Satyadhiswara
Satyadhiswara NyuPir AngKot

Tinggal di Bantul. Anak jaman (Jawa-Mandailing) dan pujakesuma (putra Jawa kelahiran Sumatera).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ekspektasi dan Realita, Menerima yang Tak Bisa Diterima

12 Januari 2018   21:38 Diperbarui: 12 Januari 2018   22:26 851 1 0
Ekspektasi dan Realita, Menerima yang Tak Bisa Diterima
Sumber Gambar: livinfocus.com

Apa yang ada pada pikiran memang seringkali tidak sejalan dengan fakta yang sebenarnya terjadi.

Manusia berharap akan begini-begitu; manusia menghayal mengandai-andaikan sesuatu, tapi banyak yang kecewa karena ekspektasinya tidak sesuai dengan realita.

Anehnya, banyak di antara kita yang tak pernah kapok dan terus-menerus mau berharap pada dunia.

Permasalahan kita terhadap realitas --berikut fakta maupun data-- adalah seringkali-nya kita sulit menerima apa yang tak kita harapkan. Apa yang kita inginkan adalah apa yang ada di kepala kita. Tapi bukan dalam arti bahwa segala negatifitas pun kita terima dan kita biarkan begitu saja. Kalau misalnya di depan mata kita ada kebodohan, kriminalitas dan lain sebagainya, tidak mungkin hal itu kita biarkan.

Tuhan memang berkehendak untuk mengadakan apa yang tidak kita inginkan. Fenomena kebodohan, kemiskinan dan lain-lain, itu semua diadakan untuk kita kemudian melakukan suatu perjuangan berdasarkan nilai-nilai dan ketentuanNya. Memang hanya perjuangan. Soal apakah kemudian akan terjadi perubahan atau tidak, itu hakNya. 

Masalahnya, barangkali banyak orang yang kemudian menjadi marah karena perubahan tidak kunjung datang. Di sinilah muncul sikap tidak bisa menerima apa yang tak diinginkan tadi. Marah kepada siapa? Jelas, kepada Tuhan. Mereka berani mengatakan Tuhan telah meninggalkan mereka, Tuhan tidak adil, tidak becus, Tuhan telah mati, dan ocehan-ocehan lain.

Siapapun boleh saja berekspektasi. Siapapun boleh saja menciptakan suatu ideologi, metodologi, atau berbagai cara untuk menyikapi suatu keadaan. Kita memiliki kehendak diskresi sebagai khalifah di bumi, sebagaimana tugas kita di dunia ini. Tapi kita memang harus tahu diri; tahu mana batas kemampuan dan hak kita, juga tahu mana hak Tuhan sebagai Zat Yang Maha Kuasa.

Memang bukan kita yang berkuasa. Bukan kita juga yang menentukan suatu hal. Kebebasan, juga pikiran kita, tak akan mengubah apapun kalau tidak dengan kehendak-Nya. Tapi bukan kita tak berarti sama sekali, karena apa yang kita lakukan juga bisa menjadi perantara kausal atas suatu perubahan, yang lagi-lagi atas kehendakNya.

Pada pokoknya, ekspektasi dan realitas memanglah harus dipahami supaya kita tidak tenggelam dalam harap berlebih-lebihan, apalagi sampai mengkhayalkan sesuatu yang seringkali tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Maksudnya,  siapapun kita, memanglah harus sering-sering memahami kenyataan daripada asyik sekedar mengharap, berimajinasi terhadap suatu hal. Nyatanya, memahami atau membaca realitas pun adalah usaha yang cukup sulit. Tapi kalau berhasil, di situ juga kita akan menemukan sedikit pengetahuan tentang apa mau Tuhan atas terjadinya sesuatu itu.[]