Sigit
Sigit Karyawan swasta

Dibalik kesuksesan seorang anak ada doa ibu yang selalu menyertainya, kasih sayangnya takan pernah luntur, dan takan tergantikan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Jangan Sembarangan Menjuluki "Kutu Loncat" kepada Karyawan

13 Maret 2018   05:47 Diperbarui: 13 Maret 2018   10:31 1490 23 16
Jangan Sembarangan Menjuluki "Kutu Loncat" kepada Karyawan
Ilustrasi: kreativa.co.id

Apakah Anda termasuk alergi mendengar istilah "kutu loncat?" Tenang, kalau Anda bukan termasuk di dalamnya ya jangan baper. Dalam beberapa istilah, kutu loncat dapat di artikan "orang yang menggantungkan hidupnya dengan menumpang dari satu orang ke orang lain". 

Sejak dulu sampai saat ini, istilah kutu loncat identik dengan seorang karyawan yang pada perjalanan karirnya selalu berpindah-pindah dalam kurun waktu "kurang" dari 2 sampai 3 tahun.

Istilah kutu loncat seolah buruk di dunia kerja, padahal jika kita mau sedikit saja memahami alasan mereka yang keluar masuk perusahaan, tentu akan lain ceritanya. Banyak orang bilang, kutu loncat hobby yang menantang, loh ko jadi hobby sih? 

Soalnya memang ada orang yang hanya bertahan kerja kurang dari 2 tahun, tapi mereka punya alasan tersendiri. Buat perusahaan rugi tidak sih memelihara karyawan dengan tipe tersebut? Bisa iya, bisa juga tidak sama sekali.

Karyawan dengan julukan kutu loncat biasanya orang yang cerdas loh,Hhal ini berdasarkan pengalaman saya pernah berinteraksi dengan mereka. Dengan dalih mempunyai target yang ingin dicapai, bila saya perhatikan memang terlampau tinggi, sehingga jika terlihat tak memungkinkan, maka, hengkang adalah pilihan terbaik buat mereka. Biasanya sih kita yang heboh, toh orang seperti itu merasa enjoy dengan keadaan serta label yang tersemat pada mereka.

Bukan hanya hidup yang mempunyai pilihan, kerja juga mempunyai peranan yang sama. Tiap orang mempunyai visi dan misi berbeda ketika bekerja di sebuah perusahaan, dan buktinya banyak juga loh perusahaan yang memakai tipe pekerja seperti itu. 

Mungkin perusahaan juga mempunyai tujuan berbeda jika terpaksa harus menerima si karyawan kutu loncat tersebut. Ya, kalau soal pengalaman, tidak usah diragukan lagi.

Saya pribadi tidak pernah mempermasalahkan soal tipe karyawan kutu loncat, malah terkadang ikut terinspirasi dengan keberanian mereka menentukan target yang tinggi dalam karirnya. 

Mereka berani dengan cepat memutuskan keluar dari zona nyaman sekali pun. Tapi terkadang semangat dan optimisme membuat mereka lupa, ada keluarga yang menjadi tanggung jawab, namun bisa jadi keluarga lah yang memotivasi agar segera mendapatkan pekerjaan yang lebih mapan.

Walau memang ada tipe pekerja yang suka pindah-pindah kerja, yang hanya mencari gaji yang tinggi saja. Mereka tidak memikirkan bagaimana kondisi perusahaan, cenderung abai akan tanggung jawab.

Bayangkan jika yang bersangkutan sedang mengerjakan suatu project besar, karena ada tawaran dari perusahaan lain yang menawarkan gaji lebih besar, dengan seenaknya langsung resign. Tentu karyawan seperti ini yang di benci oleh perusahaan, type pekerja tersebut di manapun bekerja akan melakukan hal yang sama, karena semua hal diukur dari materi semata.

Namun perlu diketahui juga, seorang kutu loncat yang baik ternyata mempunyai hitung-hitungan yang sangat matang ketika memutuskan hengkang dari perusahaan tempat bekerja. 

Bisa dibilang bukan mereka tak punya rasa khawatir tentang nasibnya ketika harus pindah kerja, malahan mereka lebih khawatir karena beban dan risiko yang ditanggung sangat besar ketika pindah kerja.

"Untuk sebuah keberhasilan, saya berani dan siap menangung segala risiko yang akan terjadi nantinya." Begitulah ungkapan rekan kerja saya dulu, dalam kurun waktu 20 tahun bekerja di sebuah perusahaan, sudah 10 kali keluar masuk kerja. 

Artinya, ia hanya bertahan rata-rata 2 tahun saat bekerja pada sebuah perusahaan. Hampir tak percaya, namun itu kenyataanya. Toh dia sekarang lebih berhasil dari sebelumnya, mungkin karena sudah cukup pengalaman yang didapatnya selama ini.

Target seorang yang dianggap kutu loncat kadang membuat kita geleng kepala, dia hanya butuh waktu beberapa bulan saja untuk melakukan evaluasi. Konyolnya, evaluasi bukan diperuntukan untuk diri pribadi, melainkan terhadap kondisi pekerjaan dan tempat kerja. Mengapa saya berfikir demikian, ketika ia melihat peluang untuk pengembangan karir sangat kecil, maka mulailah ia mengatur strategi kembali.

Seorang yang biasa berpindah-pindah kerja, biasanya tidak perduli dengan status dan kedudukan yang diberikan oleh perusahaan. Apakah statusnya masih kontrak atau sudah permanen. Bagi mereka karir adalah segalanya, dengan begitu maka kenyamanan serta kesuksesan dalam bekerja akan mengikuti serta mudah di dapatkan.

Tidak melulu seorang yang suka berpindah-pindah kerja selalu bernasib baik, banyak juga suka duka yang mereka alami. Dan mereka sepertinya sudah siap dengan kondisi tersebut. Tak jarang juga saat interview terkadang malah mendapat cibiran yang seharusnya tidak dilakukan oleh pewawancara. 

Mereka tak segan menyebut "kutu loncat" bagi kandidat yang sedang mereka interview. Buat mereka mungkin bercanda, namun tidak buat seorang kandidat, untuk apa dipanggil kalau hanya untuk diolok-olok.

Hal itu juga membuat saya kadang deg-degan saat mengikuti interview kerja. Padahal saya baru dua kali pindah perusahaan, itupun dengan pengabdian lebih dari 5 tahun. Ada pertanyaan yang sering dilontarkan oleh pewawancara, bahkan user pernah bertanya langsung tentang hal ini. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2