Mohon tunggu...
Silvany Dianita
Silvany Dianita Mohon Tunggu... Psikolog - Pranata Humas Ahli Muda BPSDM Kemendagri dan Psikolog Klinis

When you care for yourself first, the world will also find your worthy of care.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Citayam Fashion Week: Kemunculan Interaksionalisme Simbolik dan Kebutuhan Ruang Publik untuk Ekspresi

24 Juli 2022   14:52 Diperbarui: 25 Juli 2022   07:40 2201
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Catwalk di Dukuh Atas, Jakarta Pusat Bersama Jajaran Bank Investasi Eropa, Selasa (19/7/2022)(Dokumen Pemprov DKI Jakarta)

Melalui teman sebaya mereka juga dapat mengetahui macam-macam kepribadian orang lain di luar diri mereka. Melalui teman sebaya, mereka pun mulai membentuk kesamaan dalam berinteraksi sosial maupun adanya pengakuan untuk tetap eksis.

4. Lingkungan masyarakat

Lingkungan masyarakat membentuk perilaku seseorang karena adanya interaksi sosial yang dilakukan secara terut-menerus hal ini disebabkan seseorang akan berperilaku baik atau tidak dipengaruhi dari lingkungan dimana mereka berada. Lingkungan sosial yang baik cenderung memberikan pengaruh pergaulan yang baik begitu juga dengan sebaliknya

Kreativitas yang Ingin Diakui

Anak-anak remaja dari "SCBD" menampilkan diri yang apa adanya sesuai dengan status sosial mereka berkumpul bersama dan memiliki untuk berekspresi seni mulai menampilkan konten fashion dan ekspresi budaya akibat paparan budaya barat namun berbiaya rendah.

Mereka tampil dengan diri apa adanya dan hadir di tengah-tengah kawasan bisnis kaum elite pengusaha muda Jakarta Selatan, membuat daya tarik bagi anak-anak ini sekaligus memperoleh perhatian dari berbagai kalangan.

Kehadiran mereka memunculkan berbagai reaksi dan tidak jarang mereka mendapatkan kritikan dan komentar negatif. Banyak yang berpendapat bahwa kehadiran mereka sebagai bentuk ekspresi kreativitas yang ingin diakui sebagai bentuk eksistensi di tengah riuhnya kesibukan warga Jakarta. Banyak juga yang mengapresiasi cara mereka berbusana yang dinilai unik dan nyentrik persis dengan kondisi fashion yang umumnya.

Namun, dalam sekian banyak dukungan tentunya juga hadir komentar kontra mulai dari sindiran dan bahkan juga kehadiran mereka sendiri menjadi "bumper" politik untuk melancarkan visi personal dari beberapa kelompok orang.

Terlepas dari hal itu semua, saya melihat kehadiran anak-anak remaja tanggung ini memang sudah mendapatkan tempat bagi warga Jakarta. Dengan menampilkan outfit yang hype untuk menyerupai gaya anak Jakarta itu sendiri, mereka juga tampil percaya diri melalui konten media sosial yang unik melalu platform TikTok dan Instagram. 

Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 e ayat 3 menyatakan bahwa setiap orang berhak atas berserikat, berkumpul, dan mengerluarkan pendapat. Maka, dapat dimaknai bahwa setiap orang memang sudah dijamin oleh negara untuk melindungi, menghormati, dan menjamin setiap warganya tanpa terkecuali.

Hal ini seringkali kurang diperhatikan oleh setiap kelompok masyarakat termasuk juga oleh pemerintah, sehingga ketika terdapat suatu kelompok masyarakat yang berbeda dengan kelompoknya maka tidak jarang muncul resistensi di antara kelompok itu sendiri. Bukankah kita perlu mengakui bahwa negara Indonesia memiliki ragam status kelompok sosial yang berbeda, maka dari sisi kebebasan seseorang berkumpul dengan cara mereka sendiri, perlu kita apresiasi dengan catatan bahwa kreativitas yang ditampilkan tidak kebablasan dan mengganggu kenyamanan di ruang publik.

Kemunculan Interaksionalisme Simbolik

Pengamatan saya terhadap munculnya Citayam Fashion Week tidak ubahnya dengan kehadiran komunitas-komunitas anak remaja lainnya yang sudah ada pada setiap zamannya, yaitu adanya interaksionalisme simbolik.

Interaksionalisme simbolik merupakan salah satu kajian sosial yang menjelaskan tingkah laku manusia melalui analisis makna sosial. Teori ini dipopulerkan oleh George. H. Mead.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun