Mohon tunggu...
Wisnu Adhitama
Wisnu Adhitama Mohon Tunggu... Wiraswasta - Jalani hidup hari ini dan rencanakan besok dan kedepan untuk berbuat sesuatu

Writer on sihitamspeak.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Balada Pra Ospek Universitas Brawijaya

30 Agustus 2015   22:27 Diperbarui: 30 Agustus 2015   22:27 1624
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Salah satu pedagang online yang menjajakan dagangannya via twitter. "][/caption]

Seperti tak habisnya untuk dibahas, Ospek seperti selalu punya sisi-sisi untuk dibahas. Kali ini kita akan bicara mengenai sisi lain ospek yakni saat sebelum ospek itu terselenggara. Bukan masalah perpeloncoan, bukan pula masalah adu kuat senior versus junior, tapi ini tentang tugas-tugas ospek. Lingkup pembahasan saya persempit hanya di pra-ospek Universitas Brawijaya Malang (UB) karena mungkin tidak semua kampus seperti ini (meski saya yakin kasus ini ada).

Di UB ospek ada dua jenis yakni ospek universitas dan ospek fakultas. Ospek universitas biasanya berlangsung dua hari, tapi dua tahun belakangan (tahun 2014 dan 2015) diselenggarakan hanya satu hari. Ospek fakultas dibuat lebih panjang, namun normalnya hanya dua hari plus krima (krida mahasiswa) yang diselenggarakan setiap dua minggu sekali di hari sabtu atau sabtu-minggu tergantung kebijakan fakultas masing-masing.

Tema tahun ini panitia ospek universitas memberi nama Raja Brawijaya. Entah apa filosofi nama Raja Brawijaya. Menurut sepengetahuan saya Brawijaya memang nama seorang raja yang pernah menjabat di Kerajaan Majapahit, kerajaan yang besar di Pulau Jawa. Meski memang saya kurang setuju dengan nama Raja Brawijaya, alasannya karena namanya bukan Raja Brawijaya tapi Prabu Brawijaya.

Ospek di UB selalu dihiasi oleh banyaknya para pedagang perlengkapan tugas ospek yang ramai menjajahkan dagangannya di sekitaran Jalan Veteran, Kota Malang (Depan pintu gerbang UB). Lapak mereka bertebaran dan saya yakin mereka tidak memiliki ijin untuk berjualan. 

Tidak hanya yang menjajahkan dagangan secara fisik, pedagang via online pun ramai dan marak dijumpai. Bahkan para pedagang online ini membuat dirinya seolah-olah orang dalam, alias panitia. Memang ada oknum panitia yang "curang" dengan ikut berdagang peralatan ospek, namun tidak banyak namun ada. Tiga tahun di UB membuat saya tahu persis bagaimana pedagang online ini bisa meyakinkan calon pembelinya.

Berbicara harga untuk tugas ospek ini beragam, tergantung paket mana yang anda pilih. Seperti di restoran cepat saji, jika anda membeli satuan harganya lebih mahal dari pada yang paket lengkap. Dari sebuah akun penjual alat-alat ospek saya menanyakan harga paketannya. Untuk harga paket lengkap dihargai Rp. 120 ribu, paket tugas online Rp. 50-70 ribu, Tugas non online 80-100 ribu tergantung dari waktu pemesanan.

Harga ini saya boleh bilang cukup fantastis mengingat harga pembuatannya dan pembelian peralatan ospek yang hanya Rp. 30-60 ribuan saja untuk paket lengkap. Sayangnya masih banyak calon mahasiswa UB yang masih memilih membeli dari pada membuat sendiri perlengkapannya.

Tahun lalu ada salah satu pedagang online dan satu pedagang fisik yang saya wawancarai, mereka adalah kawan saya sendiri (sesama mahasiswa) namun bukan panitia. Si pedagang online mengaku kepada saya bisa mendapat uang hingga Rp. 2,5 juta yang dibagi kepada 5 orang, sedangkan pedagang fisik mampu meraup hingga Rp. 1 juta hanya periode ospek universitas yang hanya sehari. 

Entah siapa yang lebih pintar, meski untuk melihat tugas ospek tahun ini lebih diperketat dengan sistem akun mahasiswa baru (maba) tetap saja tugas ospek bisa bocor. Seolah sia-sia panitia dan pihak UB pun membiarkan hal itu terjadi. Saya katakan membiarkan karena memang penjual berada di halaman sekitar UB dan belum ada tindakan berarti dari pihak panitia dan UB. Meski pedagang online tidak menjajakan dagangannya secara fisik namun saat memberi barang ke pelanggannya, si pedagang online kebanyakan berada di sekitar UB.

Saya yakin pihak kampus mengetahui keberadaan para pedagang namun memang pedagang itu tidak pernah ditindak. Saat ospek universitas selesai, maba yang memesan perlengkapan ospek fakultas pun tumpah ruah ke jalan untuk mengambil pesanannya. Jalanan macet itu pasti, namun semua warga seolah memaklumi kemacetan yang terjadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun