Mohon tunggu...
S. Eleftheria
S. Eleftheria Mohon Tunggu... Lainnya - Et ipsa scientia potestas est

Shyants Eleftheria adalah seorang yang ingin dikenal lewat tulisannya saja. Penyuka hitam dan putih ini hanya ingin menulis tanpa terbebani keharusan menulis dan menyukai tema apa pun yang dianggapnya menarik untuk ditulis.

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Esensialisme, Seberapa Optimalkah Waktu Kita Bekerja?

6 Agustus 2022   22:04 Diperbarui: 9 Agustus 2022   10:30 363 22 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi karyawan yang tertidur saat bekerja. (sumber: nakaridore/ Freepik via kompas.com) 

Di dunia sekarang ini, menjadi sibuk seolah-olah merupakan norma baru untuk sebuah kepercayaan diri. 

Kepercayaan diri tersebut kemudian menjadi semacam kebanggaan bagi seseorang ketika memiliki banyak proyek yang ingin dilakukannya dan mencoba menyesuaikannya dengan jadwal yang sudah padat. 

Sebagian besar pun percaya, termasuk kita mungkin, bahwa jika sibuk bekerja keras, kita dapat mencapai hasil yang maksimal.

Akan tetapi, sibuk bekerja bukan berarti kita benar-benar melakukan hal-hal penting. Terkadang, sebagian besar hal yang kita lakukan justru pekerjaan yang tidak penting sama sekali, bahkan cenderung sepele. 

Hanya, seperti dikukung dalam waktu kesibukan yang luar biasa, kita menjadi kurang memperhatikan esensi dasar mengapa kita melakukan pekerjaan yang mungkin menghabiskan waktu produktivitas saja. 

Nah, untuk itulah kita membutuhkan semacam penangkal kesibukan yang luar biasa tersebut  yang dikenal dengan istilah "esensialisme".

Esensialisme bukan tentang bagaimana kita menyelesaikan lebih banyak hal atau pekerjaan, melainkan tentang bagaimana kita menyelesaikan pekerjaan dengan benar dan bagaimana kita membuat investasi waktu dan energi yang paling bijaksana untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan.

Pertama, kita perlu memahami bahwa hidup kita dipenuhi dengan pertukaran dua sisi kehendak yang berbeda. Ketika kita mengatakan "ya" untuk setiap kondisi, tanpa sadar kita mengatakan "tidak" kepada beberapa kondisi lainnya. 

Misalnya, jika seseorang meminta kita pergi keluar bersamanya untuk sekadar minum kopi dan kemudian kita mengatakan "ya", kita sebenarnya mengatakan "tidak" untuk beberapa hal lain yang dapat kita gunakan untuk menghabiskan waktu, seperti berkebun, berolahraga di gym, atau membaca buku. 

Demikian juga, jika kita mengatakan "tidak" untuk permintaan teman tersebut, kita berarti mengatakan "ya" untuk hal-hal lainnya itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan