Mohon tunggu...
Media Pilihan

Eksistensi Radio Konvensional di Era Digital

31 Maret 2017   08:07 Diperbarui: 31 Maret 2017   10:19 9455 2 2 Mohon Tunggu...

Digitalisasi telah menguasai kehidupan masyarakat. Wira Respati (2014) mengungkapkan bahwa digitalisasi merupakan transformasi masyarakat informatif  yang secara memaksa dari bentuk analog ke digital. Digitalisasi tidak hanya berpengaruh pada aspek kehidupan masyarakat, melainkan juga berpengaruh pada beberapa media informasi dan telekomunikasi, salah satunya radio konvesional. Radio konvensional merupakan media penyalur informasi yang hadir sebelum televisi dan media lain berbasis internet, namun seiring berjalannya waktu radio konvensional mulai kehilangan pendengarnya. Survei AC. Nielsen tahun 2014 mengungkapkan bahwa terjadi penurunan jumlah pendengar radio hingga 3% setiap tahun (Natalia, 2014). Penurunan jumlah ini menjadi fenomena bahwa eksistensi radio konvensional yang semakin tergerus di era digital ini.

Radio konvensional adalah sebuah media informasi sekaligus komunikasi elektronik yang pertama kali ada di Indoensia pasca Perang Dunia II dengan siaran perdana pada 11 September 1954. “Radio adalah sarana hiburan, penerangan, pendidikan dan propaganda.” (Effendy dalam Sunarno, h. 22). Oleh karena itu, radio dijuluki sebagai The fifth estate(kekuasaan kelima) setelah surat kabar (Sunarno, n.d.). Radio konvensional di Indonesia menjadi media informasi yang terkenal dengan etika jurnalistiknya sebagai pilar dalam penyampaian berita, teristimewa di masa Orde Baru. Sensus Biro Pusat Statistik tahun 1995 di Indonesia menunjukkan 94% penduduk aktif mendengarkan radio konvensional dan 69,4% dari total penduduk memiliki pesawat radio sendiri (PP. PRSSNI dalam Masduki, 2001).

Saat ini radio konvensional dihadapkan dengan berbagai macam media yang mengalami perkembangan akibat digitalisasi. Jaringan internet yang mudah diakses oleh masyarakat menjadi jalan alternatif penggunaan media on-line. Masyarakat kini gemar mengakses media on-line untuk memperoleh berbagai informasi dengan cepat sehingga popularitas media on-linesemakinmerangkak naik. Merujuk pada hasil survei Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII) akhir 2015, pengguna internet di Indonesia mengalami pertumbuhan dari 93,4 juta menjadi 132,7 juta orang (Nawangwulan, 2016).

Radio konvensional sebelumnya juga dihadapkan dengan televisi yang hingga saat ini masih populer. Kehadiran televisi di dunia informasi dan telekomunikasi merebut perhatian khalayak karena selain memperdengarkan suara, televisi juga menyajikan gambar bergerak. Meskipun radio konvensional dan televisi bergerak dalam bidang yang sama, minat masyarakat terhadap televisi jauh lebih besar dibandingkan radio konvensional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2015, minat masyarakat terhadap televisi sebesar 91,47% sedangkan radio hanya mencapai 7,54% (Badan Pusat Statistik, 2015). Dengan demikian, apakah radio konvensional tetap eksis sebagai media penyampaian informasi?

Kebutuhan akan informasi sudah menjadi hal penting bagi masyarakat. Untuk itu, radio konvensional berusaha memenuhi kebutuhan tersebut. Radio konvensional mempunyai peran ideal dalam proses komunikasi sosial masyarakat sebagai media publik yang mewadahi kebutuhan para pendengarnya, antara lain : informasi, pendidikan dan hiburan (Masduki, 2001). Namun, perkembangan media selain radio konvensional ke ranah digital mampu menarik perhatian khalayak sehingga sumber informasi yang diperoleh masyarakat tidak hanya bertumpu pada radio konvensional.

Inilah yang menjadi tantangan bagi radio konvensional untuk bisa mempertahankan pendengarnya, mengingat digitalisasi merambat pada sendi-sendi kehidupan masyarakat. Kemudahan mengakses informasi melalui jaringan internet membawa kebiasaan baru bagi masyarakat untuk gemar mengakses media on-line. Dalam acara Okezone Goes to Campusyang diadakan di Universitas Pancasila pada bulan November 2016, seorang praktisi media, Alfito Deannova, berpendapat bahwa kebutuhan masyarakat akan informasi tidak hanya pada televisi maupun koran. Melainkan juga terintegrasi pada media on-line (Wurinanda, 2016).

Hal ini didukung pula dengan adanya kemajuan teknologi modern. Beragam aplikasi yang terdapat pada piranti bergerak (mobile) memudahkan masyarakat dalam memperoleh informasi dengan cepat sehingga hampir sebagian besar masyarakat menggunakan piranti tersebut. Survei yang dilakukan UC Browser tahun 2016 mengungkapkan bahwa akses berita melalui piranti mobile di Indonesia menduduki peringkat teratas yaitu sebesar 95,4% pengguna internet (Solopos, 2016). Media on-linejugaramai digunakan sebagai sarana bersosialisasi melalui media sosial, seperti Facebook, Twitter, Snapchat, Instagram, Line, BBM dan Whatsapp. Merujuk kembali pada hasil survei APJII tahun 2016, diungkapkan bahwa 97,4% atau 129,2 dari 132,7 juta pengguna internet di Indonesia aktif menggunakan media sosial (Handito, 2016).

Sementara keadaan radio konvensional masih simpang siur di era digital, transformasi sinyal yang semakin canggih dan kombinasinya dengan jaringan internet mampu menghasilkan radio streaming. Berbeda dengan radio konvensional, radio streamingmenghasilkan suara yang lebih baik dan kemungkinan gangguan (noise) yang dialami kecil. Hal ini dikarenakan settingsuara radio streamingyang sudah berstandar Advanced Audio Coding(AAC) (Prasetya, 2016). Dalam perkembangannya, pendengar radio streaming semakin banyak. Dalam dialog iNews TV tahun 2016, diungkapkan bahwa semakin banyak khalayak yang mendengarkan radio melalui website maupun aplikasi secara streaming (Adriyana, 2016).

Di tengah inovasi jaringan internet, televisi merupakan media pertama yang dihadapi oleh radio konvensional. Kehadiran televisi mampu mencuri perhatian masyarakat dengan penyajian audio-visual yang tidak bisa diungguli oleh radio konvensional. Seiring dengan perkembangannya, minat masyarakat terhadap televisi masih tergolong paling tinggi. Hasil survei PT Nielsen Indonesia terhadap sebelas wilayah di Indonesia memaparkan bahwa televisi menempati urutan pertama penetrasi media tahun 2016 (Nielsen Indonesia, 2016).

Perkembangan media yang semakin canggih tentu sangat menguntungkan bagi masyarakat dalam memperoleh informasi. Keberadaan radio konvensional menjadi tanda tanya besar karena ranah digital telah mengubah sebagian besar sisi kehidupan masyarakat. Masyarakat kini lebih sibuk mencari informasi melalui televisi dan media berbasis internet sehingga tidak menganggap radio konvensional sebagai sumber utama informasi. Hasil riset oleh Broadcasting Board of Governors dan Gallup tahun 2015 mengungkapkan bahwa hanya sebelas persen masyarakat Indonesia yang memperoleh informasi melalui radio konvensional. Ditambah lagi dengan merebaknya radio streaming di tengah masyarakat membawa pengaruh yang kurang menguntungkan bagi radio konvensional yang hanya berbasis pada gelombang Frequency Modulation(FM) atau Amplitude Modulation (AM). Hal ini diikuti pula dengan penghapusan fitur radio konvensional pada beberapa perusahaan ponsel yang mengubah produknya menjadi smartphone (Sukma, 2015).

Keadaan radio konvensional yang ditinggalkan pendengarnya menjadi keprihatinan bagi para pecintanya. Di tahun 2015, Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional mengajak masyarakat kota Yogyakarta mendengarkan radio dengan menggelar kampanye “Dengar Radio Jogja” di perempatan Gramedia Kotabaru. Aksi ini mengedukasi masyarakat melalui beragam informasi di radio, mengingat radio kini kalah pamor dengan media berbasis internet dan televisi (Thohari, 2015).

Penurunan jumlah pendengar menjadi fenomena yang mengindikasikan bahwa eksistensi radio konvensional semakin tergerus. Di tengah kemudahan masyarakat dalam menjelajah informasi tanpa batas, radio konvensional malah justru semakin tertinggal. Peran serta radio konvensional dalam aspek-aspek kehidupan masyarakat semakin berkurang seiring dengan kebiasaan-kebiasaan baru masyarakat yang tercipta sebagai imbas dari digitalisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Adriyana, N. (2016). Perubahan radio, dari frekuensi ke internet tak perlu ditakutkan.

Badan Pusat Statistik. (2015). Televisi masih menjadi media favorit masyarakat.

Handito, D. (2016). Awas! medsosmu harimaumu.

Masduki. (2001). Jurnalistik radio menata profesionalisme reporter dan penyiar. Yogyakarta, Indonesia: LkiS Yogyakarta.

Natalia, M. (2014). Jumlah pendengar radio menurun, ini penyebabnya

Nawangwulan, M. (2016). Setengah lebih pengguna internet indonesia di pulau jawa. 

PT Nielsen Indonesia. (2016). Nielsen: jangkauan pendengar radio 38 persen.

Oetama, J. (2001). Pers indonesia: berkomunikasi dalam masyarakat tidak tulus. Jakarta, Indonesia: Buku Kompas.

Prasetya, M. (2016). Radio streaming, babak baru penyiaran radio.

Respati, Wira. (2014). Transformasi media massa menuju era masyarakat informasi di Indonesia, vol. 5, hlm. 39-51.

Solopos. (2016). Hasil survei netizen indonesia akses berita pakai ponsel

Sukma, D. (2015). Kisah fm radio, fitur smartphone yang mulai ditinggalkan. 

Sunarno, H. (n.d.). Strategi komunikasi radio komunitas dalam mempertahankan eksistensinya, hlm. 21-33.

Thohari, H. (2015). Rony ajak warga yogja dengarkan radio. 

Wurinanda, I. (2016). Okezone goes to campus beberkan keunggulan media sosial kepada mahasiswa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x