Mohon tunggu...
Syadza Gustia Febrina
Syadza Gustia Febrina Mohon Tunggu... HAI apa kabar? selamat membaca.

Mahasiswi Pariwisata penerima program Beasiswa Unggulan KEMENDIKBUD 2017

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Work Hard, Play Harder

16 Februari 2021   16:54 Diperbarui: 16 Februari 2021   17:03 100 5 0 Mohon Tunggu...

Pernahkan teman-teman membaca atau mendengar kalimat “Work Hard, Play Harder”? Kalau sudah pernah, apakah teman-teman semua setuju dengan kalimat tersebut? Kalau untuk saya, jawabannya adalah setuju. 

Dunia kerja adalah dunia -yang kata orang- “dunia yang sesungguhnya.” Seringkali dunia pekerjaan dianggap sangat keras dan para pekerja dituntut harus siap menghadapi realita dari kehidupan. Stigma tersebut berlaku bagi semua profesi tanpa membedakan satu jenis pun. 

Bagaimana tidak, jam kerja yang cenderung dimulai dari pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore itu tentu membuat para pekerja lebih banyak menghabiskan waktu mereka di lingukungan pekerjaan. Sebagian waktu lainnya lebih digunakan para pekerja untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga dirumah, masih sedikit dan jarang untuk bisa bersantai lebih bahkan untuk melakukan me-time.

Pada 2 tahun silam, tepatnya tahun 2019 saya telah merasakan bagaimana “dunia pekerjaan” yang dianggap dunia yang keras ini. Pada kesempatan itu pula merupakan pengalaman pertama bagi saya terjun di dunia kerja. Saya bekerja saat itu di sebuah atraksi/destinasi wisata di Pattaya, Thailand sebagai seorang Trainee Mahasiswa Pariwisata bersama dua orang rekan saya. Walau masih menjadi trainee atau statusnya magang/internship, tapi kami juga melakukan pekerjaan yang sama seperti karyawan lainnya. Kami menjalani internship selama 4 bulan pada Januari-April 2019. 

Saat bekerja pertama kali, saya merasa sangat antusias dan ingin mengetahui banyak hal tentang tempat saya bekerja, terlebih lagi Thailand menjadi lokasi yang baru bagi saya. Sewaktu bekerja kami ditempatkan di 5 divisi atau departemen berbeda yang dipindahkan secara bergantian tiap minggu. 

Tiap divisi memiliki tantangan tersendiri dan berbeda dengan divisi lain. Dalam Pariwisata kami sangat mengedepankan keramahtamahan atau biasa disebut dengan Hospitality kepada para wisatawan. Pentingnya mengaplikasikan sikap ramah tamah benar-benar terasa di lingkungan kerja saya saat itu. Perbedaan bahasa bukanlah penghalang bagi kami untuk tetap bekerja secara profesional dalam memenuhi kepuasan wisatawan. 

Tentu sebagai pekerja baru yang masih mahasiswa saat itu, juga berasal dari negara yang berbeda membuat kami mencari tau dan mempelajari banyak hal dalam sistem kerja terutama bahasa. Saat dimasukkan pertama kali di tiap divisi, kami dijelaskan mengenai sistem kerjanya. Selain itu, kami sering belajar bahasa bersama rekan-rekan kerja kami yang asli warga Thailand.

Lalu selebihnya, kami mengikuti keadaan saat kerja berlangsung, seperti apakah tindakan terbaik yang harus diberikan kepada wisatawan sesuai situasi dan kondisi. Jam kerja kami mengikuti jam buka destinasi wisata yaitu dari pukul 8 pagi hingga 4-5 sore, sama seperti jam kerja kebanyakan yaitu sekitar 8-9 jam dan kami memiliki 1 hari libur atau day-off yaitu di hari Jumat. 

Adaptasi yang kami lakukan di dunia kerja dapat dikatakan sangat baik. Pada awalnya tentu tidaklah mudah bagi kami untuk dapat bekerja di lingkungan baru apalagi berbeda negara yang memiliki bahasa sendiri. Namun, berkat kegigihan, kinerja serta performa yang saya tunjukkan, saya dan teman saya dapat melakukan adaptasi lingkungan dengan baik. Bila kami dalam kesulitan kami tak segan untuk meminta bantuan kepada rekan yang lebih senior dan juga sebaliknya. 

Sistem dan jam kerja yang sudah terbiasa bagi kami membuat saya pribadi mulai nyaman dan semakin semangat dalam bekerja, dan itu semua juga didukung oleh rekan-rekan kerja yang bersikap sangat baik kepada kami serta lokasi kerja yang nyaman. Fakta hebatnya, lokasi kerja kami ini merupakan salah satu yang terbesar dan terkenal di Thailand. 

Setelah mampu beradaptasi saya mulai menyadari bahwa bekerja itu tidaklah mudah. Saya sering terbayangkan bagaimana kedua orangtua saya yang bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga terutama untuk anak-anak tersayangnya. Saat sedang mengurus kebutuhan pribadi, saya juga teringat bagaimana orangtua terutama Ibu yang mengurus seluruh kebutuhan anggota keluarganya. Lelah dan letih tentunya. Ya seperti itu juga yang saya rasakan selepas bekerja, lelah dan letih. Terasa bahwa “mencari uang” dalam hal ini bekerja tidaklah mudah dan butuh banyak usaha. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x