Mohon tunggu...
Hasna A Fadhilah
Hasna A Fadhilah Mohon Tunggu... Freelance writer

Saya (moody) freelance writer. Disini untuk menuangkan unek-unek biar otak tidak lagi sumpek.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Apa Kita Perlu Pura-pura Bodoh untuk Mendapatkan Jodoh?

30 Januari 2019   09:32 Diperbarui: 30 Januari 2019   13:32 0 4 3 Mohon Tunggu...
Apa Kita Perlu Pura-pura Bodoh untuk Mendapatkan Jodoh?
love-5c514547677ffb4099057a15.jpg

Ceritanya, saya punya kawan perempuan. Dia ini cerdas sekali. Semasa kuliah, dia berapa kali memenangkan kompetisi menulis. IPK-nya pun cum laude. Pokoknya TOP! Dengan potensi yang luar biasa tersebut, saya dulu memprediksi ia bakal dapat beasiswa S-2, atau paling tidak akan melanjutkan ke jenjang selanjutnya dengan jangka waktu yang tidak akan lama. 

Eh ndilalah jauh sebelum kawan saya mengajukan keinginannya untuk melanjutkan S-2, ibunya sudah mewanti-wanti dia untuk menunda harapannya. Setelah lulus, kerja sebentar, kemudian nikah. Titik. Urusan pendidikan tinggi itu belakangan, begitu nasihat beliau.

Apa daya, hampir 8 tahun kami lulus dari S-1, jodoh kawan saya ini tak kunjung tiba. Selain karena ibunya hanya mempertimbangkan laki-laki yang tinggal di satu kota, bahkan sekitaran kampungnya saja. Profesi tentara, polisi, pegawai bank juga tidak masuk kriteria. 

Kalau bisa dapat tetangga sebelah, itulah sudah! Padahal pria-pria lajang yang tinggal di kampungnya rata-rata hanya tamatan SMA. Kalaupun ada yang belum menikah, itu pun usianya terpaut jauh, empat puluh tahun dan ketika diajaknya mengobrol, jangankan tersambung, mau dihubungkan pun kabelnya sudah ruwet duluan. 

Sudahlah sering ia dijodohkan ibunya dengan orang daerah, eh sayangnya tidak ada yang memahami dia lagi. Sempat ia bertanya pada saya, "apa perlu aku pura-pura bodoh dan iya-iya saja mbak dan nerimo siapapun yang datang?"

Di tengah putus asanya, saya mencoba untuk membuatnya sedikit agak tenang, "jodoh itu mbak, baiknya sekufu. Kalau memang mbak belum bisa S-2 demi menuruti keinginan ibu. Pergilah ke luar, cari komunitas. Bisa cari hobi yang lingkungannya mbak nyaman. Atau ikut seminar! Siapa tahu jumpa orang yang nyambung disana. Kalau mbak hanya pasrah, menjalani apa yang ibu mbak inginkan. Mbak akan menderita sendiri lho. You are responsible for your own happiness, not your mom."

Dia hanya menarik napas panjang.

"Okelah, mbak bisa aja nikah, hanya untuk menuruti keinginan orangtua. Beban mereka memang hilang ketika mbak menikah. Tapi siapa yang kemudian menjalani dan merasakan lika-liku kehidupan rumah tangga kalian? Bukan mereka, kan?!"

Dari kisah kawan tersebut, saya pun jadi agak senewen kalau kecerdasan perempuan sering diidentikkan menjadi ancaman laki-laki. Bahkan beberapa orangtua sering melarang anaknya untuk sekolah tinggi-tinggi karena takut nanti tidak dapat jodoh. Lah, memangnya kenapa sih kalau perempuan cerdas? Bukankah ketika perempuan cerdas, ia justru punya potensi untuk melahirkan generasi yang cerdas juga?

Apa iya kita perlu merubah angka di rapor dan ijazah hanya untuk mengamankan insekuritas laki-laki yang merasa terinjak-injak harga dirinya hanya karena mendapatkan pasangan yang lebih pintar? Tentu tidak, bukan?

Menurut saya, alangkah baiknya kecerdasan perempuan itu dihargai. Bukannya justru dijadikan dalih bahwa kepintaran mereka akan membuat laki-laki terlihat inferior. Saya bahkan punya dosen perempuan lulusan S-3 yang suaminya justru belum berminat untuk melanjutkan S-2. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x