Mohon tunggu...
Supartono
Supartono Mohon Tunggu... Pemerduli

Niat berbagi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mencintai Milik Kita

13 September 2019   20:24 Diperbarui: 13 September 2019   20:29 0 1 1 Mohon Tunggu...
Mencintai Milik Kita
Sumber: dekoruma.com

Berbagai persoalan di Republik ini, dari hari ke hari terus menggerus sanubari rakyat.  Entah apa sebenarnya rencana besar yang sedang diskenariokan para elite pemimpin dan politik menjelang berganti masa periode pemerintahan baru yang tinggal menghitung hari. 

Mulai dari perseteruan kisruh Pilpres yang masih terasa membara, lalu dengan pecaya diri Presiden akan memindah Ibu Kota RI, iuran BPJS Kesehatan yang akan naik 100 persen, subsidi tarif listrik akan dicabut, upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terkesan ada sandiwara politik, hingga campur tangan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPIA) terhadap regenarasi olah raga bulu tungkis yang selama ini menjadi ujung tombak prestasi bangsa.

 Sebenarnya ada rencana besar apa di balik masalah-masalah yang semunya berujung membikin hati dan pikiran rakyat gundah gulana? 

Bila memperhatikan situasi dan kondisi selama ini, di negeri nusantara ini, maka persoalan demi persoalan memang meluncur bak adegan-adegan dalam pertunjukkan drama. Masih mudah ditebak ke mana arah alur kisah dan ceritanya, bahkan ending cerita pun menjadi hal yang tak membikin suprise pula bagi yang yang selama ini cukup paham permainan "mereka." 

Namun, bagi rakyat kebayakan, ada yang acuh karena menghadapi hal begini sudah menjadi budaya. Untuk apa pusing-pusing turut memikiran, yang penting masih bisa makan. 

Bagi rakyat lainnya, hanya bisa mengeluh dan kecewa, karena pemimpin yang sudah dipilihnya, ujungnya juga tetap membikin sengsara, bukan sebaliknya mengangkat derajat, martabat, dan kehidupannya. Yang miskin tetap miskin, yang kaya tambah kaya. Barganti pemerintahanpun tak ada beda. Bahkan banyak elite politik dan pemimpin bangsa ini yang gemar mencintai yang bukan milik. 

Rakyat kebanyakan pada akhirnya hanya bertanya, setelah ini, berita dan masalah apalagi? Apa yang akan dibebankan pemerintah kepada rakyat? Satu masalah masih menjadi perdebatan, diluncurkan masalah baru. 

Begitu seterusnya, agar masalah sebelumnya tertutup berita, rakyat lupa. Luar biasa. Inikah negeri dengan seribu satu masalah? Semoga kita semua senatiasa berada di negeri indah yang segera lepas dari masalah.

Marilah merawat dan mencintai milik kita, bukan milik dia atau mereka. Maka, kita bukan individu yang gemar membuat masalah, mencari  masalah, memperbesar masalah, memperkeruh masalah, demi keuntungan dan kepentingan pribadi dan golongan. Marilah kecerdasan itu, kita gunakan dengan benar dengan senantiasa mengecilakan dan menghapus serta menyelesaikan masalah.