Mohon tunggu...
Sigit Eka Pribadi
Sigit Eka Pribadi Mohon Tunggu... #Jadikan pekerjaan itu seni dan hobi#Email: vicksigit@gmail.com#Dulu sempat membidangi Humas dan Media#Sekarang Membidangi Seni dan Hiburan#

#Menulis sesuai suara hati,kadang kritis,tapi humanis,berdasar fakta dan realita#Kebebasan berpendapat dijamin Konstitusi#Jangan membungkam#

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Siapapun Masyarakat Boleh Datang Merantau ke IKN Baru, Asalkan...

21 Desember 2019   19:00 Diperbarui: 21 Desember 2019   19:19 121 9 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Siapapun Masyarakat Boleh Datang Merantau ke IKN Baru, Asalkan...
Presiden RI Jokowi saat berkunjung ke IKN yang baru | Dokumen gambar milik DW.com

Sebagian wilayah PPU dan Kukar provinsi Kaltim telah resmi jadi Ibukota negara (IKN), dan kedua wilayah ini akan segera menjadi wilayah yang semakin  modern dengan berbagai teknologi dan kecanggihannya.


Berbagai infrastruktur seperti bangunan/gedung bertingkat, jalan, moda transportasi dan lain sebagainya akan segera dibangun di IKN yang baru.

Begitu juga eksodus masyarakat baik pegawai pemerintah maupun swasta ataupun masyarakat lainnya akan segera berduyun-duyun menuju IKN yang baru.

Namun bagaimanakah kiranya penerimaan masyarakat lokal yang akan segera melihat kenyataan bahwa kampung halaman mereka akan menjadi IKN yang baru.


Khususnya menerima eksodus masyarakat luar yang kedepan bakal akan turut mendiami kampung halaman masyarakat lokal. Apalagi bila berkaitan dengan tradisi, budaya dan kearifan lokal diwilayah IKN yang baru.

Dalam hal ini penulis yang lahir dan besar di sekitaran wilayah IKN ingin sedikit memberikan gambaran bagaimana karakter wilayah baik masyarakatnya maupun tradisi budaya dari kedua wilayah yang di jadikan IKN yang baru ini.

Meskipun secara garis keturunan penulis adalah berdarah campuran yaitu ibu bersuku dayak dan ayah bersuku jawa, namun akar tradisi budaya dari ibu tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam diri penulis.

Secara umumnya wilayah IKN didiami oleh masyarakat suku Dayak, suku Paser, suku Kutai, dan beberapa etnis suku pendatang lainnya.

Masyarakat lokal PPU dan Kukar memiliki akar tradisi dan kebudayaan yang sangat kuat yang diwariskan secara turun temurun dari para leluhur mereka.

Pada umumnya masyarakat lokal suku Dayak, Paser dan Kutai memiliki karakter yang ramah dan santun, mereka akan menyambut dengan senang hati bagi siapa saja pendatang yang merantau di bumi etam Kaltim. Disamping itu sangat menjunjung tinggi dan begitu menghargai toleransi beragama.


Namun juga masyarakat suku Dayak, Paser dan Kutai memiliki sikap tegas, keras dan prinsip yang mengakar kuat dalam kerukunan keluarga dan menjunjung tinggi tradisi budaya warisan leluhur.

Sehingga bila ada tradisi budaya leluhur yang dilanggar ataupun ada hal hal yang kurang sopan dan dirasa menciderai hati masyarakat Dayak, Paser dan Kutai, maka hal ini akan membuat mereka tidak berkenan dan tak segan akan menjalankan hukum adat yang berlaku. Apalagi bila ada kebersinggungan yang menyangkut kesukuan.

Prinsip kekeluargaan yang sangat kuat, bila ada satu yang tersakiti maka semuanya akan merasakan dan akan membela hingga titik darah penghabisan, masih begitu dipegang teguh masyarakat Dayak, Paser dan Kutai.

Apalagi bila yang melakukan hal hal yang melanggar tradisi budaya, perilaku kurang sopan, dan menciderai hati adalah masyarakat pendatang atau perantau.Tak pelak hal ini akan berpotensi menimbulkan konflik yang sifatnya antar etnis, didalam masyarakat.

Inilah yang wajib di ketahui bagi masyarakat pendatang atau perantau bila ke depan akan turut menjadi bagian dari warga PPU dan Kukar serta secara umumnya Kaltim.

Maka bagi masyarakat pendatang dan perantau, harus benar-benar memperhatikan bagaimana menyesuaikan diri dengan masyarakat IKN yang baru yaitu masyarakat lokal PPU dan Kukar.

Jangan sampai masyarakat pendatang dari di Ibukota Negara sebelumnya yaitu Jakarta dan sekitarnya, atau dari masyarakat perantauan lainnya, malah bertindak sebaliknya yaitu memberlakukan masyarakat lokal untuk menyesuikan diri dengan masyarakat pendatang atau perantau.

Seperti konflik yang pernah terjadi di PPU yang mengarah ke konflik antar etnis lokal dan pendatang atau perantau, karena adanya kebersinggungan yang terjadi akibat perilaku yang kurang sopan, atau mengebelakangkan rasa menghargai warga lokal dan tradisi budaya yang berlaku.

Inilah yang patut jadi perhatian dan pertimbangan sehingga diharapakan agar jangan sampai terjadi, dan menjadi persoalan dibelakang hari.

Tentunya sebagai masyarakat pendatang atau perantau, agar dapatnya lebih mengedepankan  berperilaku sopan, santun dan menghormati warga lokal IKN yang baru, begitu juga terhadap tradisi budaya yang berlaku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x