Sosbud Pilihan

Lima Mahasiswa UB Berdayakan "Kampung Idiot" Ponorogo Menjadi Desa Mandiri Pangan

14 Juni 2018   13:45 Diperbarui: 14 Juni 2018   13:55 462 0 0
Lima Mahasiswa UB Berdayakan "Kampung Idiot" Ponorogo Menjadi Desa Mandiri Pangan
(Dok. Pribadi)

Kabupaten Ponorogo dikenal dengan ikon budaya Reog-nya yang mendunia serta potensi pertanian, peternakan dan perkebunan yang cukup tinggi. Namun di balik citra tersebut, Kabupaten Ponorogo merupakan wilayah dengan penyebaran penderita Tuna Grahita atau Down syndrom terbesar di Indonesia.

Penyebaran tersebut ternyata terpusat pada satu titik yaitu di kecamatan Balong tepatnya di Desa Karangpatihan yang memiliki lebih dari 30 penderita tuna grahita. Hal inilah yang membuat desa Karangpatihan dikenal dengan julukan kampung idiot. Disisi lain, Desa Karangpatihan juga memiliki tingkat perekonomian dan pendidikan yang masih cukup rendah.

Kondisi tersebut juga turut menyebabkan kemampuan penyediaan pangan dan gizi bagi masyarakat menjadi sangat kecil. Faktor penting inilah yang menjadi sumber terus lahirnya mata rantai tuna grahita di desa Karangpatihan.

Oleh karena itu, Universitas Brawijaya (UB) melalui lima mahasiswanya yaitu Ramadhana Alyauma Fatihah (FTP-2015), Satriyo Pandunusawan (FTP-2014), Bima Aria Pradana (FTP-2014), Lia Tri Agustin (FTP-2016) dan Orwela Arum Surtanti (FTP-2016), kembali menunjukkan eksistensinya melalui program kreatifitas mahasiswa bidang pengabdian masyarakat (PKM-M) dengan judul INVEST (Integrated Vermicultivation And Aquaponik Trickle Gravel System For Independent Village) : Pengembangan Kampung Idiot Desa Karangpatihan Menjadi Desa Mandiri Pangan Berbasis Zero Waste.

INVEST merupakan salah satu langkah pemberdayaan masyarakat desa Karangpatihan khususnya 30 penderita tuna grahita dengan perpaduan tiga program yaitu budidaya lele, budidaya sayur dan budidaya cacing yang saling terintegrasi membentuk kegiatan berbasis zero waste. Budidaya ikan lele dan sayur sawi dalam aquaponik akan menghasilkan produk organik yang baik untuk kesehatan.

Sementara itu slury yang diperoleh dari limbah aquaponik dimanfaatkan sebagai media hidup dari cacing Lumbricus rubellus. Produk organik dan olahan program tersebut dapat memberikan manfaat yang besar sebagai langkah pemulihan serta untuk memutus mata rantai Tuna Grahita di Desa Karangpatihan.

Berdasarkan kondisi tersebut diharapkan program ini dapat mendorong masyarakat mempunyai kemampuan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi melalui pengembangan subsistem ketersediaan, subsistem distribusi, dan subsistem konsumsi dengan memanfaatkan sumberdaya setempat secara berkelanjutan. Diharapkan program ini juga secara tidak langsung mampu meningkatkan kesejahteraan dan tingkat ekonomi masyarakat tuna grahita.

Tim yang dibimbing langsung oleh Dewi Maya Maharani, STP. MSc ini juga telah mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Ponorogo, Badan Pertanian Kehutanan Kabupaten Ponorogo, Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo dan salah satu Industri Budidaya Pengolahan Cacing Lumbricus rubellusĀ tingkat nasional.

Program ini akan terus dijalankan hingga bulan Juli 2018 mendatang. Bahkan, setelah program ini berjalan tim akan segera menyusun langkah langkah agar kegiatan ini terus berjalan secara mandiri dan berkelanjutan melalui publikasi ilmiah dan kerjasama dengan berbagai pihak.