Bola Pilihan

Adam Lallana, "Thank You, Next"

9 November 2018   15:07 Diperbarui: 9 November 2018   15:10 540 0 0
Adam Lallana, "Thank You, Next"
(Anthony DEVLIN / AFP)

Beberapa waktu yang lalu, Ariana Grande secara mengejutkan baru saja meluncurkan sebuah single terbarunya yang berjudul "Thank You, Next", yang bercerita tentang para mantan kekasihnya yang telah mengajarkannya banyak hal dalam kehidupannya.

Boleh dibilang, saya bukan seorang penggemar Ariana Grande jadi sebenarnya saya sih tidak menanggapinya secara berlebihan tentang lagunya, ataupun tentang kisah percintaan dari Ariana yang jadi latar belakang di lagunya ini. Tapi, kalau saya boleh memilih satu lagu miliknya Ariana dan satu nama untuk saya nyanyikan, saya tentu akan memilih lagu ini, dan akan saya nyanyikan untuk Adam Lallana.

Ya, Adam Lallana. You've read that right. Buat saya, masa bakti Lallana di Liverpool bisa dikatakan sudah selesai, jadi sangat pantas rasanya kalau lagu Ariana Grande tadi ditujukan untuk sang midfielder. Secara fisik, daya tahan dan usia memang tidak bisa berbohong. Jika kita bandingkan dengan James Milner, yang berposisi sama namun lebih senior 2 tahun diatas Lallana, kita bisa lihat siapa yang lebih tangguh fisiknya.

Di musim 2018/19 saja, Lallana sudah melewatkan 7 pertandingan di Liga Inggris karena cedera pangkal paha yang dideritanya di awal musim lalu. Belum lagi kalau kita melihat riwayat cedera hamstringya musim lalu yang membuat Lallana hanya mencatatkan 14 penampilan di musim lalu, itupun lebih banyak dimulai dari bangku cadangan.

Apabila kita melihat lebih jauh lagi permainan Lallana di tim Liverpool sekarang, akan sangat jelas bahwa perannya sudah habis. Dari 3 penampilan terakhirnya di Liga Inggris saja, tidak ada peran signifikan --terutama ketika Liverpool menyerang-- yang ditunjukkan Lallana; hanya mampu mencatatkan rataan 0.7 tembakan per pertandingan, dan 0.7 key passes per game, tanpa ada catatan gol serta assist yang dibuat. 

Dari aspek defensif permainan Lallana meskipun bisa dibilang tidak terlalu buruk dengan catatan 1.33 tekel per pertandingan dan 0.7 intersep per pertandingan--yang mana sangat penting dalam konsepGegenpressing--, tapi apabila tidak didukung dengan fisik yang prima, untuk melakukan high-pressing secara konstan sekalipun Lallana akan kesulitan.

Maka dari itu, sebenarnya Jurgen Klopp sudah tidak bisa berharap banyak dari seorang Lallana. Masalahnya adalah, Lallana bukanlah seorang pemain yang sangat konsisten. 

Ia bisa sangat brilian dalam beberapa momen pertandingan, tapi tidak pernah mampu menjaga konsistensinya untuk terus menerus muncul dan menjadi pemain penting dalam tim. Mengharapkannya untuk bisa menjadi seorang pembeda yang muncul dari bangku cadangan pun rasanya agak sulit, apalagi jika diharapkan menjadi pemain kunci saat musim berjalan.

Belum lagi jika dihadapkan pada kompetisi internal dari skuad Liverpool sendiri, yang mana sudah penuh sesak dengan para gelandang yang secara kualitas permainan & fisik berada diatas Lallana, seperti James Milner, Gini Wijnaldum, Xherdan Shaqiri, Naby Keita--yang masih belum begitu nampak kualitasnya--, dan bahkan masih ada Alex Oxlade-Chamberlain yang belum kembali dari cedera panjangnya. 

Ditambah lagi dengan rumor-rumor transfer antara Liverpool dengan para gelandang muda berbakat di antero Eropa seperti Nabil Fekir, Kerim Demirbay, hingga Christian Pulisic, jelas ini bukan sebuah pertanda yang bagus bagi Lallana yang sudah menginjak usia 30 tahun di musim ini, untuk tetap melanjutkan karirnya di Merseyside musim depan.

Jadi, ada baiknya mulai saat ini para fans Liverpool berlepas diri dari harapan-harapan yang muncul terhadap Lallana; dan mulailah legowo kalau Lallana yang sekarang adalah sosok yang berbeda dari Adam Lallana pada musim 2016/17, yang mampu mengakhiri musim dengan catatan 11 gol & 8 assist di seluruh kompetisi serta membawa Liverpool melaju jauh hingga ke final UEFA Europa League meskipun harus takluk di final oleh Sevilla.

Dan bagi saya, selain sebuah lagu Ariana Grande tadi, tidak ada cara yang lebih baik lagi untuk mulai melupakan eksistensi Lallana di Liverpool kecuali dengan memparafrasekan slogan kampanye #ArseneOut miliknya para fans Arsenal: "Lallana, thanks for all those Cruyff turns, but it's time to say goodbye"

Kita akan selalu mengingat Cruyff turns yang dilakukan Lallana adalah sebuah manifestasi dari kemampuannya yang istimewa, tapi tanpa substansi nyata bagi Liverpool, semuanya hanya sekedar ilusi.

*statistik diambil dari whoscored.com & transfermarkt.co.uk