karena usia sudah diatas 60 tahun. 

Dari harga Rp 550.000 mendapat diskon Rp 110.000,- sehingga membayar Rp 440.000,-, caranya menunjukkan copy KTP. Dalam antrian saya mendapat nomor 153 pada jam 09.00, padahal ada janjian pertemuan dengan teman alumni jam 11.30. Saya ijin tidak hadir karena masih antri tiket di stasiun, baru sampai nomor 30. Artinya masih menunggu antrian 123 untuk dapat dilayani petugas reservasi tiket.

Orang bilang menunggu adalah suatu pekerjaan yang paling membosankan, seakan panggilan di antrian tidak beranjak karena pelayanan reservasi perlu memastikan hari, tanggal, jam keberangkatan, jenis kereta, nomor kursi, jumlah pesanan, dan harga tiket. 

Ditengah menunggu untuk menghilangkan rasa bosan, sesekali melihat WA, mengamati perilaku orang-orang yang hilir mudik untuk membeli langsung tanpa antri melalui online, atau ada yang mempunya urusan ke "castumer service".

Disaat menunggu itu ada cleaning service yang bertanya dengan sopan, "ibu mau kemana ?". Saya jawab:"ke Jakarta". Dia memegang nomor antrian 65 yang dikasihkan saya, dan nomor 153 ganti saya serahkan, sambil berkata:"Terima kasih mas". 

Dalam batin ini adalah pertolongan Alloh SWT melalui seorang cleaning service yang tidap pernah terpikirakan sebelumnya mendapatkan kemudahan dan kelancaran, sehingga acara ketemuan teman dapat terlaksana sesuai jadwal. 

Cleaning service memperoleh nomor antrian karena, mungkin ada orang yang mengembalikan, atau mengambil kertas yang dibuang calon pembeli tiket karena menunggu terlalu lama. Sebagai cleaning servise bertugas membersihkan lantai dari kotoran apapun termasuk kertas kecil berupa nomor antrian, yang ternyata sangat bermanfaay untuk saya.  

Semua itu saya yakini bukan "kebetulan", tetapi ada campur tangan dari Alloh SWT untuk memperlancar urusan umatNya. Siapa sangka dalam diri seorang "cleaning service" ternyata mempunyai kepedulian terhadap sesama untuk menolong dengan memberikan nomor antrian lebih kecil. Ternyata tindakan sederhana dimata manusia ini menjadi catatan amal kebaikan untuk seorang  cleaning servis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun