Kotaksuara

JR Saragih, Bupati Simalungun dan Bakal Calon Gubernur Sumatera Utara

12 Maret 2018   00:57 Diperbarui: 12 Maret 2018   01:10 638 0 0

Terus terang saja saya kenal dengan Dr.Jopinus Ramli Saragih,SH,MM, memang tidak terlalu dekat tapi kendati demikian saya tidak bisa pungkiri kalau saya memang kenal pemilik nama yang populer dipanggil JR.Saragih tersebut. Wajar saja saya kenal, beliau adalah Bupati 2 periode di kampung saya Kabupaten Simalungun. Atau jangankan saya, orang lain pun tentu sudah sangat kenal dengan JR.Saragih. 

Setelah memimpin Kabupaten Simalungun selama 2 periode, pada suatu pertemuan singkat dan tanpa terencana beliau menyatakan niat tulusnya ingin mengabdi membangun Provinsi Sumatera Utara dan rela meninggalkan jabatannya sebagai Bupati Simalungun. Ketika itu saya secara pribadi dengan sabar mendengar niat tulus JR.Saragih tersebut. 

Maklum saja , sebagai anak mantan wartawan tentu saya terbiasa mendengar paparan dari siapa saja, apalagi memang sebelumnya bapak saya Ulamatuah Saragih selalu mengatakan lebih baik kita mendengar daripada didengarkan karena itu jauh lebih bermanfaat ketimbang kita harus berbicara yang belum tentu arah dan tujuannya.

Kebetulan saat ini saya menjabat sebagai Ketua DPD KNPI Kabupaten Simalungun. Tentu oleh karenya mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus mampu bersikap netral secara institusi organisasi walaupun jujur saja secara pribadi saya sangat mendukung dan yakin dengan slogan "SEMANGAT BARU SUMUT" yang diusung oleh JR kelak akan mampu memenangkan pertarungan politik meraih kursi Sumut 1. 

Seiring berjalannya waktu singkat cerita, akhirnya JR.Saragih berhasil memperoleh syarat dukungan partai politik untuk dapat mencalonkan diri sebagai calon Gubernur Sumatera Utara periode 2018-2023 yang berpasangan dengan Ance Selian, S.Ag. Akhirnya dengan dukungan Partai Demokrat,PKB dan PKPI (20 kursi parlemen sumut) beliau mendaftarkan diri ke KPU Sumatera Utara untuk dapat ditetapkan menjadi calon Gubsu dan Wagubsu 2018.

Dalam sebuah kesempatan, saya dan beberapa kawan-kawan jajaran pengurus KNPI Simalungun beraudiensi (cakap-cakap) dengan JR.Saragih yang notabenenya adalah Bupati Simalungun. 

Saat itu secara psikoligis saya sangat terkesan dengan penyambutan beliau. Sebagai seorang pemuda, saya menilai beliau itu adalah sosok pemimpin yang cerdas, penuh perhatian, penyayang, jiwa muda dan bersahabat serta kharismatis. Pada pertemuan pertama itu suasana sudah sangat terasa akrab, penuh rasa kekeluargaan hingga berlanjut komunikasi yang cukup baik hingga saat ini.

Dalam tulisan singkat ini, saya tidak ingin untuk menilai bagaimana   kinerja JR Saragih menjadi Bupati Simalungun  2010-2015 yang kemudian terpilih lagi untuk periode kedua 2015-2020 ( dilantik Maret 2016) setelah mngguli 4 pasangan lainnnya yaitu Tumpak Siregar-Irwansyah Damanik, Nuryati damanik-Posman Simarmata, Evra Sassky Damanik-Sugito dan Lindung Gurning-Soleh Saragih. 

Yang berkesan bagi saya sejak kenal dengan JR, saya hanya penasaran dan ingin mengenal lebih jauh dengan sosok beliau. Saya mencari info dan biografinya, yang ternyata memang termasuk " manusia langka dan pemberani" yang gigih berjuang sejak kecil yang menjadi anak yatim. Oleh karenanya tidak berlebihan kalau beliau tersebut saya katakan adalah seorang sosok petarung yang belum tentu dimiliki Kabupaten Kota lain di Sumatera Utara.

Jopinus Ramli Saragih atau dikenal dengan JR Saragih melewatkan masa kecil dengan tidak mudah. Dia dilahirkan pada 10 Nopember 1948.Pada tahun 1969, saat masih belum genap berumur 1 tahun, ayahandanya meninggal dunia. Usia yang seharusnya dihabiskan dengan merasakan kasih sayang orangtua. Kemudian JR Saragih dititipkan kepada neneknya yaitu (alm) Tapi br.Purba (Ibunda Rasen Saragih) yang tinggal di Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun. 

Kasih sayang seorang nenek ia rasakan hingga ia mengenyam pendidikan kelas IV sekolah dasar. Ia pun memutuskan meninggalkan Raya, bertekad melanjutkan sekolah di Kutabaru, Kecamatan Munthe, Kabupaten Tanah Karo. Pendidikan kemudian ia lanjutka di Kutabaru. Sejak kecil, kerja keras sudah melekat pada dirinya. 

Tempaan hidup dan kenyataan yang ia hadapi, mengharuskan JR Saragih memenuhi kebutuhan hidup dengan berdikari. Namun ia tidak menyerah. Ia sadar, pendidikan adalah kunci untuk perubahan masa depan. Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi di kemudian hari, untuk berbisnis di bidang pendidikan. Ia yakin, nasib akan diubah oleh diri sendiri, salah satunya dengan mengenyam pendidikan yang baik. 

Pada usia yang masih belia, JR Saragih secara mandiri mencari biaya pendidikan tanpa kenal menyerah, meski ia saat itu harus bekerja serabutan. Menyemir sepatu, menjadi kernet bus Simas dan Sepadan ia jalani dengan keteguhan hati. Dorongan kuat untuk mengubah nasib, menjadikan JR Saragih muda tanpa malu mencari sepeser uang, untuk kehidupan sehari-hari serta biaya pendidikan.

Sebagaimana ungkapan yang lazim, bahwa ternyata terkadang merebut sesuatu itu lebih gampang dari pada mempertahankannnya. Hal itu mungkin berlaku bagi JR, yang begitu sulitnya untuk mempertahankan jababatan sebagai Bupati Simalungun untuk periode kedua, yang penuh dengan dinamika. Tapi fakta menunjukkan, bahwa JR masih dicintai oleh sebagian besar masyarakat Kabupaten Simalungun  dibanding dengan calon /figur lainnnya, sehingga berhasil menduduki kembali kursi Bupati Simalungun untuk kedua kalinya.

Setelah terpilih untuk periode kedua, kepada bapak saya--- yang kebetulan menjadi Ketua Panwas, timbul banyak kritik, pertanyaan bahkan hujatan dan sinisme yang intinya " kok JR lagi yang (bisa)menang. Secara normatif saat itu bapak saya  menjawab, bahwa  yang buat JR jadi Bupati lagi adalah rakyat Simalungun, dan prosesnya sudah berjalan sesuai dengan hukum dan mekanisme peraturan perundang-udangan di negeri ini. 

Kala itu tak perlu diceritakan kembali tentang bagaimana proses Pilkada yang tempo hari sempat membatalkan pencalonan pasangan JR-Amran. Sebab saya berani mengatakan bahwa semuanya telah berjalan sesuai dengan aturan. Dan JR itu adalah orang yang taat akan aturan. Yang pasti juga JR itu "unik" dan hebat, ya hebat. Hanya dia satu-satunya di Indonesia ini yang dilantik sendiri menjadi kepala daerah hasil  Pilkada tahun 2015, tanpa wakil kepala daerah.

Lantas, apa sih yang membuat JR.Saragih mampu memimpin kembali pada periode kedua menjadi Bupati Simalungun ? Saya tidak punya kapasitas untuk menilai hal itu. Tapi yang saya lihat, memang ada perubahan, yaitu Simalungun itu memang nyata menjadi Simalungun. Setidaknya terlihat dari kemajuan ibukota Simalungun Pematang Raya, yang dulu sepi sekarang ini sudah layak sebagai ibukota kabupaten yang setara dengan daerah lainnnya. 

Keluhan yang umum di masyarakat Simalungun selama ini memang adalah soal jalan rusak (sampai-sampai JR itu diplesetkan  orang usil jadi " Jalan rusak "). Tapi kalau mau jujur, banyak juga yang sudah diperbaikinya. Hanya saja, siapa pun jadi bupati di Kabupaten Simalungun sebenarnya tidak akan/belum tentu mampu membangun jalan-jalan di kabupaten Simalungun yang begitu panjang (sekitar kurang lebih 1800 KM) mengingat terbatasnya anggaran. Saya berani katakan, siapa yang berani menjadi Bupati di Simalungun dan mampu menuntaskan persoalan jalan rusak di Simalungun?

Selain itu patut diacungi jempol bahwa selama JR saragih telah terjadi peningkatan yang fantastis APBD Simalungun yang dulu di awal jabatannnya hanya sekitar Rp 1 triliun menjadi sekarang sekitar Rp 2,4 triliun. Jumlah APBD ini sebenarnya tidak adil jika dilihat dari segi luas dan jumlah penduduk. Coba bandingkan misalnya antara Kabupaten Simalungun dengan Kabupaten Pakpak Barat. Simalungun dengan jumlah penduduk 1 juta jiwa lebih APBD hanya Rp 2,4 triliun, sedangkan Pakpak Barat  dengan jumlah penduduk 45 ribu APBD nya sebesar 456 miliar. 

Jika uang itu dibagi langsung kepada masyarakat, maka di Simalungun hanya memperoleh sekitar Rp 2 juta per jiwa, sedangkan di Pakpak Barat akan memperoleh Rp 10 juta per jiwa. Tapi begitulah struktur APBD (yang utamanya berasal dari pusat baik DAU maupun DAK), sepertinya tidak adil.Tentu saja dana sebesar ini juga tidak cukup untuk kebutuhan pembangunan di Kabupaten Simalungun yang merupakan salah satu kabupaten terbesar di Sumatera Utara yang saat ini telah memiliki 32 kecamatan dan 413 desa/kelurahan. 

Agar pembangunan Kabupaten Simalungun lebih pesat lagi tentu butuh perhatian khusus baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi Sumatera Utara. Tentu sangat tidak fair, kalau misalnya kerusakan jalan di Kabupaten Simalungun semata-mata menyalahkan Pemerintah Kabupaten Simalungun, apalagi secara khusus dibawah kepemimpinan JR.Saragih. Tapi hal itu tersebut, selain sudah warisan dari bupati sebelumnya juga adalah karena keterbatasan dana pembangunan yang ada.

Sebenarnya saya ingin mengatakan, secara person JR Saragih itu memang adalah type pemimpin yang kharismatis dan perhatian. Bukti jamak kita lihat, sudah begitu banyak masyarakat yang sakit dan miskin dibantunya. Bahkan , banyak putra-putri Kabupaten Simalungun yang disekolahkan JR baik di sekolah formal bahkan banyak yang didorong baik jadi anggota polisi, TNI maupun untuk praja di STPDN.  

Secara khusus juga harus diapresiasi lembaga pendidikan yang  didirikan JR melalui EFARINA yang mempersiapkan  putra-putri bangsa untuk menjadi kader pimpinan bangsa masa depan. Dan sepengatahuan saya, selama ini banyak tokoh yang berhasil dari Simalungun baik di kancah nasional maupun propinsi ( tak usah sebut nama), tapi sangat minim perhatian untuk pembinaan sumber daya manusia di Kabupaten Simalungun.

Jika demikian halnya, maka gerakan " SEMANGAT BARU SUMUT" dari Simalungun untuk Sumatera Utara yang kini digagas dan digelorakan oleh DR JR Saragih SH, MM patut dan layak untuk didukung, bukan hanya masyarakat Siantar-Simalungun tapi juga kalangan lebih luas di seluruh daerah Kabupaten Kota di Provinsi Sumatera Utara. 

Kita harus akui, JR itu punya keistimewaan sebagai seorang pemimpin yang masih relatif muda (dibanding para kandidat lainnya) dan punya kharisma, walau di sisi lain punya kelemahan juga yang tentu harus kita ingatkan bersama. Siapa tahu untuk saat ini, prosesnya juga seperti SISADAPUR, untuk Kabupaten Simalungun, dan lebih luas untuk Sumatera Utara kali ini dari Simalungun, sebab daerah dan suku (maaf, bukan bermaksud SARA) yang lain  sudah pernah menjadi Gubernur Sumatera Utara. Semoga yang terbaik untuk Sumatera Utara mampu kita peroleh dengan SEMANGAT BARU.

"Jadilah Garam dan Terang Bagi Masyarakat"