Mohon tunggu...
Siti Nazarotin
Siti Nazarotin Mohon Tunggu... Guru

Dunia jadi indah karena kata-kata, maka rangkailah kata sebaik dan sejujur mungkin

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan

[Fiksi] Hilal Tampak Namun Hatiku Bergejolak

23 Mei 2020   20:41 Diperbarui: 23 Mei 2020   20:41 52 13 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
[Fiksi] Hilal Tampak Namun Hatiku Bergejolak
Sumber gambar: nu.or.id

"Hilal telah tampak".

"Alhamdulillah".

Sayup kudengar percakapan putriku dengan ayahnya di ruang keluarga. Sementara aku sibuk di dapur melanjutkan bikin roti kacang yang sempat tertunda karena ada tamu.

Aku bergegas ke ruang keluarga, menanyakan kejelasan dari apa yang aku dengarkan. Ternyata memang benar.

Sontak saja aku bagi tugas untuk prepare persiapan Hari Raya besuk. Anakku aku tugasi menata kue di atas meja untuk tamu yang akan datang besuk.

Sementara suamiku melanjutkan bikin papan penyangga timba untuk cuci tangan yang akan diletakkan di depan rumah. Aku melanjutkan ngoven roti kacang yang tinggal satu loyang dan hampir matang.

Untung kemarin aku dan suami telah berziarah kubur. Beras zakat fitrah juga sudah aku bagikan kepada yang berhak. Sedikit parcel yang isinya  sangat sederhana juga sudah aku bagikan kepada orang yang aku pandang kurang mampu dan famili dekat.

Karena Idul Fitri kali ini beda dengan kebiasaan tahun lalu, persiapanku juga tak seperti biasanya.


"nggak bikin Tape Ketan Buk"?

"Enggak Yah, Lebaran tahun ini kita dihimbau untuk membatasi silaturrahmi secara langsung kan?"

Tahun ini silaturrahmi secara langsung dibatasi dan nyaris ditiadakan, maka aku putuskan tidak membeli banyak kue, dan tidak bikin jajanan basah seperti tahun-tahun lalu.

Karena hampir tiap lebaran aku selalu bikin Tape Ketan. Enak rasanya, mudah pembuatannya dan banyak yang suka, itu alasanku.

Silaturrahmi secara langsung sebenarnya boleh dilakukan, namun ada syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi.

Mengikuti protokol kesehatan dengan menyiapkan tempat cuci tangan, hand sanitizer, tanpa jabat tangan, jaga jarak, bermasker, hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang satu wilayah dusun atau desa saja, tak boleh menerima tamu dari luar, pun warga setempat tak boleh silaturrahmi keluar.

Untuk shalat Idul Fitri, aku juga kurang tahu informasi, apakah akan diadakan di masjid-masjid dan mushalla-mushalla yang tersebar di kampung kami atau tidak.

Tapi suamiku memutuskan untuk shalat Idul Fitri berjamaah di rumah. Dengan pertimbangan yang matang tentunya. Yaitu mencegah lebih baik daripada mengobati.

Pemerintah dan tim medis berulang kali mengingatkan untuk tidak mengadakan kegiatan yang mengumpulkan massa. Demi apa, demi memuruskan mata rantai Virus Corona.

Pilu rasanya Idul Fitri kali ini, semua harus menahan diri, harus bersabar. Yang di rantauan tak bisa pulang. Yang di kampung halaman harus menunda rindu dengan orang-orang tercinta, benar-benar rindu yang tertahan.

Namun aku tak boleh menyerah dengan keadaan. Aku harus tetap ceria. Keceriaanku pasti akan berimbas di lingkunganku. Tetap optimis menghadapi apapun, termasuk Virus Corona.

Sayup aku dengar takbir berkumandang dari mushalla dekat rumah.

"Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
La ilaha illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar Walillahil hamdu"

Allah Maha Besar
Tiada Tuhan selain Allah
Allah Maha Besar  dan segala puji bagi Allah
.

Bibirku mengikuti takbir, tak terasa bulir-bulir bening jatuh ke gaun yang kupakai. Dada terasa sesak, antara haru dan bahagia. Rasa haru karena tak bisa berkumpul dengan semua keluarga besarku. Bahagia karena Idul Fitri telah tiba.

Saudara kembarku tak bisa pulang karena dia bekerja di sebuah rumah sakit yang menjadi rujukan pasien Corona. Orang kembar itu selalu merasakan apa yang dirasakan saudara kembarnya. Bila saudara kembar kita sedang sedih dan ada masalah, pasti yang lain ikut merasakan. Begitu juga aku.

Semoga Corona cepat berlalu dan aku bisa berkumpul dengan kembaranku bersama keluarganya. Semoga dia sehat-sehat saja.

Kembali aku dengar lantunan takbir. Semakin malam semakin ramai, bersahut-sahutan dari beberapa mushalla dan masjid di kampungku.

Allahu Akbar Walillahil Hamdu.

Hatiku menjadi lebih tenang. Selanjutnya aku ambil wudu untuk tunaikan shalat 'Isyak berjamaah dengan suami dan anakku.


Siti Nazarotin
Blitar, 23 Mei 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x