Mohon tunggu...
Saputra Laksa Armana
Saputra Laksa Armana Mohon Tunggu... Penulis - Sosiolog

Social Analyst

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Mahluk Hidup dan Pasar Ideologi

7 Oktober 2022   23:05 Diperbarui: 8 Oktober 2022   08:30 63 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

            Dalam pemahaman teologis, setiap yang memiliki nyawa atau ruh adalah mahluk yang hidup, dan dalam idenfikasinya mahluk hidup merupakan mahluk yang berakal dan bernafsu. Manusia dapat digolongkan sebagai beyond dalam struktur kemahlukan. Sementara hewan dan tumbuh-tumbuhan adalah objek politis yang dieksploitasi manusia. Oleh sebab demikian, sebagai mahluk yang diciptakan dengan sempurna manusia mempunyai tanggung jawab besar untuk mendistribusikan keadilan dan kemakmuran, tidak hanya antar manusia melainkan juga kepada hewan dan tumbuhan. 

            Adapun dengan akal, distribusi kemakmuran juga distribusi resiko rentan dijadikan manifesto pada play stage  (pangung depan) untuk mengelabui tindakan dan gerakan beck stage (panggung belakang). Sandiwara tersebut bergantung pada paham ideologi apa yang dijadikan landasan refrensi.

            Hasil dari banyak perdebatan, "Negara yang berideologi merupakan Negara yang fasis". Fasis dalam definisi yang sederhana adalah penganut fasisme. Dan secara sederhana fasisme merupakan suatu prinsip atau paham suatu kelompok atau golongan "nasionalis ekstrem" yang berorientasi pada authoritarian. Sementara ideologi dalam definisi yang fimilier adalah suatu gagasan atau suatu ide. Lebih lanjut, akhir abad ke-18 Antoni Destutt Tracy mendefinisikan ideologi sebagai ilmu mengenai ide yang dianggap sebagai visi yang komprehensif  serta dijadikan untuk memandang segala sesuatu.

            Ideologi menjadi suatu buah pikiran yang bersifat abstrak yang di implementasikan dalam masalah publik, kemudian produk ini dijadikan sebagai  inti politik. Secara implisit, dari setiap buah pikiran yang politis selalu include kedalam sebuah ideologi. Kendati tidak di tempatkan secara eksplisit dalam sistem berfikir. Artinya, sebuah kebijakan memiliki unsur politis yang dilatar-belakangi dengan pemahaman ideologi yang dianut sang pembuat kebijakan.

            Suatu kebijakan dapat dikatakan sebagai sesuatu yang bijak bilamana dapat menjangkau keadilan bagi semua mahluk. Misalnya, kebijakan ataupun aturan-aturan yang mampu memberikan keutamaan bagi keanekaragaman semua mahluk. Penulis bukan mau menyamakan diri dengan hewan ataupun tumbuhan, melainkan setiap mahluk memiliki hak yang perlu dilindungi dan di konservasi.

            Dewasa ini, kemajuan pradaban begitu pesat yang mempermudah manusia mengakses apapun dan terakses oleh siapapun. Sehingga tidak menutup kemungkinan banyak pemahaman-pemahaman dari ideologi kiri maupun ideologi kanan yang tidak terfilter dikonsumsi secara bebas. Pemahaman ideologi ini merasuk ke koran-koran, televisi, radio, media sosial, majalah-majalah khusus politik, ekonomi dan sosiologi, bahkan juga merasuk ke dalam perdebatan-perdebatan publik. Bukan lantaran ideologi-ideologi tersebut tidak baik, akan tetapi penempatan dan penggunaan suatu ideologi memiliki barometer dengan nilai-nilai kebudayaan, sikap, dan perilaku dari suatu daerah.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan