Mohon tunggu...
Seto Wicaksono
Seto Wicaksono Mohon Tunggu... Recruiter

Menulis, katarsis.

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Dua Sisi Pamer Gaji di Media Sosial: Ada yang Termotivasi, Tidak Sedikit yang Keki

22 Februari 2021   22:30 Diperbarui: 23 Februari 2021   19:21 1133 12 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dua Sisi Pamer Gaji di Media Sosial: Ada yang Termotivasi, Tidak Sedikit yang Keki
Ilustrasi pamer gaji (Sumber: Thinkstockphotos via KOMPAS.com)

Disadari atau tidak, akhir-akhir ini cukup banyak orang yang dengan mudahnya memamerkan gaji atau pendapatan mereka di internet secara gamblang dan serampangan. Wadahnya beragam.

Bisa melalui media sosial, audio-video singkat, dan yang terbaru, melalui media sosial yang punya kesan eksklusif bagi sebagian orang: Clubhouse.

Melalui media apa pun, rasa-rasanya pamer gaji atau pendapatan kepada khalayak secara gamblang selalu menimbulkan dua sisi yang berlawanan.

Sisi yang satu merasa sepakat dan tidak ada masalah sama sekali. Bahkan, konon, bisa memberi motivasi melalui proses yang diceritakan. Bagaimana merintis karier atau wirausaha dari awal.

Di sisi yang lain, sebagian orang kurang sepakat dengan pemikiran tersebut. Lantaran bikin orang lain insecure, nggak pede, dan jadi minder dalam waktu bersamaan.

Hal ini selalu menjadi persoalan klasik di ranah sosial sekaligus ruang lingkup profesional. Efek laten yang mesti diwaspadai adalah, timbul rasa cemburu antara pekerja satu dengan lainnya. Sehingga iri-irian soal pendapatan pun sulit dihindari.

"Ah, gue kerja berangkat pagi, pulang malam, gaji masih segini-segini aja. Dia kerja segitu doang, gajinya malah lebih besar dibanding gue."

"Dia kerjanya cuma gitu doang, tapi gajinya kok gede banget? Gue yang udah banting tulang, berangkat dan pulang kerja nggak ketemu matahari, gajinya masih stuck. Jalan di tempat!"

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Keluhan sebangsa itu sudah cukup familiar bagi saya, mungkin juga sebagian diantara kalian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN