Mohon tunggu...
Sayyidati Hajar
Sayyidati Hajar Mohon Tunggu... Perempuan Timor

Perempuan Timor | Traveller Kampung | Teater | Short Story | Short Movie | Suka Budaya NTT | pos-el: sayyidati.hajar@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Dua Daun Jendela

13 Juni 2019   07:55 Diperbarui: 13 Juni 2019   07:59 0 3 0 Mohon Tunggu...
Cerpen | Dua Daun Jendela
Dokumen Pribadi Sayyidati Hajar

Daun jendela  muda.

Setiap kali pandangan mataku merebah ke luar lewat jendela kamarku, mataku lurus menusuk apa saja yang akan mengahalangi tatapanku pada daun jendela tua di ujung timur rumahku. Posisi jendela itu nampak beruban, karena cat pliturnya tlah kandas ditelan hujan dan panas bergantian. Tak hanya itu, dari kejauhan daun jendela itu seperti menderita farises, karena tampak rayap-rayap senang bercinta pada dindingnya hingga membuat baris-baris jalan. Daun jendela itu lebih sering diam membisu tanpa tawa seperti dulu. Hanya sesekali dalam setahun ama[1] atau ena[2] akan membukanya, itu pun hanya sebentar. Kini ia kehilangan cerianya sejak aku melangkahinya sepuluh tahun yang lalu. Setiap hari aku selalu menyempatkan diri berlama-lama memandang ke arahnya, siapa tahu aku beruntung. Siapa tahu ama dan ena sedang ingin membersihkan kamar itu dan aku dapat melihat wajah tua mereka. Sayang, usia tahun ini sudah hampir penuh, namun daun jendela tua itu tak juga terbuka. Dan senja ini harus tetap kututup dengan kecewa dan doa.

 

***

 

Daun jendela tua.

Sepuluh tahun lalu kutemukan sebuah cincin terbungkus rapi dalam sapu tangan berenda warna biru langit. Saat aku sedang duduk di atas tempat tidur anak gadisku, tiba-tiba terdengar siulan dan tak lama kemudian sapu tangan itu jatuh tepat di bawah jendela kamar. Hari itu aku mulai menyadari bahwa putriku telah menjalin asmara dengan seorang laki-laki, namun sayang aku tak sempat tahu siapa laki-laki itu. Setelah beberapa menit Lina, putriku masuk dengan tergesa-gesa hingga ia sadar aku ada di kamarnya. Pandangan matanya menuju jendela lalu melihat-lihat keluar. Ia mencari sesuatu. Ya, sesuatu yang ada di tanganku. Lama mencari-cari akhirnya anak gadisku itu membalikkan badan, ia kaget melihatku menyulam di atas tempat tidurnya.

" En[3]...," ungkapnya lirih dalam bahasa dawan.

Aku menyadari kecurigaannya tetap khusuk menyulam sambil menunggu apa yang akan dilakukannya. Beberapa lama ia tampak gelisah.  Kedua tangannya sibuk menghardik ujung kebaya merah muda yang ia kenakan. 

" En, ajari saya buat lesu[4],"

" Iya, besok pagi siapkan kain dan benang, nanti ena ajarkan motif  yang sama seperti punya ama".

Sejak hari itu, putriku giat sekali menyulam dan menenun sarung, bahkan menganyam yang biasanya tak bisa ia lakukan pun kini ia lakukan dengan penuh semangat. Banyak buah tangan yang ia hasilkan sejak ia mengenal laki-laki itu.

 

***

 

Pagi itu siulan burung menggema merdu, matahari nampak di ujung timur bebukit. Tetesan embun jatuh malu-malu dari ujung runcing daun cemara. Sementara itu bunyi batu bersahut-sahutan dari rumah-rumah bulat penduduk yang sering  disebut umekbubu. Rumah itu bulat seperti lopo dengan empat tiang penopang dan loteng untuk menyimpan hasil panen yang akan diasapi sepanjang tahun. Atapnya umekbubu terbuat dari rumput alang-alang. Meski bentuknya mirip lopo, atap umekbubu dibiarkan menjuntai satu jengkal di atas tanah dengan satu pintu.

 

Batu sudah bersahut-sahutan sebgai pertanda para ibu dan para gadis sedang membuat jagung titi[5] untuk memasak bubur jagung titi atau nasi jagung. Seperti biasa Lina sudah duduk meluruskan kaki memangku nyiru[6] berisi dua buah batu kali berukuran pelat seperti piring dan berukuran lebih kecil sehingga bisa dipegang dengan satu tangan. Sudah hampir setengah tahun anakku menggantikan aku mengerjakan semua pekerjaan rumah, ia sangat rajin sekarang. Dan aku tahu mengapa ia begitu rajin sekarang, iya aku tahu, karena aku ibunya.

 

Menjelang siang suamiku pulang dengan wajah merah padam. Dari kejauhan ia memanggil-manggil nama putri kami.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6