Mohon tunggu...
Sri Rohmatiah
Sri Rohmatiah Mohon Tunggu... Penulis Buku "Kalau Berbeda, Lalu Kenapa?"

Photo

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

4 Alasan Mengapa Perempuan di Desa Memilih Tandur sebagai Profesi

13 April 2021   12:53 Diperbarui: 15 April 2021   10:51 531 30 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
4 Alasan Mengapa Perempuan di Desa Memilih Tandur sebagai Profesi
Perempuan di desa saat tandur 10/4/21.| Dokumentasi pribadi

Pertama kali tinggal di desa, saya benar-benar merasakan perbedaan dengan kehidupan sebelumnya. Masa kecil pernah tinggal di pedesaan selama satu tahun karena tugas Bapak. Setelahnya Bapak mengajak pindah ke kota walaupun masih kontrak rumah.

Setelah menikah, saya harus tinggal di desa untuk selamanya. Ada banyak pemandangan baru yang begitu terkesan. Anak-anak pergi ke sekolah dengan naik sepeda. Pagi-pagi buta, para ibu pergi ke sawah.

Hingga pada suatu hari, suami mengajak ke sawah dan mengenalkan sawah yang dipinggir jalan itu miliknya. "Saya tidak disuruh terjun ke sawah bersama ibu-ibu itu?" 

"Pertanyaan konyol," kata suamiku.

Setiap penduduk di desa memiliki tugas komunal tertentu. Ada yang mengajar, mengurus toko sayur, kelontong, berdagang, tetapi mayoritas mengurus sawah. Yang menjadi perhatian saya adalah mereka yang bekerja di sawah. Kita setiap hari makan nasi, tetapi tidak tahu bahwa yang menanam padi adalah perempuan-perempuan desa. Bukan petani seperti suami. Petani hanya memiliki lahan dan mempekerjakan kaum perempuan untuk menanam, merawat bahkan hingga panen.

Perempuan desa bekerja di sawah bukan tanpa alasan. Ada beberapa alasan yang dapat saya perhatikan selama ini:

Pertama: Ekonomi Keluarga

Perempuan bekerja di sawah karena membantu perekonomian keluarga yang seharusnya tanggung jawab laki-laki sebagai kepala keluarga. Namun, karena laki-laki juga bekerja di sawah yang hanya srempengan. 

Jika musim tanam selesai, kaum laki-laki ada yang  berkumpul di warung ada juga yang bekerja di kali ngeduk pasir atau kerja bangunan. Untuk itu mau tidak mau ibu rumah tangga harus ikut serta bekerja di sawah.

Kedua: Rendahnya Tingkat Pendidikan

Kita bisa memaklumi, dulu pendidikan di Indonesia sangat terbatas. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa sekolah. 

Kebanyakan hanya bisa menamatkan pendidikan hingga Sekolah Dasar. Bahkan banyak juga yang tidak merasakan pendidikan sama sekali. Hal ini tentu berdampak terhadap kualitas perempuan di desa.

Dengan pendidikan rendah, tidak ada pilihan lain selain menjadi buruh tani. Gaji perempuan di sawah lebih kecil dibandingkan gaji kaum laki-laki. Hal ini wajar karena pekerjaan laki-laki lebih berat dan lebih lama waktunya.

Ketiga: Status sebagai Perempuan

Seperti kita ketahui perempuan dengan status janda dari tahun ke tahun meningkat. Bahkan berdasarkan berita Radar.com, pada tahun 2020 angka perceraian di Madiun naik 3 persen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN