Mohon tunggu...
Selvy Safitri
Selvy Safitri Mohon Tunggu... Freelancer - A social worker, a sanguine, a cat-tail willow spirit who look for an oak :)

I've always loved the beginnings; the start of a new project, the birth of a new friendship, the first page of a love story.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Menjaga Adat dengan Komitmen (Baduy Identitas Asli Bangsa Indonesia)

3 April 2016   17:23 Diperbarui: 3 April 2016   22:04 87
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

“Handle our life as a bee does a flower, extract its sweetness but do not damage it.”

 

Seperti ada yang menggerakkan, reflek saja kakinya berayun, mungkin saja sudah ribuan langkah ia tempuh. Hari itu amat terik, matahari dengan senang hati menebarkan energi panasnya ke bumi. Laki-laki itu kira-kira berumur 30 tahun, memakai baju mirip kemeja berwarna hitam polos dan bercelana 'gantung' sedikit melebihi lutut, serta memakai ikat kepala dengan corak batik berwarna biru. Gagah sekali ia melangkahkan kaki, dibebani dua keranjang bambu berisi botol-botol yang ia pikul di pundak. Langkahnya terhenti tepat di depan kedai jus dan camilan tempat saya dan teman-teman sedang melepas penat.

"Punten..." sapanya kepada penjual jus.

"Eh si bapak, punten atuh ditunggu sebentar. Saya selesaikan dulu pesanan pelanggan." mba penjual jus langsung menanggapi. 

Saat itu rasa ingin tau saya mulai mencuat, dilihat dari penampilannya yang agak 'berbeda' tentu akan membuat siapapun tertarik ingin tau.

"Bapak darimana?" saya mencoba membuka pembicaraan,

"Eh anu saya dari Baduy Dalam" terangnya.

Saat itu juga pikiran saya langsung terhubung dengan percakapan beberapa hari yang lalu, bersama-sama teman-teman backpacker yang baru saja pulang dari desa Baduy Pedalaman. Pantaslah penampilan 'si bapak' berbeda dan ia tidak memakai alas kaki seperti orang-orang pada umunya, persis seperti cerita dan deskripsi teman-teman tentang suku Baduy Dalam.

Setelah beberapa saat, saya akhirnya terlibat pembicaraan langsung dengan 'si bapak'. Cara berbicara 'si bapak' juga menggunakan bahasa Indonesia, namun lebih banyak dicampur dengan bahasa sunda disertai pula dengan logat sunda yang kental. 

"Neng, madunya mau?" tanya si bapak

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun